Kisah KKN Di Desa Penari Versi Lengkap

Cerita ini bermula dari cuitan thread di akun twitter @SimpleM81378523 , Sekitar 2 (dua) bulan yang lalu, mengenai kisah KKN di Desa Penari, hingga akhirnya jadi viral sampai sekarang

KKN 2KKN

Berikut adalah thread dari beliau  yang telah disusun secara keseluruhan, ada 2 versi  yakni versi Widya dan Nur, keduanya akan saya share …

Berikut adalah kisahnya (Versi Widya):

Malam ini, gw akan bercerita sebuah cerita dari seseorang, yang menurut gw spesial. kenapa? karena gw sedikit gak yakin bakal bisa menceritakan setiap detail apa yang beliau alami,
Sebuah cerita tentang pengalaman beliau selama KKN, di sebuah desa penari.

Sebelum gw memulai semuanya. gw sedikit mau menyampaikan beberapa hal.
sebelumnya, penulis tidak mendapat ijin untuk memposting cerita ini dari yang empunya cerita, karena beliau memiliki ketakutan sendiri pada beberapa hal, yang meliputi kampus, dan desa tempat KKN di adakan.

tetapi, karena penulis berpikir bahwa cerita ini memiliki banyak pelajaran yang mungkin bisa dipetik terlepas dari pengalaman sang pemilik cerita akhirnya, kami sepakat, bahwa, semua yang berhubungan dengan cerita ini, meliputi nama kampus, fakultas, Desa dan latar cerita,

akan sangat di rahasiakan.

jadi buat teman-teman yang membaca cerita ini, yang mungkin tahu, atau merasa familiar dengan beberapa tempat yang meski di samarkan ini, di mohon, untuk diam saja, atau merahasiakan semuanya, karena ini sudah menjadi janji penulis dan pemilik cerita.

tahun 2009 akhir,

semua anak angkatan 2005/06 sudah hampir merampungkan persyaratan untuk mengikuti KKN yang di lakukan dibeberapa desa sebagai syarat lanjutan untuk tugas skripsi.

dari semua wajah antusias itu di kampus, terlihat satu orang tampak menyendiri.

Widya, begitu anak-anak lain memanggilnya

ia tampak begitu gugup, menyepi, menyendiri, sampai panggilan telepon itu membuyarkan lamunanya.

“aku wes oleh nggon KKN ‘e” (aku sudah dapat tempat untuk KKN) kata di ujung telpon.

wajah muram itu, berubah menjadi senyuman penuh harap

“nang ndi?” (dimana?)

“nang kota B, gok deso kabupaten K***li** , akeh proker, tak jamin, nggone cocok gawe KKN” (di kota B, disebuah desa di kabupaten K*******, banyak proker untuk di kerjakan, tempatnya cocok untuk KKN kita)

saat itu juga, Widya segera mengajukan prop KKN

semua persyaratan sudah terpenuhi, kecuali kelengkapan anggota dalam setiap kelompok minimal harus melibatkan 2 fakultas berbeda pun dengan anggota minimal 6 orang.

“tenang” kata Ayu, perempuan yang tempo hari memberi kabar tempat KKN yang ia observasi bersama abangnya.

benar saja, tidak beberapa lama, muncul Bima dengan Nur, ia menyampaikan, kelengkapan anggota 6 orang yang melibatkan 2 fakultas sudah di setujui.

“sopo sing gabung Nur?” (siapa yang sudah gabung Nur?) tanya Ayu,

“temenku. kating, 2 angkatan di atas kita, satunya lagi, temanya”

lega sudah. batin Widya.

surat keputusan KKN sudah disetujui semuanya, terdiri dari 2 fakultas dengan proker kelompok dan individu, untuk pengabdian di masyarakat yang akan di adakan kurang lebih sekitar 6 minggu.

hanya tinggal menunggu, pembekalan sebelum keberangkatan.

jauh hari sebelum malam pembekalan, Widya berpamitan kepada orangtuanya tentang progress KKN yang wajib ia tempuh, keika orangtua Widya bertanya kemana Projek KKN mereka, terlihat wajah tidak suka dari raut ibunya.

“gak onok nggon liyo, lapo kudu gok Kota B,” (apa gak ada tempat

-lain, kenapa harus kota B) wajah ibunya menegang. “nggok kunu nggone Alas tok, ra umum di nggoni gawe menungso” (disana tempatnya bukanya hutan semua, tidak bagus ditinggali oleh manusia)

namun setelah Widya menejelaskan, bahwa sebelumnya sudah dilakukan observasi,-

wajah ibunya melunak.

“Perasaane ibuk gak enak, opo gak isok di undur setahun maneh” (perasaan ibu gak enak, apa tidak bisa di undur satu tahun lagi)

Widya enggan melakukanya, maka, meski berat, kedua orangtuanya pun terpaksa menyetujuinya.

hari pembekalan sebelum keberangkatan.

Widya, Ayu, Bima dan Nur, matanya melihat ke sekeliling, khawatir, 2 orang yang seharusnya ikut pembekalan belum juga terlihat batang hidungnya, sampai, menjelang siang, 2 orang muncul, menyapa dan memperkenalkan dirinya di depan mereka.

Wahyu dan Anton.

setelah basa basi, bertanya seputar rencana KKN dari A sampai Z selesai, mereka akhirnya berangkat.

“Numpak opo dik kene??” (naik apa kita nanti?) kata Wahyu.

“Elf mas” jawab Nur.

“sampe deso’ne numpak Elf dik?” (sampai desanya naik mobil Elf dik?)

“mboten mas. berhenti di jalur Alas D engken enten sing jemput” (tidak mas, nanti berhenti di jalur hutan D, nanti ada yang jemput) sahut Nur.

mendengar itu, Widya bertanya ke Ayu. “Yu, Deso’ne ra isok di liwati Mobil ta?” (Yu, apa desanya gak bisa di masuki mobil”

Ayu hanya menggelengkan kepala. “ra isok, tapi cedek kok tekan dalan gede, 45 menit palingan” (gak bisa, tapi dekat kok dari jalan besar, 45 menit kemungkinan)

disinilah. cerita ini di mulai.

sesuai apa yang Nur katakan. Mobil berhenti di jalur masuk hutan D, menempuh perjalanan 4 sampai 5 jam dari kota S, tanpa terasa hari sudah mulai petang, di tambah area dekat dengan hutan, membuat pandangan mata terbatas, belum sampai disana, gerimis mulai turun. lengkap sudah.

setelah menunggu hampir setengah jam, terlihat dari jauh, cahaya mendekat, Nur dan Ayu langsung mengatakan bahwa mereka yang akan mengantar.

rupanya, yang mengantar adalah 6 lelaki paruh baya, dengan motor butut.

“cuk. sepedaan tah” kata Wahyu, spontan, saat itu ada yang aneh

entah disengaja atau tidak, ucapan yang di anggap biasa di kota S, di tanggapi lain oleh lelaki-lelaki itu, wajahnya tampak tidak suka, dan sinis tajam melihat wahyu.

hanya saja, yang memperhatikan semua sedetail itu, hanya Widya seorang. apapun itu, semoga bukan hal yang buruk.

ditengah gerimis, jalanan berlumpur, pohon di samping kanan kiri, mereka tempuh dengan suara motor yang seperti sudah mau ngadat saja, ditambah medan tanah naik turun, membuat Widya berpikir kembali

sudah hampir satu jam lebih, tapi motor masih berjalan lebih jauh ke dalam hutan

khawatir bahwa yang di maksud Ayu, setengah jam lewat 15 menit adalah setengah hari, Widya mulai berharap semua ini cepat selesai.

di tengah perjalanan, tidak satupun dari pengendara motor itu yang mengajaknya bicara, aneh. apa semua warga disana pendiam semua.

Malam semakin gelap, dan hutan semakin sunyi sepi, namun, kata orang, dimana sunyi dan sepi di temui, disana, rahasia di jaga rapat-rapat.

kini, rasa menyesal sempat terpikir di pikiran Widya, apakah ia siap, menghabiskan 6 minggu ke depan, di sebuah Desa, jauh di dalam hutan.

ketika suara motor memecah suara rintik gerimis, dari jauh, sayup-sayup, terdengar sebuah suara.

suara familiar, dengan tabuhan kendang dan gong, di ikuti suara kenong, kompyang, mebaur menjadi alunan suara gamelan.

apa ada yang sedang mengadakan hajatan di dekat sini.

dan ketika sayup-sayup suara itu perlahan menghilang, terlihat gapura kayu, menyambut mereka.

sampailah mereka di Desa W****, tempat mereka akan mengabdikan diri selama 6 minggu ke depan.

“Monggo” (permisi) kata lelaki itu, sebelum meninggalkan Widya dengan motornya.

“mrene rek” teriak Ayu, di sampingnya berdiri seorang pria, wajahnya tenang, dengan kumis tebal, mengenakan kemeja batik khas ketimuran, ia berdiri seolah sudah menunggu sedari tadi.

“kenalno, niki pak Prabu. kepala Desanya. koncone mas’ku. pak Prabu, niki rencang kulo yang dari Kota S, mau melaksanakan kegiatan KKN di kampung panjenengan” (Kenalkan, ini pak Prabu, kepala Desa teman kakakku, pak Prabu, ini teman saya yang dari kota, yang rencananya mau KKN”

pak Prabu memperkenalkan diri, bercerita tentang sejarah desanya, di tengah ia bercerita, Widya pun bertanya kenapa desanya harus sepelosok ini, dengan tawa sumringah, pak Prabu menjawab.

“pelosok yok nopo toh mbak, Jarak ke dalan gede cuma setengah jam kok”
(pelosok bagaimana-

maksudnya mbak, bukanya jarak ke jalan besar hanya 30 menit)

tatapan bingung Widya, disambut tatapan bertanya oleh semua temanya, seolah pertanyaanya kok membingungkan.

“mbak’e paling pegel, wes, tak anter nang ndi sedoyo bakal tinggal” (mbaknya mungkin capek, jadi, mari, tak-

antar ke tempat dimana nanti kalian tinggal)

di tengah kebingungan itu, Ayu menegur Widya. “maksudmu opo to Wid, takon koyok ngunu? garai sungkan ae” (maksudnya bagaimana tah Wid, kok kamu tanya seperti itu, buat saya sungkan saja kamu)

di situ, Widya menyadari, ada yang salah.

tempat menginap untuk laki-laki adalah rumah gubuk yang dulunya seringkali dipakai untuk posyandu, tapi sudah di rubah sedemikian rupa, meski beralaskan tanah, tapi di dalamnya sudah ada bayang (Ranjang tidur) beralasakan tikar.

sedangkan untuk perempuan, menginap di salah satu-

rumah warga.

di dalam kamar, Widya pun bertanya, maksud ucapanya kepada pak Prabu, karena sepanjang perjalanan, bila di rasakan oleh Widya sendiri, itu lebih dari satu jam, Ayu membantah bahwa lama perjalanan tidak sampai selama itu, anehnya, Nur memilih tidak ikut berdebad.

Nur, lebih memilih untuk diam.

“ngene, awakmu krungu ora, nang dalan alas mau, onok suara gamelan?” (gini, kamu dengar apa tidak , di jalan tadi, ada suara orang memainkan gamelan?)

“yo paling onok hajatan lah, opo maneh” (ya palingan ada warga yang mengadakan hajatan, apalagi)

berbeda dengan Ayu,-

Nur, menatap Widya dengan ngeri.

sembari berbicara lirih, Nur yang seharusnya paling ceria di antara mereka berkata. “Mbak, ra onok Deso maneh nang kene, gak mungkin nek onok hajatan, nek jare wong biyen, krungu gamelan nang nggon kene, iku pertanda elek”

(Mbak, tidak mungkin ada desa lain disini, tidak mungkin ada acara di dekat sini, kalau kata orang jaman dulu, kalau dengar suara gamelan, itu pertanda buruk)

mendengar itu, Ayu tersulut dan langsung menuding Nur sudah ngomong yang tidak-tidak.

“Nur, ra usah ngomong aneh-aneh kui, awakmu yo melok observasi nang kene ambek aku, mosok gorong sedino wes ngomong ra masuk akal ngunu” (Nur, jangan ngomong sembarangan kamu-

bukanya kamu ikut observasi di kampung ini sama aku, belum sehari kamu sudah ngomong ha; yang gak masuk akal begini)

Ayu pergi, meninggalkan Widya dengan Nur.

saat itu, Nur mengatakanya. “Mbak, aku yo krungu suara gamelan iku” (Mbak, aku juga dengar suara gamelan itu) katanya.

“masalahe mbak, aku yo ndelok onok penari’ne nang dalan mau” (masalahnya, aku juga lihat ada yang menari di jalan tadi)

“Astaghfirullah” kata Widya tidak percaya.

Nur menatap nanar Widya, air matanya sudah seperti memaksa keluar, Widya hanya memeluk dan mencoba menenangkanya.

benar kata ibunya tempo hari.

“Banyu semilir mlayu nang etan,” (air selalu mengalir ke arah timur) yang memiliki makna, bahwa timur adalah tempat dimana semua di kumpulkan menjadi satu, antara yang buruk dan yang paling buruk, dan kini, Widya harus tinggal di hutan paling timur

Cerita tentang Nur dan Widya tentang suara gamelan di sepanjang perjalanan tadi, masih awalnya saja, ibarat sebuah kopi masih sampai di rasa yang paling manis, belum sampai di rasa yang paling pahit.

Widya memang percaya terhadap hal-hal yang ghaib, itu ada di dalam ajaran agamanya, namun baru kali ini ia merasakan langsung pengalaman itu, meski hanya sekedar suara, berbeda dengan Nur, temanya, ia mengaku melihat yang tidak seharusnya ia lihat.

mungkin Nur lebih sensitif.

memang, sejak awal, Nur yang paling berbeda di antara yang lain, hanya dia seorang yang mengenakan jilbab, dibandingkan dengan Ayu dan dirinya sendiri, Nur yang paling religius, karena setahu Widya sendiri, Nur jebolan pondok pesantren ternama di kota “J”.
terlepas dari itu semua, pengalaman KKN ini, tidak akan pernah di lupakan oleh semua rombongan ini.

“Nur,” kata Widya masih menenangkan “Nur bisa ndak, cerita ini ojok sampe nyebar yo gok arek2, kan gak enak, nek sampe kerungu ambi warga deso, opo maneh kita disini iku tamu, insyaallah, kabeh lancar, nggih”

(Nur, bisa gak cerita ini jangan sampai menyebar ke teman-teman)

(kan jadi gak enak, kalau sampai warga desa dengar, apalagi kita disini itu sebagai tamu, insyaallah, semua akan baik-baik saja. ya)

Nur mengangguk, meski enggan menjawab kalimat Widya, dan malam itu, tanpa terasa di lewati begitu saja.

keesokan harinya, rombongan sudah berkumpul, sesuai janji pak Prabu, hari ini, akan keliling desa, melihat semua proker yang sudah di ajukan oleh Ayu tempo hari, sekaligus, meminta saran untuk Proker individu yang harus di kerjakan oleh satu anak sendiri-sendiri.

“ngene iki, walaupun saya tinggal nang kene, aku yo pernah kuliah loh dek, sarjana lagi” kata pak Prabu, bahasanya medok, campur-campur antara bahasa jawa dan bahasa indonesia,

mendengar itu, Wahyu menimpali. “iku lo, rungokno bapak’e, walaupun wong deso, gak lali kuliah”

(itu loh, dengarkan bapaknya, walaupun rumahnya di desa, tidak lupa kuliah)

Wahyu melanjutkan. “bapake ambil apa dulu? perhutanan ya?”

“bukan” kata beliau santai. “pertanian”

“Lah ra onok sawah nang kene, piye toh pak” (lah, disini gak ada sawah, gimana sih pak?)

“ya, memangnya sampeyan pikir hanya karena ambil pertanian harus terjun ke sawah”

jawaban pak Prabu sontak membuat tawa pecah, Widya melirik Nur, dia sudah bisa ceria lagi, melupakan sejenak kejadian semalam.

sampailah, mereka di pemberhentian pertama. sebuah pemakaman desa.

aneh.

itu yang pertama kali di pikirkan Widya, atau mungkin serombongan orang. di setiap Nisan, di tutup oleh kain hitam.

pemakamanya sendiri, di kelilingi pohon beringin, dan di setiap pohon beringin, ada batu besar di sampingnya, disana, ada lengkap, sesajen di depanya.

Nur yang tadi ikut tertawa, tiba-tiba menjadi diam. ia menundukkan kepalanya, seolah tidak mau melihat sesuatu. pagi, itu tiba-tiba terasa gelap di dalam pikiran Widya.

“ngapunten pak, niki nopo nggih kok” (mohon maaf pak, ini kenapa ya kok)

belum selesai Widya bicara, pak Prabu memotongnya

“saya tau, apa yang adik mau katakan, pasti mau tanya, kok patek (nisan) nya, di tutupi pakai kain, gitu to?”

Widya mengangguk. rombongan menatap serius pak Prabu, terkecuali Wahyu dan Anton, terdengar mereka sayup tertawa kecil

“ini itu namanya, Sangkarso. kepercayaan orang sini. jadi biar tahu, kalau ini loh pemakaman” terang pak Prabu, yang jawabanya sama sekali tidak membuat serombongan anak puas, sampai-sampai Wahyu dan Anton walaupun pelan sengaja menyindir. namun pak Prabu bisa mendengarnya.

“wong pekok yo isok mbedakno kuburan karo lapangan pak” (orang bodoh juga bisa membedakan kuburan dan lapangan bola pak)

pak Prabu yang awalnya tersenyum penuh dengan candaan, tiba-tiba diam, raut wajahnya berubah dan tak tertebak.

“semoga saja, kalain tahu yang di omongkan ya”

kalimat pak Prabu seperti penekanan yang mengancam, setidaknya itu yang Widya rasakan, sontak, Bima langsung merespon dengan meminta maaf, namun Wahyu dan Anton memilih diam setelah mendengar respon pak Prabu.

“mongo pak, bisa lanjut ke tempat selanjutnya”

tempat berikutnya adalah Sinden (Kolam, tempat air keluar dari tanah) pak Prabu mengatakan bahwa Sinden ini bisa di jadikan Proker paling menjanjikan, tidak jauh darisana ada sungai, inginya pak Prabu, Sinden dan sungai bisa di hubungkan, jadi semcam jalan air.

tanpa terasa, hari sudah siang.

Ayu dan Widya sudah memetakan semua yang pak Prabu tunjukkan, memberinya sampel warna merah sampai biru, dari yang paling di utamakan sampai yang paling akhir di kerjakan.

namun, tetap saja. selama perjalanan, Widya banyak menemukan keganjilan.

keganjilan yang paling mencolok adalah, tidak satu atau dua kali, namun berkali-kali, ia melihat banyak sesajen yang di letakkan di atas tempeh, lengkap dengan bunga dan makanan yang di letakkan disana, di tambah bau kemenyan, membuat Widya tidak tenang.

setiap kali mau bertanya, hati kecilnya selalu mengatakan bahwa itu bukan hal yang bagus.

Nur, setelah dari Sinden, ia ijin kembali ke rumah, karena badanya tidak enak, dengan sukarela Bima yang mengantarkanya, jadi, observasi hanya di lakukan oleh 4 orang saja.

kemudian, sampailah di titik paling menakutkan

“Tipak talas” kalau kata pak Prabu. sebuah batas dimana rombongan anak-anak di larang keras melintasi sebuah setapak jalan yang di buat serampangan, di kiri kanan, ada kain merah lengkap di ikat oleh janur kuning layaknya pernikahan

“kenapa tidak boleh pak?” tanya Ayu penasaran.

pak Prabu diam lama, seperti sudah mempersiapkan jawaban namun ia enggan mengatakanya.

“iku ngunu Alas D****** , gak onok opo-opo’ne, wedine, nek sampeyan niki nekat, kalau hilang, lalu tersesat bagaimana?”

(itu adalah hutan belantara, gak ada apa-apanya, hanya mempertimbangkan, takutnya kalau kalian kesana, hilang, tersesat, lalu bagaimana?)

sekali lagi, jawaban itu cukup membuat Widya yakin itu bukan yang sebenarnya. namun, perasaan merinding melihat jalanan setapak itu, nyata.

Lanjut gak??

jadi cuma ngasih tau. cerita ini sangat panjang, karena gw harus menulis sedetail mungkin setiap kejadian selama 6 minggu itu. gw gak mau kehilangan setiap detail pengalaman si pencerita.

btw, waktu denger ini, gw itu lemes tiap ingat waktu di ceritain lebaran lalu

observasi berakhir ketika pak Prabu mengantar rombongan kembali ke rumah beliau.

ketika kembali, Wahyu dan Anton bertanya, dimana kamar mandi, ia tidak menemukan tempat itu di tempat mereka menginap, rupanya, setiap rumah di desa ini tidak ada satupun yang punya kamar mandi.

alasan kenapa tidak ada satupun rumah yang memiliki kamar mandi adalah karena sulitnya akses air.

tapi, pak Prabu menjelaskan, di bagian selatan Sinden, samping sungai, ada sebuah bilik dengan kendi besar di dalamnya, disana, bisa di gunakan untuk mandi.

tidak berhenti di situ, pak Prabu mengatakan bahwa, mulai hari ini, kendi di dalam bilik akan di usahakan selalu terisi penuh, terutama untuk mandi anak-anak perempuan.

untuk laki-laki, bisa mengisi air di kendi dengan cara menimba air dari sungai.

semua anak tampak paham, meski muka Wahyu dan Anton tampak keberatan, namun mereka tidak dapat melakukan apa-apa.

sekembalinya ke penginapan, Widya melihat Nur tengah tidur, hari itu di akhiri dengan rapat dengan semua anak, lalu kembali ke kamar untuk mengerjakan laporan.

Sore menjalang malam.

Nur sudah bangun, saat itu juga, Widya memintanya untuk mengantarkan dirinya pergi ke kamar mandi di bilik samping Sinden, awalnya Nur tampak tidak mau, tapi karena di paksa, kahirnya ia pun ikut dengan catatan, Nur adalah yang pertama masuk bilik.

Widya setuju. ia gak berpikir aneh-aneh.

selama perjalanan, ia melihat setiap rumah yang di lewati, rata-rata sama, semua rumah tepan (tembok di depan) kiri-kanan dari gedek (bambu dianyam), langit sudah merah, dan setelah menempuh jarak lumayan, akhirnya mereka sampai di Sinden

bangunan Sinden itu menyerupai candi kecil, bedanya, kolamnya persegi 4 dengan air yang jernih tapi berlumut, setelah mencari-cari dari Sinden, ketemulah Bilik itu tepat di samping pohon Asem, yang besar sekali, rindang, tapi mengerikan.

sempet ragu, tapi Widya bilang lanjut.

rupanya benar, ada kendi besar di dalam bilik itu.

air juga sudah penuh di dalam kendi, Nur pun masuk, sementara Widya menunggu di depan bilik, matanya tidak bisa melepaskan diri dari bangunan Sinden yang entah kenapa seolah menarik perhatianya, di sampingnya, ada sesajen itu.

dari dalam bilik, terdengar suara air bilasan dari Nur, setelah mencoba mengalihkan perhatian dari Sinden, Widya baru sadar, ada aroma kemenyan di dekat tempatnya berdiri, di telusurilah wewangian itu, benar saja, di samping pohon asem itu pun ada sesajenya.

yang lebih parah, bara dari kemenyan baru saja di bakar.

antara takut dan kaget, Widya kembali ke pintu bilik, dan dari dalam, sudah tidak terdengar suara air bilasan.

“Nur” “Nur” teriak Widya sembari menggedor pintu kayu, anehnya, hening, tidak ada jawaban dari dalam.

masih berusaha memanggil, terdengar sayup suara lirih, lirih sekali sampai Widya harus menempelkan telinganya di pintu bilik.

suara orang sedang berkidung.

kidungnya sendiri menyerupai kidung jawa, suaranya sangat lembut, lembut sekali seperti seorang biduan.

“Nur. bukak Nur!! bukak” spontan Widya menggedor pintu dengan keras, dan ketika pintu terbuka, Nur melihat Widya dengan ekspresi wajah panik

“nyapo to, Wid?” (kanapa sih Wid?)

ekspresi ganjil Widya membuat Nur kebingungan, terlebih mimik wajahnya mencuri pandang bag dalam bilik

“ayo ndang adus, gantian, aku sing gok jobo” (ayo cepat mandi, ganti biar aku yang jaga di luar)

kaget, Widya sudah ragu, melihat samping Bilik ada sesajen, Widya tidak tau apa harus cerita ke Nur soal itu, namun dengan ragu, Widya akhirnya bergegas masuk bilik, menutup pintu.

bagian dalam bilik sangat lembab, kayu bagian dalamnya sudah berlumut hitam, di depanya ada kendi besar, setengah airnya sudah terpakai, meraih gayung yang terbuat dari batok kelapa dengan gagang kayu jati yang di ikat dengan sulur, Widya mulai membuka bajunya perlahan.

masih terbayang nyanyian kidung tadi, Widya mencuri pandang, ia tidak sendiri

suasananya seperti ada sosok yg melihat dan mengamatinya, dari ujung rambut hingga ujung kaki, sosok itu seperti wajah seorang wanita nan cantik jelita, masalahnya, Widya tidak tau siapa pemilik wajah

ia berdiri di depan kendi, bajunya sudah tertanggal, meraih air pertama yang membasuh badanya, Widya merasakan dingin air itu membilas badanya.

sunyi, sepi, Nur tidak bersuara di luar bilik, memberikan sensasi kesendirian yang membuat bulukuduk merinding.

setiap siraman air di kepalanya, membuat Widya memejamkan matanya dan setiap ia memejamkan mata, terbayang wajah cantik nan jelita itu sedang tersenyum memandanginya.

siapa pemilik wajah cantik itu?

kemudian, kidung itu terdengar lagi, Widya berbalik, mengamati,

suaranya, dari luar bilik. tempat Nur berdiri seorang diri.

apakah Nur yang sedang berkidung?

pertanyaan itu, menancap keras di kepala Widya.

usai sudah acara mandi di sore itu, di perjalanan pulang, Widya mencuri pandang pada Nur, matanya mengawasi, seakan tidak percaya, kemudian ia bertanya.

“Nur, awakmu isok kidung jawa ya?” (Nur, kamu bisa bersenandung lagu jawa ya?)

Nur mengamati Widya, kemudian, ia diam.

Nur pergi tanpa menjawab sepatah katapun dari pertanyaan Widya. ia seperti membawa rahasianya sendiri, tanpa mau membagi rahasia itu.

Listrik di desa ini menggunakan tenaga Genset, jadi ketika jam menunjukkan pukul 9, lampu sudah mati, di ganti dengan petromak, Nur sudah pergi tidur, hanya tinggal Widya dan Ayu yang masih menyelesaikan progres untuk Proker esok hari.

Widya masih teringat kejadian sore tadi.

sebenarnya Widya mau cerita, namun bila melihat respon Ayu kemarin, sepertinya ia bakal di semprot dan berujung pada pidato tengah malam.

di tengah keheningan mereka menggarap progres, tiba-tiba Ayu mengatakan sesuatu yang membuat Widya tertarik.

“mau aku ambek Bima, ngecek progres gawe pembuangan, pas muter deso, iling gak ambek Tapak talas, tibakne, gak adoh tekan kunu, onok omah sanggar” (tadi aku sama Bima, mengecek progres untuk pembuangan, ketika memutari desa, ingat tidak sama Tapak Tilas, ternyata, gak jauh-

-darisana, ada sebuah bangunan tua menyerupai sanggar)

Widya terdiam beberapa saat, memproses kalimat Ayu

“Loh, awakmu kan wes reti nek gak oleh mrunu!!” (Loh, bukanya kamu sudah mengerti dilarang berada disana)

“guguk aku” (bukan aku) bela Ayu, iku ngunu Bima sing ngajak.

(jadi yang mengajak awalnya si Bima) jarene, onok wedon ayu mlaku mrunu, pas di tut’i, ra onok tibak ne (katanya ada perempuan cantik, pas di ikuti ternyata gak ada)

“lah trus, awakmu tetep ae mrunu!!” (lah terus kamu tetap kesana)

“cah iki, yo kan aku ngejar Bima, opo di umbarke ae cah kui ngilang!!” (anak ini, kan saya mengejar Bima, apa di biarkan saja anak itu nanti hilang)

perdebadan mereka berhenti sampai disana, namun perasaan itu.

Widya merasa perasaanya semakin tidak enak. sejak menginjak desa ini, semuanya terasa seperti kacau balau.

karena malam semakin larut, Widya pun beranjak pergi ke kamar, disana ia melihat Nur, sudah terlelap dalam tidurnya. Ayu pun menyusul kemudian, berharap malam ini segera berlalu,

tiba-tiba terdengar langkah kaki saat Widya melihat apa yang terjadi, bayangan Nur melangkah keluar

ragu apakah mau membangunkan Ayu, Widya pun beranjak dari tempatnya tidur, berjalan, mengejar Nur.

rumah sudah gelap gulita, sang pemilik rumah tampaknya sudah terlelap di dalam kamarnya, di depan Widya, pintu rumah sudah terbuka lebar, dengan perlahan, Widya melangkah kesana.

Malam itu sangat gelap, lebih gelap dari perkiraan Widya, bayangan pohon tampak lebih besar dari biasanya, dan sayup-sayup terdengar suara binatang malam, sangat sunyi, sangat sepi, di lihatnya kesana-kemari mencari dimana keberadaan Nur, Widya terpaku melihat Nur, di depanya

Nur berdiri di tanah lapang depan rumah, dia menari dengan sangat anggun, tanpa alas kaki, Nur berlenggak-lenggok layaknya penari profesional.

Widya, termengu mematung melihat temanya seperti itu. ragu, Widya mendekatinya. tak pernah terfikirkan Nur bisa menari seperti ini.

“Nur” panggil Widya, tapi sosok Nur seperti tidak mendengarkanya, ia masih berlenggak lenggok, sorot matanya beberapa kali melirik Widya, ngeri, tiba-tiba bulukuduk terasa berdiri ketika memandangnya.

dari jauh, sayup sayup, kendang terdengar lagi, Widya semakin di buat takut,

tabuhan gamelan sahut menyahut, campur aduk dengan tarian Nur yang seperti mengikuti alunan itu.

kaki seperti ingin lari dan melangkah masuk rumah, tapi Nur semakin menggila, ia masih menari dengan senyuman ganjil di bibirnya.

sampai akhirnya Widya memaksa Nur menghentikan tarianya, ia berteriak meminta temanya agar berhenti bersikap aneh, dan saat itulah, wajah Nur berubah menjadi wajah yang sangat menakutkan.

sorot matanya tajam, dengan mata nyaris hitam semua. Widya menjerit sejadi-jadinya.

kali berikutnya, seseorang memegang Widya kuat sekali, menggoyangkanya sembari memanggil namanya.

Wahyu.

Widya melihat Wahyu yang menatapnya dengan tatapan bingung plus takut.

“bengi bengi lapo As* nari-nari gak jelas nang kene!!” (malam-malam ngapain anji*g!! nari sendirian-

disini seorang diri)

jeritan Widya rupanya membangunkan semua orang, termasuk si pemilik rumah, Widya melihat sorot mata semua orang memandangnya, tak terkecuali Nur yang rupanya baru saja keluar dari dalam rumah.

“onok opo to ndok?” (ada apa sih nak?) kalimat itu lah yang pertama kali Widya dengar, si pemilik rumah tampak khawatir, namun Widya lebih tertuju pada Nur, ia juga memandang dirinya, mereka sama-sama termangu memandang satu sama lain.

kejadian itu, diakhiri dengan cerita Wahyu

Wahyu menceritakan semuanya, awalnya ia hanya ingin menghisap rokok sembari duduk di teras posyandu, kemudian ia tidak sengaja melihat seseorang, sendirian, menari-nari di tanah lapang, karena penasaran, wahyu mendekat, sampai Wahyu baru sadar bila yang menari itu adalah Widya.

semua yang mendengarkan cerita Wahyu hanya bisa menatap nanar, tidak ada yang berkomentar, si pemilik rumah akhirnya menyuruh mereka semua bubar dan masuk ke dalam rumah lagi, karena hari semakin larut.

si pemilk rumah, berjanji akan menceritakan ini kepada pak Prabu.

namun ada satu hal, yang sengaja Wahyu tidak ceritakan, nanti, ia akan menjelaskan semuanya.

namun malam itu, benar-benar Malam yang gila, seolah-olah menjadi pembuka rangkaian kejadian yang akan mereka hadapi di sela tugas KKN mereka ke dalam situasi yang paling serius.

semua orang sudah berkumpul, memenuhi panggilan pak Prabu, beliau bertanya tentang bagaimana kronologi kejadian, Ayu mengaku tidak tahu, Widya mengatakan ia sedang mengejar Nur yang pergi keluar rumah, namun Nur mengatakan ia hanya pergi ke dapur untuk mencari air minum.

semua penjelasan itu tidak membantu sama sekali, namun tampak dari raut muka pak Prabu, ia lebih tertarik bagaimana Widya bisa menari bila latar belakangnya saja bahwa ia mengaku tidak pernah belajar menari sebelumnya

hari itu, pak Prabu meminta Widya, Ayu dan Wahyu, menemaninya

Nur pergi, ia masih harus mengerjakan proker individualnya.

dengan berbekal motor butut yang tempo hari digunakan untuk mengantar mereka masuk ke desa ini, kali ini di gunakan untuk mengantar mereka ke rumah seseorang.

Wahyu dengan Widya, Pak Prabu berboncengan dengan Ayu.

jalur yang mereka tempuh hampir sama dengan jalur yang tempo hari, anehnya, kali ini Widya merasakan sendiri, untuk sampai ke jalan raya tidak sampai 1 jam, malah tidak sampai 30 menit, lalu, bagaimana bisa ia merasakan waktu selambat itu pada malam ketika orang2 desa menjemput

Rumah yang pak Prabu datangi, rupanya rumah seseorang.

melintasi jalan besar, lalu masuk lagi ke sebuah jalan setapak buatan, Rumahnya bagus, malah bisa di bilang paling bagus di bandingkan rumah orang2 desa, hanya saja, rumah itu berdiri di tengah sisi hutan belantara lain.

berpagar batu bata merah, dengan banyak bambu kuning, rumah itu terlihat sangat tua, namun masih enak dipandang mata.

di depan rumah, ada orang tua, kakek-kakek, sepuh, berdiri seperti sudah tau bahwa hari ini akan ada tamu yang berkunjung.

tidak ada yang tahu nama kakek itu, namun pak Prabu memanggilnya mbah Buyut, setelah pak Prabu selesai menceritakan semuanya, wajah mbah Buyut tampak biasa saja, tidak tertarik sama sekali dengan cerita pak Prabu yang padahal membuat semua anak-anak masih tidak habis pikir.

sesekali memang mbah Buyut terlihat menatap Widya, terkesan mencuri pandang, namun ya begitu, hanya sekedar mencuri pandang saja, tidak lebih.

dengan suara serak, mbah Buyut pergi kedalam rumah, beliau kembali dengan 5 gelas kopi yang di hidangkan di depan mereka.

“Monggo” (silahkan) kata beliau, matanya memandang Widya.

melihat itu, Widya menolak, mengatakan dirinya tidak pernah meminum kopi, namun senyuman ganjil mbah Buyut membuat Widya sungkan, yang akhirnya berbuntut ia meneguk kopi itu meski hanya satu tegukan saja.

kopinya manis, ada aroma melati didalamnya, yang awalnya Widya hanya mencoba-coba tanpa sadar, gelas kopi itu sudah kosong.

tidak hanya Widya, semua orang di tegur agar mencicipi kopi buatan beliau, katanya “tidak baik menolak pemberian tuan rumah”

semua akhirnya mencobanya

berikutnya. Wahyu dan Ayu kaget setengah mati, sampai harus menyemburkan kopi yang ia teguk, mimik wajahnya bingung, karena rasa kopinya tidak hanya pahit, tapi sangat pahit, sampai tidak bisa di tolerin masuk ke tenggorokan.

anehnya, Pak Prabu meneguk kopi itu biasa saja.

“begini” kata mbah Buyut, beliau menggunakan bahasa jawa halus sekali, sampai ucapanya kadang tidak bisa di pahami semua anak. ada kalimat, penari dan penunggu, namun yang lainya tidak dapat di cerna.

ia menunjuk Widya tepat didepan wajahnya, mimik wajahnya sangat serius.

pak Prabu mendengarkan dengan seksama, lalu berpamitan pulang.

sebelum mereka pulang, mbah Buyut memberi kunir tepat di dahi Widya, katanya untuk menjaga Widya saja.

kunjungan itu sama sekali tidak di ketahui tujuanya, selama perjalanan, pak Prabu bercerita, tentang kopi.

kopi yang di hidangkan mbah Buyut tadi adalah Kopi ireng yang di racik khusus untuk memanggil Lelembut, Demit dan sejenisnya, bukan kopi untuk manusia, mereka yang belum pernah mencobanya, pasti akan memuntahkanya, namun, bagi lelembut dan sebangsanya, kopi itu manis sekali.

semua anak memandang Widya.

namun pak Prabu segera mengatakan hal lain. “sepurane sing akeh nduk, sampeyan onok sing ngetut’i” (mohon maaf ya nak, kamu, ada yang mengikuti)

selain mengatakan itu, pak Prabu juga mengatakan bahwa tidak perlu takut, karena Widya tidak akan serta merta di apa-apakan, hanya di ikuti saja, yang lebih penting, Widya tidak boleh dibiarkan sendirian, harus selalu ada yang menemaninya, untuk itu, pak Prabu punya gagasan.

mulai malam ini, mereka akan tinggal dalam satu rumah, hanya dipisahkan oleh sekat dari bambu anyam, pak Prabu hanya meminta satu hal, jangan melanggar etika dan norma saja.

pertemuan itu juga di minta untuk tidak di ceritakan ke siapapun lagi, bahkan Nur, Anton dan Bima.

tempat tinggal mereka yang baru tepat ada di ujung, cukup besar, dan bekas rumah keluarga yang merantau, sekaligus hal ini menjawab pertanyaan kenapa jarang di temui anak seumuran mereka di desa ini, rupanya, kebanyakan anak-anak yang sudah akil baligh pasti pergi merantau.

dibelakang rumah, ada watu item (Batu kali) cukup besar, dengan beberapa pohon pisang, dan di kelilingi, daun tuntas.

Anton awalnya tidak setuju mereka pindah, karena atmoser rumahnya yang memang tidak enak dan itu bisa terlihat dari luar, namun ini, perintah dari pak Prabu

setelah kejadian itu, Ayu sedikit menghindari Widya.

Widya paham akan hal itu, namun Wahyu sebaliknya, ia mendekati Widya dan memberi semangat agar tidak mencerna mentah2 pesan orang tua itu.

disini, Wahyu bercerita kejadian yang tidak ia ceritakan di malam kejadian itu.

“Wid, kancamu cah lanang iku, gak popo tah?” (Wid, temanmu yang cowok itu baik-baik saja kah?)

“maksud’e mas?”

“cah iku, ben bengi metu Wid, emboh nang ndi, trus biasane balik-balik nek isuk, opo garap proker tapi kok bengi?”

(temanmu itu, setiap larut malam keluar Wid, entah kemana, trus biasanya baru balik pagi, apa sedang mengerjakan prokernya tapi kok harus malam?)

“ra paham aku mas” (gak ngerti aku mas)

“trus” kata Wahyu “aku sering rungokno, cah iku ngomong dewe nang kamar”

(aku sering denger anak itu ngomong sendirian di dalam kamar)

“ra mungkin tah mas” (gak mungkin lah mas)

“sumpah!!” “gak iku tok, kadang, cah iku koyok ngguyu-nggyu dewe, stress palingan” (gak cuma itu, kadang dia tertawa sendirian, gila kali anak itu)

“Bima iku religius mas, ra mungkin aneh-aneh” (Bima itu religius, gak mungkin aneh-aneh)

“yo wes, takono Anton nek ra percoyo, bengi sak durunge aku eroh awakmu nari, Bima asline onok nang kunu, arek’e ndelok tekan cendelo, paham awakmu sak iki. gendeng cah iku”

(ya sudah, tanya Anton kalau gak percaya, malam sebelum kejadian itu, Bima sebenarnya ada di kejadian, dia cuma lihat kamu dari jendela, paham kamu sekarang, gila itu anak)

Widya diam lama, memproses kalimat itu, ia melihat Wahyu pergi dengan raut wajah kesal.

Malam semua anak sudah berkumpul, Nur ada di kamar, dia sedang sholat.

Widya di ruang tengah sendirian, sedangkan Ayu, Wahyu dan Anton ngobrol di teras rumah, Bima, ada pertemuan dengan pak Prabu.

sebelum, suara kidung terdengar lagi, suaranya dari arah pawon. (dapur)

untuk mencapai pawon, Widya melewati kamar, disana Nur sedang bersujud, semakin lama, suaranya semakin terdengar dengan jelas.

Pawon rumah ini hanya di tutup dengan tirai, saat Widya menyibak tirai, ia melihat Nur, sedang meneguk air dari kendi, lengkap dengan mukenanya.

Widya mematung, diam, lama sekali, sampe Nur yang meneguk dari kendi melihatnya.

mata mereka saling memandang satu sama lain.

“Lapo Wid” (kenapa Wid?) tanya Nur.

Widya masih diam, Nur pun mendekati Widya, sontak Widya langsung lari, dan melihat isi kamar, disana, tidak ada Nur

“onok opo toh asline” (ada apa tah sebenarnya) tanya Nur yang sekarang di samping Widya, ia memegang bahu Widya. dingin. tangan Widya masih gemetaran, sampai semua anak melihat mereka kemudian mendekatinya.

“lapo kok rame’ne” (kenapa kok rame sekali) tegur Ayu.

“gak eroh, cah iki ket maeng di jak ngomong ra njawab-njawab” (gak tau, anak ini di tanya daritadi gak jawab-jawab)

“lapo Wid?” Wahyu mendekati

“tanganmu kok gemeteran ngene, onok opo sih” (tanganmu kenapa gemetaran begini, ada apa sih?) tanya Anton.

“Nur, jupukno ngombe kunu loh, kok tambah meneng ae” (Nur ambilkan air gitu loh, kok malah diam saja) tegur Anton,

Nur kembali dengan teko kendi yang tadi, dia memberikanya pada Widya, dan Widya kemudian meneguknya, lalu, tiba-tiba Widya diam lagi, membuat semua orang bingung

tangan kiri Widya masih memegang teko, sedangkan tangan kananya, terangkat lalu masuk ke dalam mulut, disana, Widya berusaha mengambil sesuatu, ada 2 sampai 3 helai rambut hitam, panjang, dan itu keluar dari dalam mulut Widya.

semua yang menyaksikanya, beringsut mundur. kaget.

begitu penutup tekonya di buka, di dalamnya, ada segumpal rambut, benar-benar segumpal rambut dengan air di dalamnya.

Nur yang melihatnya langsung bereaksi. “aku mau yo ngombe teko kunu, gak eroh aku onok barang ngunu’ne” (tadi aku juga minum dari situ, gak tau ada begituanya)

Widya muntah sejadi-jadinya, saat keadaan tegang seperti itu, Anton tiba-tiba mengatakan “awakmu di incer yo Wid, jare mbahku, nek onok rambut gak koro metu, iku biasane nek gak di santet yo di incer demit”

(kamu di incar ya Wid, kata mbahku, kalau tiba2 muncul rambut)

(itu biasanya kalau gak di santet ya di incar makhluk halus)

Nur, kemudian mengatakanya

“Wid, opo penari iku jek ngetuti awakmu, soale ket wingi aku wes ra ndelok gok mburimu maneh”(Wid, apa penari itu masih ngikutin kamu, soalnya dari kemarin aku belum lihat dia di belakangmu)

berhari-hari setelah pengakuan Nur itu, membuat Widya semakin was-was, ia jatuh sakit selama 3 hari, dan selama itu juga, Widya hanya terbaring di atas tikar kamar, Nur tidak melanjutkan lagi ceritanya, karena katanya ia sudah salah mengatakanya, seharusnya ia menahan cerita itu.

selama Widya terbaring sakit, ia seringkali di tinggal sendirian didalam rumah itu, dan selama tinggal di rumah itu, ada satu kejadian yang tidak akan pernah Widya lupakan.

semua di mulai ketika, ia hanya berbaring di atas tikar, Ayu dan Nur berpamitan akan memulai proker mereka

anak2 cowok juga memulai proker mereka masing2, seharusnya, tidak ada satupun orang di rumah itu, namun, siang itu, terdengar suara sesuatu yang di pukuli, hal itu menimbulkan rasa penasaran, suaranya seperti benturan antara lempengan yang keras, awalnya Widya menghiraukanya

namun, semakin lama, Widya tidak tahan dan akhirnya memeriksanya.

suara itu terdengar ada di belakang rumah, tepat di samping pawon (dapur), maka Widya pergi kesana, saat ia sampai di pintu pawon, yang terbuat dari kayu, Widya berhenti, di sela2 pintu, Widya mengintip

alangkah bingungnya Widya, melihat di antara pohon pisang, ada seorang bapak2, usianya berkisar antara 50’an, menggunakan pakaian hitam ala orang yang akan berkebun, ia berdiri di antara pohon pisang, matanya tampak mengawasi rumah yang menjadi penginapan Widya selama KKN

lama sekali, bapak itu berdiri mengawasi penginapan Widya, gerak-geriknya sangat mencurigakan, seperti ingin masuk ke rumah namun, bapak itu ragu-ragu.

ketakutan, tiba-tiba terasa di dalam diri Widya, kemudian, selang beberapa menit, bapak itu pergi meninggalkan tempat itu.

rasa lega, bapak itu pergi, Widya berniat kembali ke kamar, disana ia melihat Anton, baru saja masuk rumah, mereka berpapasan, bodohnya, Widya tidak menceritakan hal itu kepada Anton dan anak lain, karena keesokan harinya, peristiwa yang sama itu, kembali terulang..
di awali suara keras yang sama, Widya kembali mengintip, kali ini, bapak itu lebih berani, ia melihat kesana-kemari, mendekati penginapan dan beberapa kali berusaha mengintip, dari gerak-geriknya, tampaknya bapak itu berniat buruk, masalahnya, apa yang ingin dia cari disini.

memikirkan hal itu, Widya tiba-tiba seperti baru ingat, ia hanya di rumah ini sendirian, seorang wanita, sendirian di dalam rumah, dan seorang pria asing, mendekati rumah itu, apalagi kalau bukan

sesaat, ketika si bapak sudah berdiri di depan pintu pawon, suara itu mengejutkanya

suara keras itu rupanya dari Batu di belakang pawon, keras sekali sampai membuat si bapak lari tunggang langgang, Widya menyaksikanya sendiri, ada yang melempar batu cukup besar, tepat di Watu item (Batu kali) di belakang rumah

sehingga si bapak panik dan pergi, Widya ikut pergi

Widya melaporkanya pada pak Prabu, yang ikut kaget mendengarnya, di carilah si bapak itu, dan ketemu, rupanya dia adalah warga desa sana, ketika di tanya apa yang dia lakukan di rumah anak-anak KKN, bapak itu mengatakan sesuatu, yang entah benar atau tidak, bila ia melihat wanita
Wanita yang di lihat si bapak ini, mengenakan pakaian seperti dayang (penari) dan ia masuk rumah ini, namun karena beliau takut di sangka melakukan hal-hal tidak baik, ia memeriksanya diam-diam, tapi, di hari dimana ia lari tunggang langgang, ia melihat sesuatu di pawon rumah
ia melihat wanita itu di dalam pawon rumah, ia sedang menari dengan anggun, sesaat sebelum ia melihat wajahnya, si bapak kaget setengah mati, karena di balik sirat wajah wanita yang di sangka terlihat jelita itu, rupanya polos, rata tak ada bentuk.

apa yang di ucapkan si bapak memang tidak dapat di percaya, namun pak Prabu tidak punya bukti lebih jauh, maka pak Prabu hanya menegur agar tidak melakukan hal itu lagi, si bapak pun pergi,

namun, pak Prabu mengatakan hal lain yang membuat Widya begidik ngeri,

“onok sing nyoba ngbari sampeyan mbak” (ada yang mencoba memberi pesan sama kamu mbak)

“sinten pak?” (siapa pak?)

“mbah-mbah sing nunggu nang Watu Item” (kakek-kakek penjaga batu kali itu)

setelah kejadian itu, Widya di minta ke rumah pak Prabu bila masih sakit.

namun, ada kejadian lagi, yang Widya alami, kali ini melibatkan Nur, dan alasan kenapa rentetan semua kejadian ini, berhubungan satu sama lain.

Mohon Maaf, harusnya hari ini gw Free, udah siapin waktu juga, rencana awal mau namatin malam ini tapi tiba-tiba di suruh lembur lagi.

besok saja ya, mohon maaf sekali.

waktu itu siang hari, Widya sedang mengerjakan prokernya yang sudah tertunda beberapa hari, Wayu mendekati Widya, ia menawarkan kesempatan untuk keluar desa sementara karena harus membeli perlengkapan untuk progress kerjanya yang harus di beli di kota.

“Melu mboten?” (ikut gak?)

“adoh gak?” (jauh gak?)

“2 jam” kata Wahyu, “aku wes ijin pak Prabu, oleh nyilih motor’e” (aku sudah ijin pak Prabu, boleh pinjem motornya)

“nggih pon, melu” (ya sudah, ikut)

Wahyu melihat jam di tanganya, pukul 11 lewat, ia harus cepat menyelesaikan urusanya di kota,

karena sesaat sebelum meminta ijin, pak Prabu sudah mewanti-wanti untuk sudah kembali sebelum hari petang, saat Wahyu menanyakan kenapa harus seperti itu, toh ada jalan setapak yang gampang di telusuri untuk masuk ke hutan ini.

dengan wajah tidak tertebak, pak Prabu, mengatakan,

“gak onok sing ngerti opo sing onok gok jero’ne Alas le” (tidak ada yang pernah tau apa yang tinggal didalam hutan nak)

mereka berangkat, menembus jalan setapak, lalu sampai di jalan raya besar, menyusurinya, jauh, sangat jauh, sampai akhirnya mereka tiba di kota B, disana mereka berhenti di sebuah pasar, Wahyu dan Widya mulai mencari segala keperluan mereka.

kurang lebih setelah 2 jam,

mencari kesana kemari dan setelah mendapatkanya, mereka langsung cepat kembali.

Wahyu berhenti di pom bensin, ia harus mengembalikan motornya dalam keadaan bensin full, etika ketika meminjam barang orang lain.

jam sudah menunjukkan pukul 4, sudah terlalu sore,

sejenak ia melihat Widya dari jauh, ia berhenti tepat di samping penjual cilok, ketika Wahyu sampai disana, ia membeli beberapa cilok, untuk Widya dan dirinya sendiri, saat itulah, si penjual cilok, melihatnya seperti ingin menyampaikan sesuatu.

“Mas nya pendatang?” kata orang asing itu.

“mboten pak” “kulo KKN ten mriki” (tidak pak, saya hanya KKN disini)

“tetep ae, wong joboh to” (tetap saja, orang luar kan?) kata si penjual, masih melihat Widya dan Wahyu bergantian.

“nek oleh takon, masnya sama mbaknya KKN dimana?”

Wahyu menceritakan semuanya, termasuk tempat KKN nya, saat itu juga terlihat jelas sekali perubahan wajah si penjual.

“Loh, sampeyan berarti mari iki liwat Alas D*********??” (berarti sebentar lagi anda akan lewat di hutan **********??)

“nggih pak” (iya pak)

“loh loh, halah dalah” “wes yangmene mas, opo ra isok mene ae mas, sampeyan golek penginapan ae, soale nek jam yangmene, jarang onok sing liwat” (sudah jam segini mas, apa gak bisa besok saja mas, cari saja penginapan, soalnya jam segini sudah jarang ada yang lewat) kata si bapak

“mboten pak, kulo bablas mawon” (tidak pak, saya lanjut saja) kata Wahyu,

“ngeten mas, isok kulo nyuwun waktu’ne sampeyan??” (gini mas, bisa saya minta waktunya sebentar)

si penjual cilok, tiba-tiba mengatakan hal itu dengan wajah tegang.

“nggih pak” kata Wahyu.

Widya yang sedari tadi memilih diam, hanya mendengarkan saja saat penjual cilok itu menceritakan apa yang harus mereka lakukan saat masuk ke Alas ***********

“ngeten mas” (begini mas) “engken, bade sampun mlebet nang Alas’e sampeyan mlaku ae teros”

(nanti setelah kalian sampai dan masuk ke jalanan hutanya, jalan saja ya terus)

“ora usah mandek, utowo ngeladeni opo ae, ngerti ya mas”(gak usah berhenti, apalagi mengurusi hal apapun, sampai sini paham ya mas)

“ojok lali, moco dungo’e sing katah”(jangan lupa doanya yg banyak)

(sing paling penting, nek sampeyan krungu suoro ra onok wujud’e, tetep lanjut, bade sampeyan sampe di gawe ciloko, nek isok lanjut, lanjut ae, ra usah di urus mas, sampeyan percoyo ae, dungo nggih” (yang paling penting, jika kalian dengar suara tanpa wujud, tetap lanjut saja)
(jika sampai kalian di bikin celaka, lalu kalian masih bisa melanjutkan, lanjutkan saja, jangan pernah berhenti disana, yang penting tidak usah di perdulikan, kalian percaya saja, doanya juga utamakan)

Widya tidak pernah mendengar ada orang yang sampai bercerita dengan mimik wajah yang tegang, bahkan bibirnya gemetar saat menceritakan.

“kulo dongakno sampeyan sampeyan selamet sampai nang Tujuan”(saya doakan kalian selamat sampai tujuan)

tepat ketika langit sudah kemerahan,

mereka melanjutkan perjalanan, di belakang, Widya mulai merasakan angin dingin, melewatinya begitu saja. tidak pernah di sangka, jalan masuk hutan, lebih gelap ketika petang sudah mulai menjelang.
cahaya motor yang dikendarai Wahyu menembus kegelapan malam, kilasan pohon hutan di samping kiri kanan jalan menjadi pemandangan tak terelakan, hanya suara motor yang mampu menghidupkan sepi senyap di sepanjang jalan, karena benar saja, tak di temui satupun pengendara lain disini
Wahyu mencoba mencairkan suasana dengan berandai-andai bagaimana bila motor mogok atau ban meletus di tengah antara hutan ini sementara belum di temui satupun pengendara yang lewat, Widya hanya menanggapi kecut, takut bila pengandaian wahyu terjadi pada mereka, dan benar saja.

Motor mereka ngadat tepat setelah Wahyu mengatakan itu.

Widya, diam seribu bahasa, hal kurang pintar dari manusia sejak dulu kala adalah memikirkan sesuatu yang buruk di kondisi yang buruk yang bahkan tidak seharusnya mereka lakukan manakala Doa bisa saja di kabulkan sewaktu2

“mlaku o disek, ben aku isok nyawang awakmu” (jalan saja dulu, biar aku bisa tetap memantau kamu) kata Wahyu, sudah tidak tahan mendengar berapa kali kata “Goblok” keluar dari mulut Widya, sepanjang mereka berjalan sendirian menyusuri jalan ini.

sembari mencoba menstarter motor

entah berapa lama mereka berjalan, dan masih belum di temui satupun pengendara yang di mintai pertolongan, Wahyu masih melihat Widya, berjalan sendirian didepan, tak sekalipun wajahnya menengok Wahyu seolah Wahyu sudah melakukan kesalahan paling fatal, yang pernah Wahyu buat.

sampai, langkah kakinya berhenti.

Widya, menghentikan langkah kakinya, Wahyu yang melihat itu, tiba-tiba merasa ada sesuatu yang salah. pasti.

“nek sampek awakmu kesurupan, bener-bener parah awakmu, gak isok ndelok sikonku nyurung montor ket mau” (kalau sampai kamu kesurupan,

bener-bener keterlaluan kamu, apa gak bisa lihat kondisiku dari tadi sudah capek dorong motor dari tadi)

Widya melihat Wahyu, mata mereka saling memandang satu sama lain.

“yu, krungu ora?? suara mantenan??” (Yu, dengar tidak? ada suara hajatan??)

bukan mau mengatakan Widya sinting, tapi, Wahyu juga mendengarnya, dan suara itu tidak jauh dari tempat mereka.

“Wid, eleng gak, jare wong dodol cilok, nek onok opo-opo lanjut ae” (Wid, inget gak kata penjual cilok, jangan berhenti walau ada apapun, kita lanjut saja)

seperti kata Wahyu, Widya pun melanjutkan perjalanan, semakin mereka berjalan, semakin keras suara itu, dan semakin lama, di iringi suara tertawa dari orang-orang yang sedang melangsungkan hajatan, sampai, di lihatnya, terdapat jenur kuning melengkung, disana, Widya melihatnya

sebuah pesta, tepat di sebuah tanah lapang samping jalan raya, seperti sebuah area perkampungan, disana, lengkap dengan orang-orangnya, juga panggung tempat musik di dendangkan.

Wahyu dan Widya, terdiam cukup lama, seperti termenung memastikan bahwa yang mereka lihat, manusia.

tidak ada angin, tidak ada hujan, Wahyu dan Widya tercekat saat ada orang tua bungkuk bertanya tiba-tiba tepat di samping mereka.

“Nopo le” (ada apa nak?) suaranya halus sekali, sangat halus, “sepeda’e mblodok?” (motornya mogok?)

Wahyu dan Widya hanya mengangguk, pasrah.

si orang tua memanggil anak-anak yang lebih muda, kemudian menuntun sepeda, menepi dari jalan raya, tidak lupa, si orang tua mempersilahkan Wahyu dan Widya istirahat sebentar, sembari menunggu motornya di betulkan.

suanasanya ramai, semua orang sibuk dengan urusanya sendiri2

ada yang bercanda, ada yang mengobrol satu sama lain, ada yang menikmati alunan gamelan yang di tabuh seirama, lengkap dengan si pengantin yang terlihat jauh dari tempat Wahyu dan Widya duduk.

“aku ra eroh nek onok kampung nang kene?” (aku tidak tau ada kampung disini?)

Widya hanya diam saja, matanya fokus pada panggung, didepan penabuh gamelan masih ada ruang, acara apa yang akan mereka adakan dengan ruang seluas itu.

rupanya, pertanyaan Widya segera terjawab, dari jauh, tiba-tiba tercium aroma melati. aroma yang familiar bagi Widya.

di ikuti serombongan orang, dihadapanya ada seorang penari, ia di tuntun naik ke atas panggung, kemudian, semua orang memandang pada satu titik, tempat penari mulai berlenggak lenggok di atas panggung, semua mata, seperti terhipnotis melihatnya

“Ayu’ne curr!!”(cantik sekali anj*ng!!) kata Wahyu

bingung, apakah hanya perasaan saja, mata si penari beberapa kali mencuri pandang pada Widya, ia seperti mengenal penari itu, tapi, tidak ada yang tau siapa si penari, sampai si bapak tua kembali, menawarkan makanan pada mereka

Wahyu yang mungkin lapar, melahap habis mulai dari lemper sampai apem di hadapanya, sembari bercakap-cakap sama si bapak tua, namun Widya lebih suka melihat si penari, ia mampu membuat semua orang tertuju melihatnya, menatapnya dengan tatapan yang menghipnotis.

setelah si penari turun dari panggung, si bapak mengatakan, motor mereka sudah selesai, bisa di naikin lagi, benar saja.

motor mereka sudah bisa di pakai lagi, sebelum pergi, Wahyu dan Widya berpamitan, mereka berterimakasih sudah mau menolong mereka yang kesusahan,

si bapak mengangguk, mengatakan mereka harus hati-hati, tidak lupa si bapak memberi bingkisan, menunjukkan isinya pada Wahyu dan Widya, itu adalah jajanan yang di hidangkan tadi, membungkusnya dengan koran, Widya menerimanya, mengucap terimakasih lagi, lalu lanjut pergi.
tidak ada yang seheboh Wahyu, yang terus berbicara tentang cantiknya paras si penari, kisaran usianya mungkin lebih tua dari mereka, namun, cara dia berdandan, bisa menutupi usianya sehingga dari jauh, kecantikanya terlihat begitu sulit di gambarkan.

Widya, lebih tertarik dengan kampung itu. demi apapun, sewaktu perjalanan, tidak di temui satu kampung pun, jangankan kampung, warung saja tidak ada sama sekali.

namun, motor Wahyu benar-benar mereka betulkan, dan mereka tulus membantu tanpa meminta apapun,

jadi, apa mungkin, hantu bisa membetulkan motor.

satu yang coba Widya yakini, mungkin, mereka tidak melihat kampung tadi saja, yang terpenting, di jalan setapak ini, Desa KKN mereka sudah semakin dekat.

sesampainya di kampung, Wahyu pergi mengembalikan motor, sedangkan Widya sudah di tunggu oleh semua anak, mereka khawatir, berdiri menunggu di teras rumah.

“tekan ndi seh?? kok suwe’ne” (darimana sih? kok lama sekali) kata Ayu,

“tekan Kota, belonjo keperluan kene” (dari kota)

(belanja keperluan kita)

Nur membuang muka melihat Widya, sudah biasa, kadang Nur memang seperti itu, setelah dia menceritakan kejadian kemarin, ia tidak lagi mau membicarakan itu, sekarang, dia sedikit menjauhi Widya, dan ia merasakan itu, sangat terasa.

di suasana tegang itu, hanya Bima yang mencoba mencairkan suasana, “wes ta lah, kok kaku ngene seh”(sudahlah, kok canggung gini)

Bima menggandeng Widya, menyuruhnya masuk rumah, “awakmu pegel kan” (kamu pasti capek kan)

tidak beberapa lama, Wahyu sudah datang, ia masuk ke rumah

tanpa membuang2 waktu, alih-alih ia istirahat, Wahyu dengan suara menggebu-gebu bercerita kalau baru saja mengalami kejadian tidak mengenakan atas insiden motor, sampai dibantu, orang kampung, tidak lupa, ia bercerita tentang penari yang ia temui, kecantikanya, ia ceritakan semua

bukan sambutan yang Wahyu dapat, tapi tatapan kebingungan lah yang pertama Wahyu lihat.

“ra onok Deso maneh nang kene” (tidak ada desa lagi disini) kata Bima, Wahyu yang mendengar itu tidak terima.

“eroh tekan ndi awakmu” (tau darimana kamu)

“aku wes sering nang kota yu,”

(aku sudah sering ke Kota Yu) “Prokerku onok hubungane ambek program hasil alam, dadi sering melu nang kota mabek wong-kene” (Prokerku berhubungan sama program hasil alam, jadi sering ikut ke kota sama orang sini) “sampe sak iki, aku rong eroh onok deso maneh nang kene”

(sampai sekarang, aku belum nemuin satu lagi kampung di dekat sini)

“ngomong opo, mbujuk” (bicara apa, nipu) kata Wahyu geram.

“Mas” kata Nur, “pancen ra onok Deso maneh nang kene, kan wes tau di bahas” (Mas, memang gak ada lagi desa disini, kan sudah pernah di bahas dulu)

“koen kabeh nek ra percoyo, tak dudui bukti, nek aku ketemu wong deso liane” (kalian kalau gak percaya tak kasih bukti kalau ada desa lain di sekitar sini)

Widya yang sedari tadi diam, tiba-tiba di tarik oleh Wahyu. “takono ambek Widya nek ra percoyo”

(tanya sama Widya kalau tidak percaya)

Widya masih diam, lama, sementara yang lain menunggu Widya berbicara, hal yang membuat Widya bingung adalah, kopi.

sadar atau tidak, Widya sempat merasakan aroma kopi yang manis itu di jajanan yang ia cicipi, rasanya sama persis.

karena tidak sabar, Wahyu membuka paksa tas Widya dan mengambil bingkisan itu, bukan koran lagi yang Wahyu temuin, namun, daun pisang yang terbungkus di jajanan pemberian bapak tua itu.

tepat ketika Wahyu membuka bingkisan itu.

Semua orang melihat isi di dalam bingkisan itu, berlendir, dan aromanya sangat amis, tidak salah lagi, di dalam bingkisan itu adalah kepala monyet yang masih segar dengan darah di daun pisangnya.

setelah kejadian malam itu. Wahyu mengurung diri dalam kamar, 3 hari lamanya, kadang, ia masih tidak percaya dengan hal itu, namun, bila mengingat bagaimana kepala-kepala monyet itu jatuh dari tanganya, rasa mualnya akan kembali, membuat wahyu harus memuntahkan isi perutnya..
Widya hanya mengulang kalimat mbah Buyut “jangan menolak pemberian tuan rumah” sejatinya, Wahyu dan Widya sudah benar, meski ia tahu semua itu ganjil, namun mereka harus tetap mencicipinya, yang jadi masalahnya, hanya Widya yang sadar, bahwa yang menemani mereka bukanlah manusia
seandainya saja, Widya mengatakan keganjilan itu kepada Wahyu, menolak pertolongan mereka, menolak pemberian mereka, mungkin jalan cerita semua ini akan benar-benar berbeda, bisa saja, justru, penolakan seperti itu akan mendatangkan balak (bencana) bagi mereka,
apapun itu, Widya sudah mengerti satu hal, ada hubungan yang secara tidak langsung, tentang dirinya dan sang Penari.
Malam itu, Widya baru selesai melihat prokernya yang di bantu beberapa warga desa, ketika langit sudah gelap gulita, Widya menyusuri jalan setapak desa, seperti biasa, suara binatang malam mulai terdengar, ia terus berjalan sampai melihat rumah tempat mereka menginap.
seharusnya yang lain sudah ada di rumah, entah mencicil laporan proker atau mungkin sejenak beristirahat, namun anehnya, lampu petromax yang seharusnya menyala di depan rumah, mati. membuat rumah itu terlihat lebih sunyi, kelam, dan mengerikan. seolah rumah itu memanggil namanya.
“wes biasa” batin Widya, memantapkan hatinya. rumah ini memang masih terbilang baru bagi Widya dan yang lainya, namun, tempo hari, mendengar bahwa ada penunggu di belakang rumah, membuat Widya kadang tidak tenang, dan beberapa kejadian ganjil hampir pernah Widya alami, hanya saja

apa yang Widya alami, apakah juga mereka alami, hanya saja mereka menutupi dan lebih memilih diam.

kini, Widya sudah ada di depan pintu, mengetuknya, mengucap salam, dan kemudian melangkah masuk, dilihatnya ruang tengah, tempat biasa Ayu ada disana, menulis laporan, sayangnya-

tidak ada Ayu disana. hanya ruangan kosong.

di teras rumah pun sama, seharusnya Wahyu dan Anto ada disana, sedang bercanda seputar apa yang mereka lakukan hari ini di temani asap rokok dari mulut mereka, atau suara Nur yang sedang mengaji, dan Bima yang entah apa yang ia lakukan

selama tinggal di rumah ini. hanya Bima, yang masih terasa asing bagi Widya.

sayangnya, malam itu, tak di temui satupun penghuni rumah ini, apakah Widya terlalu sore untuk pulang, sedangkan yang lain masih sibuk mengurus proker mereka masing-masing bersama warga.

entahlah. Widya bersiap masuk ke kamar, saat, sekelebat perasaan tak nyaman itu muncul.

perasaan seolah ada yang mengawasi entah darimana, dan menimbulkan rasa berdebar di dada, ketika, suara tawa ringkik terdengar dari Pawon (dapur) rumah, saat itulah, Widya yakin, sesuatu ada disana.

sesuatu yang bukan lagi hal baru, ia harus memeriksanya.

ketika Widya menyibak tirai, ia melihat Nur, duduk di sebuah kursi kayu, matanya menatap lurus tempat Widya berdiri, ia masih mengenakan mukenah putihnya seolah-olah, ia baru menunaikan sholat dan belum menanggalkan mukenahnya, hanya saja, kenapa ia duduk diam seperti itu.

“Nur” “ngapain?” kata Widya.

Nur masih diam, matanya seperti mata orang yang kosong.

saat itulah, Widya melihat Nur menundukkan kepalanya dengan posisi duduk itu, seakan-akan ia tertidur di atas kursi kayunya. membuat Widya panik, mendekatinya.

Widya menggoyang badanya, namun Nur tidak bergeming, saat Widya mencoba menyentuh kulit wajahnya yang dingin, Nur terbangun dan melotot melihat Widya, tatapanya, seperti orang yang sangat marah.

“Cah Ayu” (anak cantik) hal itulah yang pertama Widya dengar dari Nur, hanya saja, suaranya, itu bukan suara Nur. suaranya menyerupai wanita uzur. melengking, membuat bulukuduk Widya seketika berdiri.

namun, saat Widya mencoba pergi, tanganya sudah di cengkram sangat kuat.

“kerasan nak nang kene,” (betah tinggal disini)

Widya tidak menjawab sepatah katapun, suaranya mengingatkanya pada neneknya sendiri, benar-benar melengking.

“yo opo cah ayu, wes ngertos badarawuhi” (gimana anak cantik, sudah kenal sama penunggu disini)

Widya mulai menangis.

“lo lo lo, cah ayu ra oleh nangis, gak apik” (anak cantik gak boleh menangis) Matanya masih melotot, pergelangan tangan Widya di cengkram dengan kuku jari Nur.

“cah lanang sing ngganteng iku ae wes kenal loh kale Badarawuhi” (anak ganteng itu saja sudah kenal sama dia)

“Nur” ucap Widya sembari tidak bisa menahan takutnya lagi, suasana di ruangan itu benar-benar baru kali ini bisa membuat Widya setakut ini.

“iling Nur iling” (sadar Nur sadar)

Nur tertawa semakin kencang, tertawanya benar-benar menyerupai tertawa yang membuat Widya diam takut.

“awakmu gak ngerti, sopo aku” (kamu gak ngerti siapa aku?)

“mbok pikir, nek gak onok aku, cah ndablek model koncomu sing gowo Bolo alus nang kene isok nyilokoi putu ‘ku, aku, sing jogo Nur sampe sak iki, ra tak umbar, Bolo alus nyedeki putuku. ngerti”

(kamu pikir, kalau tidak ada aku, anak nakal seperti temanmu yang sudah membawa penunggu disini bisa mencelakai cucuku, aku yang selama ini sudah menjaganya, tidak akan ku biarkan mereka mendekati cucuku. mengerti)

“nyilokoi nopo to mbah” (mencelakai bagaimana?)

“cah ayu, kancamu siji bakal ra isok balik. nek awakmu rong sadar, opo sing bakal kedaden, tak ilingno, cah ganteng iku, bakal gowo ciloko, nyeret kabeh nang petoko nang deso iki”

(anak cantik, satu dari temanmu tidak akan bisa kembali, jika kamu belum sadar, semuanya akan terjadi, ingatkan anak itu, yang sedang membawa petaka jika di biarkan semuanya akan kena batunya di desa ini)

setelah mengatakan itu, Nur teriak keras sekali, lalu jatuh terjerembap.

Widya menggotong Nur kembali ke kamarnya, menungguinya sampai ia terbangun dari pingsanya, dan benar saja, ia tidak tahu kenapa ia bisa tertidur, mungkin terlalu terbawa ketika sholat.

Nur bercerita saat di pondok, kalau sudah kudu menikmati sholatnya, biasanya sampai ketiduran.

entah apa yang Widya pikirkan, sampai tiba-tiba ia bertanya hal yang Nur paling tidak sukai

“sejak kapan bisa lihat begituan?”

awalnya, Nur salah tingkah, tidak mau cerita, sampai ketika Widya menungguinya, Nur mengatakanya, sejak mondok, ia bisa melihatnya, karena memang harus

“Ghaib itu ada” kata Nur, “sebenarnya, tiap orang ada yang jaga, jenisnya berbeda-beda, ada yang jahat, ada yang baik, ada yang cuma mengikuti, ada yang cuma numpang lewat”

“awakmu onok sing jogo?” (kamu ada yang jaga?) tanya Widya.

“jarene onok” (katanya ada) ucap Nur, suaranya pelan, sepeti tidak mau menjawab.

“kok jarene” (kok katanya)

“aku ra tau ndelok Wid, aku di kandani kancaku sak durunge metu tekan pondok, jarene, sing jogo aku, wujud’e mbah dok, mbahku biyen)

(aku belum pernah melihatnya langsung, aku di kasih tahu temanku sebelum keluar dari pondok, katanya, wujudnya menyerupai nenekku)

setelah mendengar itu, Widya hanya mendengar Nur, bercerita tentang pengalamanya selama mondok, namun, Widya lebih memikirkan hal lain.

23 Hari, sudah di lalui, setiap hari, perasaan Widya semakin tidak enak, di mulai dari satu persatu warga yang membantu prokernya mulai tidak datang satu persatu, kabarnya mereka jatuh sakit, anehnya, itu terjadi di proker kelompok mereka, yang berurusan dengan Sinden.

pernah suatu hari, Widya mendengar secara tidak langsung, kalau ini semua karena Sindenya mengandung kutukan, tapi pak Prabu bersihkeras itu mitos, takhayul, sesuatu yang membuat warga desanya ketinggalan jaman.

namun, satu kali, Widya pernah di kasih tahu warga, bila Sinden ini

ada yang jaga.

katanya, Sinden ini dulu, sering di gunakan untuk mandi oleh dia. dia yang di bicarakan ini, tidak pernah di sebut warga, namun yang mencurigakan dari kasus ini adalah, nama Sinden ini, adalah Sinden kembar.

Sinden kembar. Widya selalu mengulangi kalimat itu.

Sinden kembar, membuat Widya semakin penasaran

alasan kenapa pak Prabu memasukkan ini menjadi proker adalah, agar air sungai dapat di alirkan ke Sinden ini, sehingga warga tidak perlu lagi jauh-jauh mengambil air ke sungai yang tanahnya terjal, namun, seperti ada yang ganjil

Malam itu, Ayu mengumpulkan semua anak, perihal masalah yang mereka hadapi, hampir setengah warga yang membantu proker mereka tidak mau melanjutkan pekerjaanya. alasanya bermacam-macam, sibuk berkebun sampai badanya sakit semua.

dari semua anak yang punya usul, hanya Bima yang tidak seantusias yang lain.

di malam itu juga, Widya ingat yang di katakan Wahyu, setiap malam, Bima pergi keluar rumah, entah apa yang di lakukanya.

Widya, sengaja begadang hanya untuk memastikan, dan ternyata benar, malam itu

Bima pergi keluar rumah.

Widya masuk ke kamar Bima, disana ada Wahyu sama Anto, yang pertama Widya lakukan, membangunkan Wahyu, meski enggan, Widya terus memaksanya, setelah Wahyu benar-benar terjaga, Widya memberitahu kalau Bima baru saja keluar.

Wahyu hanya menatap Widya keheranan,

“aku lak wes tau ngomong su” (aku kan sudah pernah bilang jing)

“lha ya, ayo di tutno, nang ndi arek iku” (lha iya, makanya, ayo kita ikuti, kemana anak itu)

“gawe opo? paling nang omahe prabu, ndandani tong bambu’ne” (buat apa, palingan dia ke rumah prabu, memperbaiki tong-

sampahnya yang dari bambu)

“yo wes mboh” (ya sudah terserah)

Widya keluar dari kamar itu, kemudian ia pergi menyusul Bima, sendirian.

Bima itu anak cowok yang paling religius, sama kaya Nur, karena mereka memang sudah dekat di kampus. tapi, Anton sering cerita, kalau kadang, dia memergoki Bima Onani di dalam kamar, dan itu tidak sekali dua kali, masalahnya adalah, saat Bima melakukan itu, ada suara perempuan

Widya tidak terima Bima di katain itu oleh Anton, Widya pun bertanya darimana dia tahu Bima onani?

“heh, mbok pikir aku ra eroh wong onani iku yo opo?” (kamu pikir saya gak tau bagaimana cowok onani?)

Widya masih diam, mendengarkan penjelasan Anton.

“sing dadi masalahe iku guk Bima Onani” “kabeh lanangan pasti tahu onani, aku gak munafik, masalahe, onok suara wedok’e,??”

(yang jadi masalahnya itu bukan Bima onani, semua cowok pasti pernah, aku gak munafik, masalahnya, ada suara perempuanya.??)

“pas tak enteni, sopo arek iku, nek gak awakmu, pasti Ayu nek gak Nur, tapi, ra onok sopo sopo sing nang kamar ambek cah kui” (ketika ku tunggu, siapa perempuan itu, ku kira itu kamu, kalau gak ayu atau nur, ternyata, tidak ada siapa-siapa di dalam kamar sama dia)

“trus” tanya Widya.

“suoro sopo sing tak rungokno lek ngunu?” (suara siapa dong yang ku dengar waktu itu)

“masalahe, aku wes sering krungu, mesti, onok suoro iku” (masalahnya, aku sudah sering dan selalu dengar suara itu)

cerita Anton membuat pandangan Widya berubah, dan malam itu, ia melihat Bima berjalan jauh ke timur, arah menuju sebuah tempat yang seringkali membuat Widya merinding tiap memandangnya.

Tipak Talas.

TIPAK TALAS
Widya melihat Tipak talas seperti sebuah lorong panjang hanya saja, dindingnya adalah pepohonan besar dengan akar di sana-sini, selain medan tanahnya yang menanjak, di depan Tipak talas, ada gapura kecil, lengkap dengan kain merah dan hitam di sekelilingnya.
pak Prabu pernah bercerita, kain hitam adalah nama adat untuk sebuah penanda seperti di pemakaman, namun bukankah warna cerah lebih baik untuk menjadi sebuah penanda, sebelum Widya tahu kebenaran dari warga yang bercerita, bahwa hitam yang di maksud adalah simbol alam lain.

hitam bukan untuk yang hidup, melainkan untuk tanda bagi mereka yang sudah mati. MATI

lalu, apa maksud penanda warna merah?

konon, dari seluruh tempat yang di beri penanda sebuah kain di desa ini, hanya gapura ini yang di beri kain warna merah, apalagi bila bukan simbol petaka

Widya mulai melangkah naik, kakinya tidak berhenti mencari pijakan antara akar dan batu, sembari tanganya mencari sesuatu yg bisa menahan berat tubuhnya

Malam sangat dingin, dingin sekali. hanya kabut di tengah kegelapan yg bisa Widya lihat, butuh perjuangan keras untuk sampai

ketika Widya sampai di puncak Tapak tilas, Widya hanya melihat satu jalan setapak, kelihatanya tidak terlalu curam, namun rupanya butuh ekstra perjuangan juga, disana, Widya merasakanya, perasaan yang tidak enak dari tempat ini, semakin kentara, hal itu, membuat Widya merinding.
jalan setapak itu tidak terlalu besar, di kanan-kiri di tumbuhi rumput dan tumbuhan yang tingginya hampir sebahu Widya, dari sela tumbuhan dan rumput, Widya bisa melihat hutan yang benar-benar hutan, pohon menjulang tinggi dengan tumbuh2an disekitarnya yang tidak tersentuh.
sangat mudah mengikuti Bima, karena hanya tinggal mengikuti jalan setapak, namun, setiap kali Widya berjalan, selalu saja, dari balik semak atau rerumputan, seperti ada yang bergerak-gerak, kadang ketika Widya mencoba memandangnya, suara itu lenyap begitu saja.

Tanahnya keras, dan lembab. namun Widya terus menembus jalanan itu, semakin lama semakin dingin, dan sudah beberapa kali Widya berhenti untuk menghela nafas panjang.

jalanan ini, sepeti tidak berujung, namun, bila kembali, Widya tidak akan tahu apa yang dikerjakan Bima disini.

hal yang cukup di sesali Widya hanya satu, ia hanya mengenakan sandal selop, memang, apa yang Widya lakukan malam ini, spontan karena penasaran, tanpa persiapan, tanpa teman, dan sesal itu, kian bertambah saat Widya mulai mendengar gending.

ya. suara yang familiar,

nada yang dimainkan adalah kidung yang Widya dengar saat ia berada di bilik mandi, bersama Nur, sedangkan alunan gamelan yang dimainkan adalah alunan yang sama saat Widya mencuri pandang pada penari yang menari di malam dia bersama Wahyu.

bukanya lari, Widya semakin menjadi-jadi

semakin jauh, suaranya semakin jelas, dan semakin jelas suaranya, semakin ramai bahwa disana, Widya tidak sendirian.

namun, yang Widya temui, adalah ujung Tipak talas, yaitu, sebuah tumbuhan yang di tanam tepat di jalan setapak.

tumbuhan itu, adalah tumbuhan beluntas.

tumbuhanya kecil, tapi rimbun, samping kiri kanan, sudah gak bisa di lewati, kecuali bila membawa parang, dan tentu saja butuh waktu yang lama untuk membabat semak belukar, namun, wangi tumbuhan beluntas seharusnya langu, namun yang ini, wanginya seperti aroma melati,
seperti tidak sadar, Widya sudah mengunyah daun itu, dan terus mengunyah, Widya baru sadar saat tenggorokanya tersayat batang beluntas yang tajam, dan di balik tumbuhan itu, Widya melihat jalan menurun, pantas saja, ia hanya bisa melihat ujung jalan setapak berhenti disini.

jadi, jalan menurunya di tutup oleh banyak sekali tumbuhan beluntas, saat Widya menuruninya, ia sampai harus berdarah-darah meraih tanaman beluntas yang di lilit tali puteri.

di bawahnya, dia melihat Sanggar yang di ceritakan Ayu dulu, dan sanggarnya benar-benar berantakan.

ada 4 pilar kayu jati yang di pangkas segi 4, memanjang ke atas dengan atap mengerucut, dari jauh terlihat seperti bangunan balai desa, namun lebih besar dengan lantai panggung.

disana, suara gamelan terdengar jelas sekali, seperti sumber suara gamelan itu ada di bangunan ini.

saat Widya mendekatinya, meski ragu, ia merasa kehadiranya tidak sendirian, ramai, seperti tempat ini penuh sesak, namun, tidak ada siapapun disana, hanya dia sendiri, yang berjalan mendekati

tepat ketika Widya menginjak anak tangga pertama, suara gamelan, berhenti, sunyi senyap

hening sekali.

keheningan itu benar-benar menganggu Widya, kehadiranya seperti tidak di terima disini.

namun Widya memaksa untuk tetap melihat, dan saat itu, Widya mendengar seseorang menangis, suaranya familiar, seperti suara orang yang ia kenal.

Ayu.

Widya baru mengingat sesuatu yang paling ganjil selama KKN disini, Ayu.

Ayu tidak pernah sekalipun cerita apapun tentang desa ini, sesuatu yang ganjil yang menganggunya, sebaliknya, Ayu menentang semua yang tidak masuk akal di desa ini,

namun di malam ketika mereka berdebad mendengar suara gamelan, Ayu pasti berbohong, Ayu sebenarnya juga tahu dan mendengarnya secara langsung, Ayu lebih tahu tentang semua ini, jauh di atas yang lain, termasuk, apa yang Bima lakukan selama ini.

seperti menangkap angin, ada suara tangisanya, namun tak ada wujud dimanapun Widya mencari, tetapi, tempat sesunyi dan sesepi itu, masih terasa ramai bagi Widya, seperti ia di tatap dari berbagai sudut.

Widya melihat dari jauh, di bawah sanggar, ada sebuah gubuk, berpintu.

Widya mendekatinya, namun enggan membukanya, ia mengelilingi gubuk itu, dari dalam gubuk, terdengar suara Bima, di ikuti suara perempuan mendesah, sangat jelas, namun Widya tidak bisa melihat apa yang ada di dalam sana.

leher Widya perlahan semakin berat, dan berat.

saat Widya masih bersusah payah mencari cara untuk melihat, nasib baik, Widya menemukan beberapa celah kecil untuk mengintip, darisana Widya menyaksikanya langsung, Bima, sedang berendam di Sinden (Kolam) di sekitarnya, ia di kelilingi banyak sekali ular besar.

melihat itu Widya kaget, dan parahnya, Bima menatap lurus ke tempat Widya mengintip, semua ularnya sama, seperti yang Widya rasakan, mereka tahu, ada tamu tak di undang.

melihat reaksi seperti itu, Widya berbalik dan lari pergi.

saat lari itulah, suara tabuhan gong di ikuti suara kendang, terdengar lagi, suara gamelan itu, terdengar keras, lengkap dengan suara tertawa yang bersahut-sahutan, dan Widya melihat Sanggar kosong itu, di penuhi semua yang tidak Widya lihat saat tiba di tempat ini.

dari ujung ke ujung, penuh sesak, banyak sekali yang dilihat Widya, ada yang melotot, dari yang wajahnya separoh, sampe yang tidak punya wajah.

dari yang pendek, sampai yang tingginya setinggi pohon beringin. mereka memenuhi Sanggar dan sekitarnya, Widya mulai menangis.

suara yang nyaris memenuhi telinga Widya dan hampir membuatnya gila itu tiba-tiba berhenti.

Widya melihat, di depanya, ada yang sedang menari, tarianya hampir membuat semua yang ada disana melihatnya.

disana, Widya menyadari, yang menari itu Ayu,

matanya Ayu sembab, seperti sudah menangis lama, tapi gelagat ekspresi wajahnya seperti menyuruh Widya lari, lari, tanpa tahu apa yang terjadi, Widya langsung lari, melewati kerumunan yang sedang melihat Ayu menari di sanggar.

Widya memanjat tempat itu, menangis sejadi-jadinya.

sampai di jalan setapak, Widya dengar anjing menggonggong, tidak beberapa lama, anjing hitam keluar dari semak belukar, setelah melihat Widya, anjing itu lari, Widya mengikuti anjing itu.

Widya keluar dari jalan setapak itu, ketika subuh, terlihat dari langit yang kebiruan.

tapi rupanya, Widya salah.

seorang warga desa, kaget bukan main melihat Widya, dia langsung lari sambil berteriak memanggil warga kampung.

“Widya nang kene, iki Widya wes balik” (Widya disini, anaknya sudah kembali)

bingung, hampir warga berhamburan memeluk Widya.

“mrene ndok, mrene, awakmu sing sabar yo, awakmu kudu siap yo ambek berita iki” (kesini nak, kesini, kamu yang sabar ya, kamu harus siap sama berita yang nanti kamu dengar) seorang ibu, memeluk Widya, di matanya ia seperti menahan nangis, Widya hanya gaguk, diam, tidak mengerti.

si ibuk menggandeng Widya, Widya masih diam, seperti orang linglung, di jalan ramai warga desa yang mengikuti Widya, Widya mencuri dengar dari mereka yang bicara di belakang.

“wes di goleki sampe Alas D********* jebule, maghrib kaet ketemu arek iki, aku wes mikir elek”

(sudah di cari sampai ujung *********** gak taunya baru ketemu maghrib anak ini, aku sudah mikir buruk)

sehari semalam, Widya rupanya sudah menghilang.

ketika Widya melihat rumah penginapan mereka, Widya melihat banyak sekali orang berkumpul disana, dan saat mata mereka melihat Widya, semuanya hampir tercengang tidak habis pikir. seperti melihat hantu, lalu, terlihat dari dalam, pak Prabu keluar, wajahnya, mengeras melihat Widya

mata pak Prabu mendelik, melihat Widya. “tekan ndi ndok?” (darimana kamu nak)

Widya tidak menjawab apa yang pak Prabu tanyakan, si ibuk juga menenangkan pak Prabu agar tenang, sembari menggiring Widya masuk ke rumah, Widya mendengar Nur menjerit, menangis, seperti kesetanan.

saat Widya masuk dan melihat apa yang terjadi, Widya melihat ruangan itu di penuhi orang yang duduk bersila, mereka mengelilingi 2 orang yang terbujur, tubuhnya di tutup selendang, di ikat dengan tali putih, menyerupai kafan, Wahyu dan Anto menatap kaget saat Widya masuk.

“Wid, tekan ndi awakmu?” (darimana kamu Wid?) ucap Nur yang langsung memeluk Widya.

“onok opo iki Nur?” (ada Apa ini Nur)

Nur menutup mulutnya, tidak tau harus memulai darimana, sampai Wahyu berdiri, “Ayu Wid, Nur lihat Ayu, tiba-tiba terbujur kaku, matanya tidak bisa di tutup”

Widya mendekati Ayu, di sampingnya ada Bima, ia terus menerus menendang-nendang dalam posisi terikat itu, layaknya seseorang yang terserang epilepsi, matanya kosong melihat langit-langit, mereka berdua terbaring tidak berdaya, sontak Widya ikut menjerit sebelum ada yg menenangkan

dari Pawon, mbah Buyut keluar, ia melihat Widya kemudian memanggilnya.

“sini ndok, Mbah jek tas gawe kopi” (sini nak, si mbah baru saja selesai membuat kopi)

mbah Buyut, duduk di kursi kayu yang ada di pawon, ia melihat Widya lama, kemudian mengatakanya. “Koncomu wes kelewatan”

“Pripun mbah?” (bagaimana mbah?)

“yo opo rasane di kerubungi demit sa’alas?” (bagaimana rasanya di kelilingi makhluk halus satu hutan?)

Mbah Buyut masih mengaduk kopinya, memandang Widya yang tampak mulai kembali kesadaranya, “nyoh, di ombe sek” (nih, di minum dulu)

Widya menyesap kopi dari mbah Buyut, tiba-tiba rasa pahit yang monohok membuat tenggorokan Widya seperti di cekik, membuat Widya memuntahkanya, begitu banyak muntahan air liur Widya yang keluar, ia melihat mbah Buyut yang tampak mengangguk. seperti memastikan.

“koncomu, ngelakoni larangan sing abot, larangan sing gak lumrah gawe menungso opo maneh bangsa demit” (temanmu, melakukan pantangan yang tidak bisa di terima manusia, apalagi bangsa halus) kata mbah Buyut sembari geleng kepala.

“paham ndok” (paham nak)

Widya mengangguk.

“Sinden sing di garap, iku ngunu, Sinden kembar, siji nang cidek kali, siji’ne nang enggon sing mok parani wingi bengi” (Sinden yang kamu kerjakan, itu kembar, satu di dekat sungai, satu yang kemarin malam kamu datangi)

“eroh opo iku sinden?” (tahu kegunaan Sinden?)

“mboten mbah” (tidak tahu mbah)

“Sinden ku, enggon adus’e poro penari sak durunge tampil. nah, Sinden sing cidek kali, gak popo di garap, tapi, sinden sing sijine, ra oleh di parani, opo maneh sampe di gawe kelon”

(Sinden itu tempat mandinya para penari sebelum tampil, nah, sinden yang di dekat sungai tidak apa-apa di kerjakan, tapi, sinden yang satunya, tidak boleh di datangi, apalagi di pakai kawin)

“Widya ngerti, sopo sing gok Sinden iku?” (Widya tahu siapa yang ada di sinden itu)

Widya diam lama, sebelum mengatakanya. “Ular mbah”

“nggih. betul” “sing mok delok iku, ulo-anak’e Bima karo” (yg kamu lihat itu, adalah anaknya Bima sama)

“Ular itu mbah”

mbah buyut mengangguk

“iku ngunu, mbah sing kecolongan, Widya mek di dadekno Awu awu, ben si mbah ngawasi Widya, tapi mbah salah, koncomu iku sing ket awal wes di incer karo” (itu, mbah yang kecolongan, Widya cuam di jadikan pengalih perhatian, biar si mbah ngawasi kamu, tapi mbah salah, dari awal,

yang di incar sama)

mbah Buyut diam lama, seperti tidak mau menyebut nama makhluk itu. ”

“ngantos, yo nopo mbah, Ayu kale bima saget mbalik?” (lalu bagaimana mbah, apa Ayu sama Bima bisa kembali?)

“isok isok” kata mbah Buyut, “sampe balak’e di angkat”

“balak’e di angkat mbah” (bencananya di angkat) kata Widya, bingung.

“Bima ambek Ayu wes kelewatan, sak iki, kudu nanggung opo sing di lakoni” (Bima sama Ayu sudah kelewatan, sekarang, dia harus menanggung apa yang dia perbuat)

“Ayu sak iki, kudu nari, keliling Alas iki)

(Ayu sekarang harus menari mengelilingi Hutan ini)

“sak angkule nari, sadalan-sadalan” (tampil, menari, di setiap jengkal tanah ini)

“Bima mbah?”

“Bima, yo kudu ngawini sing nduwe Sinden” (Bima ya harus mengawini yang punya Sinden)

“Badarawuhi mbah”

Mbah buyut kaget.

“oh ngunu” (oh begitu) “wes eroh jeneng’e” (sudah tahu namanya)

“Badarawuhi, iku salah sijine sing jogo wilayah iki, tugas Badarawuhi iku nari, dadi bangsa lelembut iku yo seneng ndelok Badarawuhi iki nari, nah, sak iki, Ayu kudu nanggung tugas Badarawuhi nari”

(Badarawuhi itu salah satunya yang jaga di wilayah ini, tugasnya ya menari, jadi bangsa lelembut suka melihat tarian dari Badarawuhi, sekarang, Ayu harus menggantikanya)

“Bima, kudu ngawini Badarawuhi, anak’e iku wujud’e ulo, sekali ngelahirno, isok lahir ewonan ulo”

(Bima harus mengawini Badarawuhi, anaknya itu berwujud ular, sekali melahirkan, bisa lahir ribuan ular)

“salah kancamu, wes ngelakoni hal gendeng nang kunu, dadi kudu nanggung akibate” (salah temanmu sendiri, jadi sekarang mereka harus tanggung jawab)

“Badarawuhi iku ngunu ratune ulo, bangsa lelembut sing titisan aji sapto, balak’e ra isok di tolak opo maneh di mendalno, mene isuk, tak coba’e ngomong apik-apik’an, wedihku, koncomu ra isok balek orep2”
(Badarawuhi itu ratunya ular, bangsa lelembut yang sudah tak terbendung, kutukanya, gak bisa di tolak apalagi sampai di buang, besok pagi, biar tak coba ngomong baik-baik, takutnya, temanmu tidak bisa kembali hidup2)

mbah buyut pergi, Nur, Wahyu dan Anton melihat Widya sendirian di pawon, duduk, sembari termenung.

“Goblok!! Bima karo Ayu asu!! kakean ngent*t!!” (bodoh!! Bima sama Ayu itu Anj*ng!! kebanyakan ngent*t)

kaimat itu, yang mereka semua pikirkan malam itu.

meski yang di ucapkan Wahyu itu kasar, namun tidak ada yang keberatan dengan semua itu, terlebih, masalah ini sudah sampai ke pihak kampus, bahkan ke keluarga Bima dan Ayu.
pak Prabu menceritakan bahwa kronologi kejadian ini sudah tidak bisa mereka bendung, KKN yang menjadi tanggung jawab beliau, harus sampai, ke semua orang yang terlibat, meski awanya Nur mencoba memohon agar masalah ini jangan sampai keluar dulu, namun, hilangnya Widya, membuat
Pak Prabu akhirnya menyerah dan memilih melaporkanya.

lalu apa yang terjadi sama Ayu dan Bima?

Pagi itu, serombongan mobil datang, mereka adalah keluarga sekaligus panitia KKN yang sudah mendengar semua ceritanya dari pak Prabu.

Ayu masih terbaring, matanya melotot, namun tubuhnya masih seperti orang lumpuh.

Bima, masih kejang2

well ada yang mau lihat foto mereka?

maaf maaf, Aib!!

soal mobil, gw gak paham. intinya mereka di jemput paksa, KKN mereka di coret, gw bakal lanjutin akhir ceritanya saja ya, sama yang bersangkutan. di selesaiin saja malam ini, biar gw bisa fokus kerja. lagi. tapi serius pengen lihat foto mereka?

gw cuma moto dari hape, karena fotonya di cetak di art paper, dan gw cuma bisa bilang, Bima sama Ayu, cantik dan ganteng memang. karena itu gw berani gambarin fisiknya si Bima.
gw lanjut ya

sebenarnya, proses penjemputan gak semudah yang bakal gw tulis, karena pihak keluarga Bima maupun Ayu, marah besar, mereka tidak terima anaknya di bikin seperti ini.

bahkan pihak kampus juga kena, karena kasusnya benar-benar hampir di bawa ke media nasional,

Widya, Nur sampai harus mohon agar Ayu dan Bima di biarkan tetap tinggal disini, yang konon kata Mbah Buyut bisa saja balaknya di ambil sewaktu waktu, namun, dari pihak keluarga Ayu dan Bima, tidak mau lagi, mereka tetap membawa Ayu dan Bima, hasilnya?
Ayu hanya bisa tidur dengan mata terbuka terus menerus, Widya pernah di ceritain oleh ibunya, bahwa kadang, ia melihat mata Ayu meneteskan air mata, tapi, setiap di tanya, dia hanya diam, tak menjawab, Ayu akhirnya meninggal setelah 3 bulan di rawat. abangnya, merasa bersalah
sampai hampir mau mengamuk di desa itu, namun, pak Prabu pun sama, seharusnya sejak awal, saat Ayu memohon di ijinkan KKN disana, ia tegas menolak, alasanya, memang tempat itu tidak baik untuk di tinggali mereka yang masih bau kencur.

Bima??

bagaimana?? meninggal juga, Malam sebelum dia meninggal, Bima teriak minta tolong, tapi ketika ditanya, kenapa dan minta tolong apa?

Bima berteriak ular, ular, ular, ia meninggal lebih dulu dari Ayu, tubuhnya di kebumikan, orang tuanya awalnya masih mau memperpanjang-

masalah ini sama pihak kampus, tapi akhirnya di cabut, dengan catatan, KKN tidak lagi di adakan di timur jawa lagi, sejak saat itu, kampus ini, hanya memperbolehkan KKN ke arah barat, tidak lagi timur, apalagi Desa yang jauh.
ada hal yang bikin gw radak susah gambarin adalah, narasumber (Widya) disamarkan, setiap beliau bercerita, beliau hanya menceritakan intinya, dan gw harus ngatur ulang ceritanya agar nyambung, terlepas dari itu, gw inget, tiap dia cerita, tanganya gugup, seperti –

tidak mau mengulang peristiwa itu. apapun itu, gw berharap cerita ini mengandung hikmah bagi kalian yang membacanya,

untuk peserta KKN nya pun sebenarnya bukan 6 orang, tapi 14 orang, gw perpendek untuk mempersingkat cerita beliau yang saling berkaitan satu sama lain

untuk kesalahan, pengetikan, dan bikin kentangnya, gw mohon maaf sebesar-besarnya.

memang benar, manusia itu merasa besar, padahal sesungguhnya ada kebesaran lain yang membuat manusia gak ada apa-apanya di balik kalimat kecil, dimanapun kalian berada, junjung tata krama-

saling menghormati, saling menjaga satu sama lain, dan senantiasa bersikap layaknya manusia yang beradab.

Berikut adalah klarifikasi dari simple man :

 

 

Versi Nur:

 

Nur segera merapikan tempat tidurnya, hidup merantau demi menyelesaikan pendidikanya di universitas yang sudah menjadi impianya sejak kecil kini tinggal menunggu bulan demi bulan. hanya tinggal menyelesaikan tugas terakhirnya, salah satunya, adalah tugas pengabdian pd masyarakat
orang lebih mengenalnya dengan KKN (Kuliah kerja nyata).

Malam ini, Ayu, teman sefakultasnya, baru saja membicarakan tentang rencananya, bahwa, ia, sudah memiliki tempat yang cocok untuk pelaksanaan KKN mereka, dan Nur akan ikut dalam observasi pengenalan pada desa tersebut.

di’sela Nur mempersiapkan keberangkatanya malam ini, ia teringat harus segera memberitahu temanya yang lain tentang observasi ini, karena ia tahu, bahwa KKN program mereka, harus di selesaikan bersama-sama. janji, sebagai sahabat yang harus lulus bersama-sama.

“Wid, nang ndi?”

(Wid, dimana?)

“nang omah Nur, yo opo, wes oleh nggon KKN’e” (di rumah Nur, gimana, sudah dapat tempat KKN’nya)

“engkok bengi Wid aku budal karo Ayu, doaken yo” (nanti malam Wid, aku berangkat sama Ayu, doakan ya)

“nggih. semoga di acc ya”

“Aamiin” balas Ayu, mematikan telpon

balas Nur mematikan telpon*

detik-demi detik berputar, tanpa terasa malam telah tiba, Nur melihat sebuah mobil kijang mendekat. dari dalam, keluar sahabatnya Ayu, di belakangnya, ada sosok lelaki.

mungkin itu adalah mas Ilham, kakak Ayu. pikir Nur dalam hati.

“Ayo. budal” kata Ayu, menggandeng Nur agar segera masuk ke dalam mobil.

mas Ilham membawakan barang Nur, kemudian mobil pun mulai berangkat.

“adoh gak Yu” (jauh tidak yu) tanya Nur,

“paling 4 sampe 6 jam, tergantung, ngebut ora” (paling 4 sampai 6 jam, tergantung ngebut ndak)

“sing jelas, desa’ne apik, tak jamin, masih alami. pokok’e cocok gawe proker sing kene susun wingi” (yang jelas, desanya bagus, tak jamin, masih alami, pokoknya cocok buat proker yang kita susun kemarin)

Ayu terlihat begitu antusias, sementara Nur, ia merasa tidak nyaman.

banyak hal yang membuat Nur bimbang, salah satunya, tentang lokasi dan sebagainya. sejujurnya, ini kali pertama Nur, pergi ke arah etan (Timur) sebagai, perempuan yang lahir di daerah kulon (barat) ia sudah seringkali mendengar rumor tentang arah etan, salah satunya, kemistisanya
Mistis, bukan hal yang baru bagi Nur, bahkan ia sudah kenyang dengan berbagai pengalaman akan hal itu, saat menempuh pendidikanya sebagai santriwati, mengabaikan perasaan tidak bisa di lakukan secara kebetulan semata. dan malam ini, belum pernah Nur merasa setidak’enak ini.
benar saja. perasaan tidak enak itu, terus bertambah seiring mobil terus melaju, salah satu pertanda buruk itu adalah ketika, sebelum memasuki kota J, dimana tujuanya kota B, Nur melihat kakek-kakek yang meminta uang di persimpangan, ia seakan melihat Nur. tatapanya, prihatin.
bukan hanya itu saja, si kakek, mengelengkan kepalanya, seolah memberikan tanda pada Nur yang ada didalam mobil, untuk mengurungkan niatnya.

namun, Nur, tidak bisa mengambil spekulasi apapun, ada temanya yang lain, yang menunggu kabar baik dari observasi hari ini.

hujan tiba-tiba turun, tanpa terasa, 4 jam lebih perjalanan ini ditempuh. Mobil berhenti di sebuah tempat rest area yang sepi, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan, Nur, melihat hutan gelap, yang memanggil-manggil namanya.

“Hutan. desa ini ada di dalam hutan” kata mas Ilham.

Nur tidak berkomentar, ia hanya berdiri di samping mobil yang berhenti di tepi jalan hutan ini. sebuah hutan yang sudah di kenal oleh semua orang jawatimur.

Hutan D********, tidak beberapa lama, nyala lampu dan suara motor terdengar. mas Ilham, melambaikan tanganya.

“iku wong deso’ne, melbu’ne kudu numpak motor, gak isok numpak mobil soale” (itu orang desanya, masuknya harus naik motor, mobil tidak bisa masuk soalnya)

Nur dan Ayu, mengangguk, pertanda ia mengerti. tanpa berpikir panjang, Nur sudah duduk di jok belakang, dan mereka berangkat

memasuki jalan setapak, dengan tanah tidak rata, membuat Nur harus memegang kuat- jaket bapak yang memboncengnya, tanah masih lembab, di tambah embun fajar sudah terlihat disana-sini, malu-malu memenuhi pepohonan rimbun. Nur, melihat sesosok, wanita. ia sedang menari di atas batu
kilatan matanya tajam, dengan paras elok nan cantik, si Wanita, tersenyum menyambut tamu yang sudah ia tunggu.

melihatnya dari balik jalan lain, Nur mendapati, si wanita sudah hilang, tanpa jejak. ia tahu, dirinya sudah di sambut dengan entah apa itu.

memasuki Desa, mas Ilham berpeluk kangen dengan seorang pria yang mungkin seumuran dengan ayahnya di rumah.

pria itu ramah, dan murah senyum, menyambut tanganya, Nur mendengar si pria memperkenalkan diri.

“kulo, Prabu” (saya Prabu)

“sepurane Ham, aku eroh, kene wes kenal suwe, tapi deso iki gak tau loh gawe kegiatan KKN” (saya minta maaf ham, aku tahu, kita sudah kenal lama, tapi desa ini tidak pernah di pakai kegiatan KKN)

“tolong lah mas” kata mas Ilham, “dibantu, adikku,”

suasana saat itu, tegang.

“GAK ISOK HAM” kata pak Prabu menekan mas Ilham dengan ekspresi tak terduga.

“ngeten loh pak, ngapunten, kulo nyuwun tolong, kulo bakal jogo sikap ten mriki, mboten neko-neko, tolong pak” (begini loh pak, maaf, saya minta tolong, saya akan menjaga sikan disini)

(saya tidak akan aneh-aneh. tolong pak) ucap Ayu, matanya berlinangan air mata, ia tidak pernah melihat Ayu sengotot ini, mimik wajah pak Prabu yang sebelumnya mengeras, kini melunak.

“piro sing KKN dek?” (berapa yang KKN nanti dek?)

dengan bersemangat Ayu menjawab. “6 pak”

hari itu berakhir, dengan persetujuan pak Prabu dan tentu saja, masyarakat sekitar, sebelum meninggalkan tempat itu, Ayu dan Nur berkeliling memeriksa desa sebentar.

disana ia sudah tahu proker apa saja yang akan menjadi wacana mereka, salah satunya, kamar mandi dengan air sumur

ia tahu, masyarakat mendapatka akses air hanya dari sungai, jadi terfkirkan mungkin sumur lebih efisien, di tengah mereka merundingkan berbagai proker kelak, Nur, terdiam melihat sebuah batu yang di tutup oleh kain merah.

di bawahnya, ada sesajian lengkap dengan bau kemenyan.

diatasnya, berdiri sosok hitam, dengan mata picing, menyala merah. meski hari siang bolong, Nur bisa melihat, kulitnya yang di tutup oleh bulu, serta tanduk kerbau, mata mereka saling melihat satu sama lain, sebelum Nur mengatakan pada Ayu, bahwa, mereka harus pulang.
“lapo to Nur, kok gopoh men” (kenapa sih Nur, kok kamu buru buru pergi)

“kasihan mas Ilham, wes ngenteni” ucap Nur.

“yo wes, ayok” Ayu menimpali.

mereka pun segera naik motor, sebelum keluar dari desa itu. sosok yang Nur lihat, apalagi bila bukan Genderuwo.

“Nur, jak’en Bima, yo, ambek Widya, engkok ambek kenalanku, kating” (Nur, ajak si Bima, sama Widya, sama kenalanku kating) ucap Ayu didalam mobil.

“Bima, lapo ngejak cah kui” (ngapain sih ngajak Bima)

“ben rame, kan wes kenal suwe” (biar rame, kan sudah kenal lama) sahut Ayu

“kok gak awakmu sing ngejak to” (kenapa bukan kamu saja yang ngajak) timpal Nur.

“kan awakmu biyen sak pondok’an, wes luwih suwe kenal” (kan kalian pernah satu pondok, jadi sudah kenal lebih lama) “pokok’e jak en arek iku yo” (pokoknya ajak anak itu ya)

“yo wes, iyo” Nur pun mengalah.

“tak telpone Widya, ben cepet di gawekno Proposal’e mumpung pihak kampus gurung ngerilis daftar KKN’e, gawat kalau pihak kampus wes ngerilis yo, mumpung wes oleh enggon KKN dewe” (biar Widya tak telpon, biar cepat di buatkan proposalnya)

(mumpung kampus belum buat daftar KKN nya, bisa gawat kalau sampai kampus udah buat daftarnya, mumpung kita sudah punya tempat KKN nya)

pelan, mobil itu pun meninggalkan jalanan hutan itu. Nur dan Ayu, kembali ke kotanya, mempersiapkan semua, sebelum mereka nanti kembali.

siang itu, Nur melihat Widya dan Ayu di hari pembekalan sebelum keberangkatan KKN mereka.

setelah menunggu cukup lama, akhirnya 2 orang yang akan bergabung dalam kelompok KKN mereka pun muncul, namanya adalah Wahyu dan Anton. mereka pun membicarakan semua proker dan menentukan-

jadwal keberangkatan. semua anak sudah setuju, termasuk Widya, yang hampir sepanjang hari terus menceritakan, bahwa ibunya memiliki firasat yang buruk pada tempat KKN mereka. Nur hanya diam dan mendengar, karena di dalam dirinya, ia merasakan hal yang sama.
Malam keberangkatan, Nur, Widya, Ayu, Bima, Wahyu dan Anton, sudah berkumpul, perjalanan di lanjutkan dengan mobil elf yang sudah mereka sewa untuk mengantarkan mereka ke pemberhentian dimana nanti mereka akan di jemput oleh warga desa. Nur masih bisa melihat temanya, Widya,
memasang wajah tidak nyaman.

hanya sebuah harap, yang Nur panjatkan, bahwa mereka berangkat dengan utuh dan semoga, pulang dengan utuh juga.

tetapi, tidak ada yang tahu, doa seperti apa yang akan di ijabah oleh tuhan.

gerimis mulai turun, sepanjang perjalanan, Nur hanya melihat ke jalanan yang lengang.

tepat di pemberhentian lampu merah, seseorang, menggebrak kaca mobil Elf’nya, Nur begitu terkejut sampai tersentak mundur, dari dalam mobil, Nur melihat pengemis tua itu, ia terus menggebrak

mobil, membuat semua yg ada didalam mobil kebingungan, termasuk si sopir yang berteriak agar lelaki tua itu berhenti sembari melemparkan recehan, dari bibirnya, Nur melihat ia berucap

“ojok budal ndok” (jangan berangkat nak) suaranya terdengar familiar, seperti suara wanita tua

sampailah mereka ditempat pemberhentian, setelah menunggu, terlihat rentetan cahaya motor mendekat dari seberang jalan setapak, Nur mengatakanya. “iku wong deso sing nyusul rek” (itu orang dari desanya yang jemput kita)

tanpa membuang waktu, mereka pun melanjutkan perjalan.

jalanan setapak, dengan lumpur karena gerimis, pohon besar dan gelap, dengan kabut disana-sini, terlihat di sepanjang perjalanan.

hanya terdengar suara motor berderu, tanpa ada suara binatang malam, namun, semua berubah ketika tiba-tiba, dari jauh, terdengar suara gamelan.

suaranya sayup-sayup jauh, namun, semakin lama semakin terdengar jelas, Nur mengamati tempat itu, aroma bunga melati tercium menyengat di hidungnya

masih mencari, darimana suara itu terdengar, tepat di antara rerumputan di samping jalan setapak. terlihat, seorang wanita menunduk

ia menunduk, kemudian melihat Nur, di ikuti dengan lenggak-lenggok lehernya, serta ayunan gerakan tangan dan lenganya, yang bergerak seirama dengan suara gamelan, Nur melihat wanita itu menari.

menari di tengah malam, di tengah, kegalapan hutan yang sunyi senyap.

gerakanya begitu anggun, meski motor terus bergerak, Nur bisa melihat ia menari dengan sangat mempesona, seakan-akan ia bertunjuk untuk sebuah panggung yang tidak bisa Nur lihat.

siapa yang menari di malam buta seperti ini. Nur terdiam dalam kengerian yang ia rasakan sendirian.

ketika motor berhenti dan sampailah di desa, Nur tidak mengatakan apapun, ia melihat pak Prabu menyambut mereka, saat pak Prabu mempersilahkan mereka ke tempat peristirahatan mereka selama di desa ini, Widya tiba-tiba mengatakanya.

“Pak, kok Deso’ne pelosok men yo”

(Pak, kok desanya jauh sekali ya)

“pelosok yo opo to mbak, wong tekan dalam gede mek 30 menit loh” (pelosok darimana sih mbak, orang dari jalan raya hanya 30 menit)

Nur hanya melihat saja, ia tidak mau mengatakan apapun, termasuk wajah Ayu yg memerah entah karena malu atau apa.

mungkin, Ayu merasa Widya sudah melakukan hal yang tidak sopan, sebagai tamu, Widya memang seharusnya tidak mengatakan itu. di tengah perdebadan antara Widya dan Ayu, tiba2 dari balik pohon jauh, sosok hitam dengan mata merah tengah mengintai mereka. sialnya, hanya Nur yg melihat
akhirnya, perdebadan itu selesai, Nur meninggalkan sosok itu, yg masih mengintip dari balik pohon

ia masuk ke sebuah rumah milik salah satu warga yang tidak berkeberatan, untuk mereka tinggali selama menjalankan tugas KKN mereka, disana rupanya perdebadan Widya dan Ayu berlanjut

“koen iku kok ngeyel seh, wes dikandani, gak sampe setengah jam iku mau” (kamu kok keras kepala, sudah dikasih tau, tadi gak sampai setengah jam)

Nur masih melihat, alih-alih menengahi, Nur lebih kepikiran dengan hal lain, salah satunya, genderuwo itu, untuk apa ia mengintainya.

namun, tetiba, Widya mengatakan sesuatu yang membuat Nur tidak bisa mengabaikanya.

“Awakmu mau krungu ta gak, onok suoro gamelan nang tengah alas mau?” (kamu tadi dengar atau tidak, ada suara gamelan di tengah hutan tadi?!)

namun ucapan Widya di tanggapi Ayu dengan nada mengejek. “halah, palingan yo onok acara nang deso tetangga, opo maneh” (halah, paling tadi kebetulan ada yang mengadakan acara di desa tetangga, apalagi)

Nur, yang mendengar itu bereaksi pada Ayu.

“Yu, gak onok loh deso maneh nang

-kene)

“jare wong biyen, nek krungu suoro gamelan, iku pertanda elek” (kata orang dulu, bila mendengar suara gamelan, itu artinya sebuah pertanda buruk)

Malam itu, berakhir, meski perdebadan masih terus berlanjut di batin mereka masing-masing.

pertanda apa yang sudah menunggu

“Yu, aku kepingin ngomong, wong loro ae, isok kan” (Yu, aku ingin ngomong, sebentar, bisa kan?)

“ngomong opo Nur?” (ngomong apa Nur) tanya Ayu,

Nur dan Ayu pergi ke pawon (dapur) , wajah Nur, masih tegang, ia masih ingat, matanya tidak mungkin salah, ia melihat makhluk itu.

“Yu, aku takon. awakmu gak ngerasa aneh tah gok deso iki, awakmu jek iling, kok iso-isone pak Prabu sampek ngelarang keras, kene KKN nang kene. opo awakmu gak curiga blas tah”
(Yu, aku mau tanya, kamu gak ngerasa aneh’kah di desa ini, kamu ingat, kok bisa-bisanya pak Prabu-
-sampai, melarang keras, kita KKN disini, apa kamu gak curiga)

“Opo seh maksudmu ngomong ngunu?!” (apa sih maksudmu ngomong kaya gitu?!) ucap Ayu ketus.

“bekne, pak Prabu nduwe alasan, lapo ngelarang awak dewe KKN nang kene” (mungkin, pak Prabu punya alasan, kenapa melarang-

-kita KKN disini)

“nek awakmu ngomong ngene, soale perkoro Widya mau, ra masuk akal Nur, awakmu melu observasi nang kene kan ambek aku, opo onok sing aneh? gak kan. wes talah, mek pirang minggu tok ae loh” (kalau kamu ngomong begini karena perkara Widya tadi, gak masuk akal Nur-

kamu sendiri ikut aku observasi disini kan, apa ada yang aneh? gak kan, sudahlah, cuma beberapa minggu aja loh)

Ayu pergi, meninggalkan Nur. sementara Nur, tidak mungkin menceritakan apa yang ia lihat, Ayu bahkan tidak percaya dengan hal yang ghaib. Nur pun mengalah lagi.

“Nur” Widya memanggil, Nur pun menatap wajahnya yang sayu, tampak ia baru saja menangis, tidak aneh memang, siapa yang tidak akan menangis bila merasakan hal yang bahkan tidak masuk diakal seperti itu. “isok gak, aku jalok tulung” (bisa aku minta tolong) ucap Widya.
“tolong, ojok ceritakno yo, soal aku krungu gamelan mau, gak enak ambek warga kampung, kene kan tamu nang kene” (tolong jangan ceritakan ya, soal tadi, soal aku dengar gamelan, aku gak enak kalau sampai kedengaran warga desa, kita kan tamu disini)

Nur hanya mengangguk.

namun, sebelum Widya beranjak dari tempatnya, Nur tiba-tiba mengatakanya. “Wid, asline aku mau yo krungu suara iku mau, malah, aku ndelok onok penari’ne nang pinggir tulangan mau” (Wid, sebenarnya, aku juga mendengar suara gamelan itu, malah, aku melihat ada yang menari disana)
Widya yang mendengar itu dari Ayu, seakan tidak percaya, mereka terdiam cukup lama, bingung harus bereaksi seperti apa.

“wes, Nur, jogo awak dewe-dewe yo, insyallah, gak bakal onok kejadian opo-opo nek kene hormat lan junjung unggah-ungguh selama nang kene”

(sudah Nur, jaga diri baik-baik, ya, insyallah, gak bakal terjadi apa-apa, kalau kita hormat dan menjunjung sopan santun selama tinggal di tempat ini”

ucapan Widya setidaknya membuat Nur sedikit lebih legah, namun, Nur tidak menceritakan tentang sosok Hitam yang mengintai mereka

Malam pertama, Nur, Ayu dan Widya tidur dalam satu kamar yang sama, mereka sepakat untuk menggelar tikar, Nur ada di tengah, sementara Ayu dan Widya ada disamping kanan dan kiri Nur.

terdengar binatang malam bersahut-sahutan, berlomba untuk menunjukkan eksistensinya.

manakala Nur sadar, 2 sahabatnya sudah tertidur lelap, ia terjaga sendirian menatap langit-langit yang berupa genting hitam dengan sarang labah-labah.

rumah desa, tentu saja. pikir Nur, memaklumi, sekat kamarpun tidak menyentuh langit, jadi Nur, bisa melihat celah disana.

ketika memikirkan kejadian hari ini, Nur tiba-tiba tersadar, bahwa, suara riuh binatang malam tidak lagi terdengar, berganti dengan suara sunyi yang memekik membuat telinga Nur menjerit dalam ngeri.

perasaan tidak enak, tiba-tiba muncul begitu saja. membuat Nur, lebih awas.

ketika pandanganya, mencoba mencari cara untuk mengurangi rasa takutnya, di tengah cahaya lampu petromax yang memancarkan sinar temberam, di sudut sekat kamar, sosok bermata merah, mengintipnya.

Nur tercekat, ia beringsut mundur, menutup wajahnya dengan selimut yang ia bawa.

pancaran wajahnya terbayang didalam kepala Nur, mengingatnya, benar-benar membuat jantung di dadanya, berdegup kencang. ia masih ingat, tanduk kerbau di kepalanya, pancaran amarahnya seolah membuat Nur, semakin tersudut dalam ketakutan.

tanpa sadar, Nur mulai membaca ayat kursi.

satu dari banyak ayat yang diajarkan gurunya, untuk menolak rasa takut, untuk menunjukkan manusia memiliki kekuatan untuk melawan, namun, setiap ia menyelesaikan satu panjatan doa, di ikuti oleh suara papan kayu yang di gebrak dengan serampangan.

kerasnya suara itu, menghantam,

Nur mulai menangis, menangis sendirian, ia tahu, makhluk itu masih disana, tidak terima dengan apa yang ia lakukan, salahkah bila ia meminta bantuan pada tuhan.

salahkah.

tepat ketika isi hati Nur menyeruak, perlahan, suara itu menghilang, hilang, hilang, berganti hening.

Nur terbangun ketika subuh memanggil, ia masih belum mengerti, apakah itu mimpi, atau benar-benar terjadi, yang ia tahu, ia harus menjalankan tugasnya, sebagai seorang muslimah yang taat, ia, tidak boleh meninggalkan sholat.

Nur, hanya meyakinkan dirinya, tidak akan bercerita-

bahkan, kepada 2 sahabatnya, atas apa yang barusaja menimpanya.
pagi hari, pak Prabu mengumpulkan semua anak. mengatakan bahwa hari ini, ia akan memperkenalkan keseluruhan desa, dan mana saja yang bisa di jadikan proker untuk mereka kerjakan sesuai kesepakatan per’anak.

pak Prabu menjelaskan sembari berjalan, sementara anak-anak mengikutinya

tidak ada yang menarik dari penjelasan pak Prabu tentang desa itu, bahkan pak Prabu terkesan menyembunyikan sejarah desa itu, membuat Nur semakin curiga, selain hal-hal umum, hanya Wahyu, kating’nya yang selalu menimpali ucapak pak Prabu dengan candaan, membuat tawa’nya pecah
semua terasa alami, seperti KKN yang Nur bayangkan, sampai, mereka berhenti di sebuah tempat yang membuat Nur tidak nyaman. sebuah pemakaman, di sampingnya, banyak pohon beringin besar.

selain itu, pemandangan pemakaman itu, juga terkesan sangat aneh.

setiap patek (batu nisan) ditutupi dengan kain hitam, membuat Nur, atau semua orang, merasa penasaran, apa alasanya?

namun Nur, merasakan angin dingin, seperti mengelilinginya, ia tahu, ada yang tidak beres dengan tempat ini. seakan-akan, tempat ini, sudah menolaknya.

ada satu hal yang membuat Nur semakin curiga kepada pak Prabu, dimana tiba-tiba, ia terpicu oleh kalimat Wahyu, kemudian beliau melontarkan ucapan bernada mengancam, seakan-akan, pak Prabu menjaga sesuatu yang sakral namun mengancam. apa yang pak Prabu sebenarnya sembunyikan?!
untungnya, Bima langsung menengahi insiden itu, membuat pak Prabu kembali menjadi pak Prabu yang sebelumnya.

namun, Nur, seakan tahu, ia tidak sanggup lagi mengikuti kegiatan keliling desa ini, maka ia, ijin pamit untuk kembali ke penginapan, untungnya, pak Prabu mengijinkanya.

Bima, menawarkan diri untuk mengantar Nur, dan pak Prabu sekali lagi, mengijikan.

semua anak melanjutkan tour mereka bersama pak Prabu, sementara Nur dan Bima, berjalan kembali ke area rumah tempat mereka menginap.

“onok opo Nur? setan maneh?” (ada apa Nur? ada hantu lagi?)

dari semua anak, memang tidak ada yang lebih mengenal Nur daripada si Bima, temanya bahkan saat mondok dulu.

Nur hanya tersenyum kecut, menjawabnya seadanya, bila mungkin kesehatanya sudah menurun, namun Bima tahu, Nur berbohong.

“nang kuburan mau, rame ya” (di pemakaman-)

(-tadi, rame ya)

ucapan Bima tidak di gubris sama sekali dengan Nur, sehingga Bima akhirnya menyerah, di tengah perjalanan pulang itu, tiba-tiba Bima menanyakan sesuatu yang membuat Nur menaruh curiga pada Bima.

“Nur, aku takok. Widya wes nduwe pacar rung?”

(Nur, Widya itu sudah punya pacar apa belum sih?)

“piye?” (gimana?) tanya Nur lagi.

“kancamu” (temanmu) “Widya loh, wes onok pacar opo durung?” (Widya loh, sudah punya pacar apa belum?)

“takono dewe ae yo” (tanyakan sendiri saja ya)

Nur tahu, Bima suka kepada Widya hari itu.

Nur yang menghabiskan sebagian siangnya di dalam kamar, terbangun ketika Ayu memanggilnya.

semua anak sudah berkumplul, dan Ayu menunjukkan proposal proker mana saja yang sudah di setujui pak Prabu, dimana Ayu, membagi menjadi 3 kelompok, terlepas dari 1 proker kelompok

Widya dengan Wahyu, Nur dengan Anton, sementara Bima dengan Ayu.

semua anak sepakat, tidak ada yang komentar banyak, mengingat, Ayu yang paling berjasa sehingga bisa mendapatkan tempat KKN tanpa campur tangan pihak kampus.

lusa, adalah awal dari persiapan proker mereka.

sore datang, ketika Nur baru saja selesai merapikan barangnya untuk persiapan proker kelompok, Widya masuk ke kamar.

“Nur, ados yok” (Nur, mandi yuk)

“nang ndi?” (dimana?) tanya Nur,

“nang Bilik sebelah kali, cidek Sinden kui loh, eroh kan awakmu, kolam cilik”

(di bilik sebelahnya sungai, ada sebuah bilik kecil, tahu kan, yang bangunanya kaya kolam itu loh)

Nur, tidak menjawab. namun setelah memikirkan, bahwa ia belum membasuh badanya sejak pertama kali datang kesini, ia pun setuju. dengan syarat, Nur mau menjadi yang pertama mandi.

saat melewati Sinden, Nur sudah merasakan perasaan tidak nyaman, Sinden itu terdiri dari anak tangga yang di susun dengan batu bata merah, tampaknya bangunanya sudah sangat tua, ada air jernih di dalamnya, namun, Nur tidak pernah melihat ada yang menggunakan air itu.
selain itu, fokus Nur tentu pada bentuk menyerupai candi kecil di belakangnya, dan di pelataran candi, ada sesajen, hal yang sudah lumrah di tempat ini, hanya saja, Nur tidak melihat adanya gangguan saat ia mengamati Sinden itu.
sampailah mereka di bilik, yang di belakangnya ada pohon besar, pohonya rindang dengan rimbun semak di samping Bilik, Widya memberitahu Nur, bila di dalamnya ada kendi besar yang sudah di isi oleh warga dari sungai, dan memang untuk mandi anak-anak KKN.
baru masuk, Nur langsung mencium aroma amis, seperti aroma daging busuk, namun Nur mencoba mengerti, mengingat Biliknya sendiri tidak terlihat seperti kamar mandi yang bersih, lantainya dari tanah, sedangkan kiri-kanan di penuhi lumut, jadi Nur mencoba memaklumi.
ia pun segera membasuh badanya dengan air di dalam kendi, namun, ada perasaan aneh ketika air membilas badanya, seperti ada benda kecil, yang mengganjal saat bersentuhan dengan kulit Nur.

ketika, di perhatikan dengan seksama, apa yang ada di dalam kendi, air itu di penuhi rambut

Nur kaget, istighfar terus menerus, sembari ia beringsut mundur, ia mencoba memanggil Widya. namun aneh, tidak ada jawaban apapun dari Widya.

Nur, dengan berselimut handuk, mencoba membuka pintu bilik, namun, pintu seperti di tahan oleh orang yang ada di luar.

“Wid, bukak!! Wid bukak” teriak Nur, sembari menggedor pintu anyam bambu itu.

namun, tetap tidak ada jawaban apapun dari Widya, sampai, Nur menyadari, di belakangnya, ada sosok Hitam itu, besar sekali, sampai menyentuh langit bilik.

Nur pun memejamkan mata rapat-rapat.

yang pertama ia lakukan adalah istighfar kencang-kencang, sembari tanganya mencari batu di tanah bilik, ketika tanganya berhasil meraih sebuah batu, Nur melemparkan kuat-kuat batu itu, sembari mengucap, doa yang di ajarkan gurunya bila bertemu lelembut, sampai, sosok itu lenyap,
butuh waktu untuk Nur menenangkan diri, ia tahu, ia sudah di incar, namun kenapa ia di incar, ia tidak melakukan apapun yang membuatnya di incar, bahkan bila karena ia secara tidak sengaja melihat makhluk itu, seharunya bukan hanya Nur yang sial, tapi makhluk itu juga sial.
tiba-tiba pintu terbuka, dimana Widya melihat Nur dengan ekspresi ganjil.

“lapo Wid?” (kenapa Wid?)

“He?” “gak popo” ucap Widya saat itu.

“wes ndang adus, ben aku sak iki seng jogo, cepetan yo, wes peteng” (ayo mandi, biar aku yang jaga, cepat ya, sudah mau malam)

awalnya Widya tampak ragu, ia seperti mau mengurungkan niatnya, tidak hanya itu, Widya seperti mau mengatakan sesuatu namun kemudian mengurungkanya, ia kemudian menutup pintu bilik.

ketika Nur, berjaga di luar, ia sayup-mendengar suara orang berkidung.

penasaran, Nur mulai mencari sumber suara, dan berakhir pada gemah dari dalam Bilik. takut, hal buruk terjadi, Nur mencoba memanggil Widya, menyuruhnya agar ia segera menyelesaikanya, namun, Widya tidak menjawab teriakanya, suara kidung itu, terdengar semakin jelas.
dari samping Bilik, ada semak belukar, Nur mencoba melempar batu darisana, namun, ia terperanjat saat tahu, dibelakang bilik ada sesaji, lengkap dengan bau kemenyan di bakar

Nur mencoba mengabaikanya, tetap berusaha memanggil sahabatnya, sampai, dari salah satu celah, ia melihat

yang didalam bilik, bukan Widya, namun sosok cantik jelita, siapa lagi bila bukan, si penari yang Nur lihat di malam kedatanganya di desa ini.

wanita cantik itu, membasuh badanya dengan anggun, sembari berkidung dengan suara yang membuat Nur tidak tahu harus berujar apa.

dimana Widya. pikir Nur, ia tidak menemukan sahabatnya, tidak dimanapun ia mencoba melihat.

sampai, sosok itu tersenyum seolah tahu, Nur melihatnya. lalu, ia bergerak menuju pintu, membukanya, dan saat itulah, Nur melihat Widya, keluar dengan wajah kebingungan,

selama diperjalanan pulang, Widya mencoba mengajak bicara Nur, namun, Nur tidak merespon ucapan Widya, ia memikirkan apa yang barusaja ia lihat bukan hal kebetulan semata. seperti sebuah pesan,

pesan apa?

Widya dalam bahaya, atau, dirinya yang sedang dalam bahaya.

Malam setelah sholat Isya, Nur berpamitan sama Ayu dan Widya, ia ingin menemui pak Prabu, untuk pengajuan proposal prokernya bersama Anton.

Ayu sempat bertanya pada Nur, apakah Anton menemani, namun Nur mengatakan, ia bisa sendiri, meski Ayu menawarkan diri, namun Nur menolaknya

ada hal yang mau di luruskan, bukan prokernya, namun apa yang sebenarnya terjadi disini, pak Prabu tahu sesuatu. setidaknya itu asumsi Nur.

dan, ia merasa harus bertemu beliau malam ini, seakan-akan ada yang membisikinya bahwa, ia harus pergi ke rumah pak Prabu.

benar saja. pak Prabu duduk di teras rumah, seakan-akan, beliau sudah menunggunya. namun, ada sosok lain yang duduk bersamanya, seorang lelaki renta, ia duduk, sembari mengisap bakau lintingan, dan ketika Nur datang, si lelaki tua, tersenyum seperti mengenalinya.
Nur mendekat, memberi salam, pak Prabu tersenyum ramah seperti biasanya, lalu mempersilahkan Nur duduk, namun, Nur lebih tertuju pada 3 gelas kopi yang tersaji.

“niki tiang’e ten pundi to pak, kopi’ne kelebihan setunggal??” (ini yang punya kemana ya pak, kopinya kelebihan satu?)

“iku kopi, gawe awakmu, cah ayu” (itu kopi untuk kamu, mbak yang cantik) ucap lelaki renta itu. ia masih tersenyum, memandang Nur.
“ngapunten mbah, kulo mboten ngopi” (mohon maaf kek, saya tidak minum kopi)

“wes ta lah, di ombe sek, gak oleh nolak paringane tuan rumah nang kene yo. gak apik” (sudahlah, di minum dulu, gak baik nolak pemberian tuan rumah disini. tidak bagus pokoknya)

“nggih pak” ucap Nur

ketika Nur menyesap kopinya, aneh, kopi itu terasa seperti aroma melati, rasanya manis, dan ia tidak menemukan ampas, padahal dari luar, kopi itu terlihat seperti kopi hitam yang sekali lihat, bisa di rasakan rasanya akan sepahit apa.

si kakek bertanya. “yo opo rasane?”

“Enak mbah”

si mbah mengangguk puas, kemudian bertanya kembali. “sak iki ceritakno, onok opo, cah ayu mrene?” (sekarang, kamu boleh cerita, kenapa kamu kesini anak cantik?)

“kulo bade tandet ten pak Prabu mbah” (saya mau tanya sama pak Prabu kek)

“takon perkoro” (tanya soal)

“kulo di ketok’e memedi sing gedeh mbah, kulo wedi mbah, nganggo salah ten mriki, ngapunten nek kulo enten salah nang njenengan warga mriki” (saya di ikuti oleh sosok besar kek, saya takut. apa saya sudah melakukan kesalahan, sehingga saya dikejar, apa ada yang saya perbuat-
-dan membuat tidak nyaman warga sini, saya minta maaf sebesar-besarnya)
saat itulah, pak Prabu bicara

“ndok, guk salahmu kok, sing ngetutke awakmu, iku ngunu, gak nyaman, mbek sing mok gowo” (nak, ini bukan salahmu, alasan kenapa kamu diikuti, karena kamu bawa sesuatu dari luar)

“maksude yok nopo pak, kulo mboten ngetos maksud njenengan” (maksudnya bagaimana pak, saya tidak mengerti maksud anda)

si kakek, kemudian melanjutkan. “awakmu ndok, iku ngunu, onok sing njogo, yo. sopo?? mbah dok, nah, iku sing gak di terimo nang kene. ngerti ndok”

(kamu itu nak, ada yang menjaga, siapa ya? nenek-nenek, nah, itu yang tida diterima disini. paham nak)

“kulo, njogo? ngapunten, kulo mboten paham” (saya, menjaga. mohon maaf, saya belum mengerti)

“wes, ngene ae, mene bengi, mampir rene maneh yo, tak duduno sesuatu”

(sudah begini saja, besok malam, kamu kesini, saya tunjukkan sesuatu sama kamu)

meski tidak mengerti maksud ucapan pak Prabu dan lelaki renta itu, Nur akhirnya kembali ke penginapanya. dengan membawa nama lelaki renta itu, yang menyebut dirinya dengan nama “Mbah Buyut”

yang pertama Nur lihat saat ia menginjak penginapan adalah, Widya. ia seperti sudah menunggunya, dan benar saja, Widya mengajukan pertanyaan aneh-, seperti darimana, kenapa tidak minta di temenin, namun, Nur tidak ingin menceritakanya, ia takut bila Widya dan yang lain terlibat.
Nur langsung pergi ke kamar, beristirahat, meski pikiranya masih menerawang jauh, ia tidak tahu harus melakukan apa selain menyimpanya sendiri.

berharap mendapatkan ketenangan dalam tidurnya, Nur malah mendapat mimpi, tak terlupakan, sepeti sebuah pesan untuknya.

di mimpi itu, Nur melihat sebuah tempat, banyak pepohonan yang tumbuh, salah satu yang tidak akan pernah Nur lupakan adalah pohon Jati kroyo atau lebih dikenal dengan nama jati belanda yang tumbuh di sepanjang mata memandang, bukan hanya itu, ada rimbun tumbuh tanaman beluntas.
aroma dedaunan beluntas yang wangu, membuat Nur mengingat kembali saat ia masih tinggan di pesantren, namun, Nur sadar, bahwa ia saat ini, berdiri di tengah hutan belantara, sendirian, dengan kegelapan malam yang menyiutkan nyalinya. Nur, mulai berjalan, menyusuri tanah lapang
sejauh mata memandang, Nur hanya melihat pepohonan yang besar diselimuti kabut keputihan, tepat ketika Nur tengah berjalan, ia mendengar riuh sorai dari kejauhan, dari suara itu, terdengar ramai orang, entah ada apa, sehingga keramaian itu, membuat Nur penasaran, ia pun mendekati
semakin mendekati sumber suara, Nur merasa janggal, entah apakah dari balik pepohonan atau semak belukar, ada yang tengah mengasinya, Nur hanya mengucap kalimat yang bisa menguatkan batinya, bahwa ia, disini, bukan berniat menganggu.
“mbah, ngapunten, cucu’ne numpang lewat, mboten gada niat nganggu. ngapunten nggih mbah” (mbah, mohon maaf, cucu’mu hanya ingin lewat, tidak ada keinginan mengganggu, mohon maaf ya mbah)

kalimat itu, terus Nur, ucapkan. dan, sampailah, ia, di keramaian itu.

banyak sekali orang, mulai dari yang tua, hingga yang muda, dari anak-anak sampai remaja, mereka semua berkumpul menjadi satu, didepan sebuah sanggar besar, ada alunan musik gamelan, yang mengalun merdu, tepat, ditengah sanggar, ada sosok penari yang sangat cantik.
Nur, tidak pernah tahu, ada tempat seperti ini di desa ini, sebelumnya, ia memang tidak mengikuti pak Prabu saat mengajak semua rombongan temanya berkeliling kampung, maka, saat itu, Nur hanya berpikir, di tempat inilah, warga kampung mengadakan hajatan.
Nur masih belum menyadari, kenapa dan bagaimana ia bisa sampai disana, yang ia tahu, ia tersesat sampai akhirnya berakhir ditempat ini

ketika, Nur tengah asyik menikmati pertunjukkan itu, tiba-tiba, terdengar sayup seseorang berteriak, anehnya, hanya Nur yang merasa mendengarnya

teriakanya pilu, meminta tolong, Nur pun meninggalkan keramaian itu, matanya awas, mencari sumber suara yang meminta tolong itu, naas, ketika Nur tengah berjalan, ia terpelosok jatuh dari sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi, mencoba bangkit, Nur melihat kakinya mati rasa.
saat itulah, Nur melihatnya.

seekor ular tengah menatapnya, ia mendesis, membuat Nur hanya bisa terpaku melihatnya.

sisiknya hijau zambrud, meski ukuranya tidak terlalu besar, ular itu cukup membuat Nur ketakutan, dengan tenaga yang tersisa, Nur merangkak menjauhinya.

masalahnya, adalah, setelah itu, muncul orang yang Nur kenal, sosok yang berjalan mendekati Nur, Widya,

Widya memeluk ular itu, seperti peliharaanya, membiarkan ular itu, melilit lenganya, seakan-akan ular itu adalah temanya.

melihat itu, Nur tidak tahu harus bicara apa

karena setelah itu, Nur tersentak dari tidurnya setelah mendengar suara bising dari luar rumah.

meski masih dalam keadaan shock, Nur segera berlari menuju suara bising itu, rupanya, di luar rumah, ramai orang tengah berkumpul.

Nur melihat, Wahyu, Ayu, ibu pemilik rumah, Widya

entah apa yang mereka lakukan, Nur belum mengerti sama sekali.

yang ia dengar hanya ucapan ibu pemilk rumah.

“Wes, wes, ayo ndok, melbu ndok, wes bengi” (sudah, sudah, ayo masuk, sudah malam)

namun, ketika mata Nur dan Widya bertemu, ada tatapan kebingungan disana.

Wahyu kembali ke posyandu tempat ia menginap, sementara si ibu pemilik rumah, menggandeng Widya masuk ke rumah, hanya tinggal Ayu dan Nur yang ada di luar rumah.

“onok opo toh yu, kok rame men?”
(ada apa sih yu, kok berisik sekali?)

“Wahyu. jarene ndelok Widya nari nang kene. mboh lapo, aku yo kaget pas ndelok, gak onok Widya nang kamar” (Wahyu, bilang, melihat Widya sedang menari disini, entahlah kok bisa, aku juga kaget waktu melihat Widya tidak ada didalam kamar)
Nur yang mendengar itu, hanya diam, sembari memikirkan mimpinya.

Widya, hanya itu yang terbesit dalam pikiranya Nur. ia tahu, ada yang janggal dari dirinya, Widya dan tempat ini.

keesokan hari. sesuai janji yang Nur buat, ia bertemu dengan mbah Buyut dengan pak Prabu, kali ini, Nur di ijinkan masuk ke dalam rumahnya.

yang mbah Buyut pertama ucapkan adalah “ndok, mambengi ngimpi opo?” (nak, semalam kamu mimpi apa?)

Nur pun menceritakan semuanya, termasuk insiden saat ia melihat Widya yang di pergoki Wahyu tengah menari di malam buta.

mbah buyut hanya mengangguk, tidak berbicara apapun, ia hanya berujar, bahwa, yang ingin di ketahui Nur, adalah sosok hitam yang mengikutinya.

Malam itu juga, pak Prabu, mbah Buyut, dan Nur pergi ke sebuah batu, tempat pertama kali Nur melihat sosok hitam itu.

disana, pak Prabu, menggorok seekor ayam, dimana darahnya di tab di sebuah wadah, sebelum menyiramkanya di batu itu.

“ndok, awakmu percoyo, nek gok alas iki, onok deso maneh, sing jenenge Deso Brosoto” (nak, kamu percaya, di hutan ini, ada desa lain yang namanya desa halus)

Nur mengangguk, ia percaya.

Mbah Buyut tersenyum, “sing bakal mok delok iki, siji tekan atusan ewu wargane deso iku”

(yang akan kamu lihat sebentar lagi, itu satu dari ratusan ribu penghuni dari desa tersebut)

Nur terdiam mendengarnya, dan benar saja, ia bisa meihat makhluk hitam itu, tengah menjilati batu yang baru di guyur darah ayam kampung itu.

Makhluk itu, hanya menjilati darah itu, kemudian, pak Prabu mengatakanya.

“awakmu sadar utowo gak, asline, awakmu gowo barang alus sing di anggap tamu nang deso iki, coro alus’e ngunu yo ndok” (kamu sadar atau tidak, sebenarnya, membawa tamu ke desa ini, cara gampangnya gitu)

“tamu sing mok gowo, iku ngunu seneng ngejak geger ambeh warga deso iki” (tamu yang kamu bawa itu, suka sekali membuat masalah di desa ini)

“masalahe, sing mok gowo iku wes di kunci nang njero Sukmo’mu, nek di jopok, awakmu isok mati” (masalahnya, barang itu sudah terikat di-

sukma kamu, bila di ambil, bisa mati)

“aku wes ngerembukno karo mbah Buyut, nek barangmu gak usah di jopok, tapi, di culno, selama awakmu masih onok nang kene, barangmu kepisah ambek awakmu”

(aku sudah berunding sama mbah Buyut, bila apa yang ada dalam diri kamu, gak usah-

diambil, tapi di lepaskan saja, selama kamu masih disini, dia tidak akan pergi jauh)

“barang nopo to mbah?” (barang seperti apa?)

Mbah Buyut mendekati Nur, sebelum, menarik ubun-ubunya, kemudian melemparkanya ke batu itu.

setelah itu, Nur, tidak bisa melihat makhluk hitam itu lagi.

“wes mari ndok, sak iki, awakmu isok fokus garap tugasmu, gak bakal onok sing nganggu maneh” (sudah selesai nak, sekarang, kamu bisa fokus garap tugasmu, gak akan ada yang ganggu kamu lagi)

Siang itu, Nur dan Anton, tengah mengerjakan proker mereka bersama warga desa, ketika hari sudah siang, ia tanpa sengaja melihat Widya dan wahyu, serta pak Prabu dan Ayu tengah mengendarai motor, mereka pergi meninggalkan desa, entah kemana.
“Nur, kancamu iku loh kok aneh seh” (Nur, temanmu itu kok aneh sih) tiba-tiba, Anton mengatakan itu

“aneh? sopo?” (aneh, siapa?)

“sopo maneh, kancamu, Bima” (siapa lagi, temanmu, si Bima)

“aneh yo opo?” (aneh bagaimana?)

“aku gelek ndelok cah kui ngomong dewe, ngguya-ngguyu dewe nang kamar, trus, sepurane yo Nur, aku tau ndelok arek’ Onani” (aku sering melihat anak itu bicara sendiri, tersenyam-senyum di kamar, bahkan, aku pernah melihatnya, mohon maaf ya Nur, anak itu Onani dalam kamar)
Nur yang mendengar itu tidak bereaksi apapun, hanya berucap”halah, gak mungkin lah” seakan apa yang dikatakan Anton hanya gurauan.

“temen? sumpah!!” (serius? beneran!!)

“ambek, ojok ngomong sopo-sopo yo, temen yo, tak kandani?” (sama, tapi janji jangan bilang siapa-siapa ya)

“kancamu kui, gelek gowoh muleh sesajen, trus, di deleh nang nisor bayang’e,” (temanmu itu, sering membawa pulang sesajen, trus dia menaruh benda itu di bawah ranjang)

Nur masih mencoba menahan diri, ia masih tidak bereaksi mendengar Bima di tuduh seperti itu oleh Anton.

namun, seketika emosi Nur tak terbendung saat Anton mengatakan itu.

“trus, nang ndukur Sesajen iku, onok fotone kancamu, Widya, opo, Bima kate melet Widya yo” (trus, di atas sesajen itu, aku menemukan foto temanmu, Widya, apa, Bima mau pelet si Widya ya)

“awakmu gor di jogo yo lambene, ojok maen fitnah yo” (kamu itu, tolong di jaga mulutnya, jangan maen fitnah seperti ini)

“nek awakmu gak percoyo, ayok tak jak nang kamare, ben awakmu ndelok, nek aku gak mbujuk” (kamu kalau gak percaya ayo sini ikut, tak tunjukkan kalau aku-

tidak pernah berbohong)

mendengar Anton menantang seperti itu, saat itu juga, Nur mengikuti Anton yang tengah berjalan menuju tempat mereka menginap.

seketika Nur tidak bisa berbicara apa-apa saat melihat itu di depan mata kepalanya sendiri, seperti Nur ingin menghantam kepala Bima saat itu juga. ia tidak pernah tahu, Bima segila ini.

teman sepondok pesantrenya jadi seperti ini.

“aku wani ngajak awakmu awan ngene soale aku apa nek ngene iki, Bima nang kebon kaspe ambek Ayu, nggarap proker’e, gak masalah opo-opo, tapi, asline aku wedi yu, ben bengi, aku krungu suoro arek wedok nang kene”
(alasan kenapa aku berani ngajak kamu kesini karena aku tahu, si Bima dan Ayu pasti sekarang garap prokernya di kebun ubi, bukan masalah apa-apa sih, tapi sebenarnya aku takut, setiap malam, aku dengar suara perempuan disini)
ucapan Anton yang terakhir, membuat Ayu tidak dapat bicara lagi, saat ia, termenung sendiri, entah kenapa, insting Nur, mengatakan ada yang di sembunyikan oleh temanya.

“sopo sing nang kamar ambek Bima?” (siapa yang ada dikamar sama Bima?)

“yo iku masalahne” (itu masalahnya)

“ben tak enteni cah iku metu, gak onok sing metu takan kamare” (setiap tak tungguin, tidak ada yang keluar dari kamarnya)

Nur, tiba-tiba mendekati almari, ia merasa mendengar sesuatu disana. tepat ketika, almari itu terbuka, Nur dan Anton tersentak kaget saat melihat, ada ular

-didalamnya.

Ular itu berwarna hijau, kemudian lenyap setelah melewati jendela posyandu.

Anton dan Nur hanya saling menatap satu sama lain, tidak ada hal lagi yang harus mereka bicarakan.

semenjak saat itu, Nur selalu mengawasi Bima, bahkan ketika akhirnya pak Prabu tiba-tiba mengatakan bahwa mereka semua akan tinggal satu atap, meski terpisah dengan sekat. dari situ juga, Nur jadi lebih tahu, Bima seringkali mengawasi Widya tanpa sepengetahuan siapapun
yang paling tidak bisa Nur lupakan adalah, saat ia bertanya perilah kenapa ia jarang melihat Bima sholat lagi. Bima selalu berdalih, tidak ada alasan kenapa ia harus mengatakan pada orang saat ia beribadah.

meski Bima selalu bisa membalik pertanyaan Nur, ia tahu, Bima berbohong

puncaknya, ketika itu, sore hari, Nur barusaja selesai sholat asar di dalam kamar, tiba-tiba, ia mendengar suara bising dari samping kamar, Nur pun beranjak, mencari sumber suara.

manakala ketika ia mencari, ia melihat Bima, sedang menabur sesuatu di tempat dimana Widya

biasa duduk.

Nur, yang selalu membersihkan bunga-bungaan itu. aneh, namun kelakukan Bima semakin membuat Nur penasaran.

namun, masalah tidak hanya berhenti di Bima saja, melainkan sahabatnya Widya.

setelah maghrib, Nur pergi ke dapur untuk minum, saat, ia melihat Widya-

menatapnya.

wajahnya kaget dan bingung melihat Nur, “lapo Wid?” tanya Nur yang juga kaget dan bingung.

mata mereka saling bertemu, namun, hanya untuk saling mengamati satu sama lain.

ketika Nur mendekati Widya, tiba-tiba Widya berlari ke kamar, lalu kembali menemui Nur, matanya tampak seperti barusaja melihat setan.

“onok opo toh asline?” (ada apa sih sebenarnya?) tanya Nur.

Nur melihat tangan Widya sampai gemetaran,

Nur tidak tahu, kenapa Widya menjadi seperti ini, sampai pertanyaan Ayu, membuat Nur terhenyak dan menyadari anak-anak semua berkumpul disana.

“ramene, onok opo toh” (ramai sekali, ada apa sih) tanya Ayu.

“gak eroh, cah iki, di jak ngomong ket mau, meneng tok” (tidak tahu, anak ini, di ajak ngomong diam saja daritadi)

“lapo Wid?” (kenapa Wid?) tanya Wahyu yang mendekati.

“tanganmu kok sampe gemetaran ngene, onok opo seh asline?” (tanganmu kok sampai gemetar begini, ada apa?)

kata Anton tidak kalah penasaran.

“Nur jupukno ngombe kunu loh, kok tambah meneng ae” (Nur ambilkan air minum gitu loh, kok malah diam saja)

kaget mendengar teguran Anton, Nur lalu mengambil teko air, dan memberikanya pada Widya, disini hal mengerikan itu terjadi..

ketika Widya meneguk air dari teko yang sama dengan teko yang Nur minum tadi, tiba-tiba Widya berhenti meneguknya, membiarkan air itu berhenti di dalam mulutnya, lantas, Widya kemudian memasukkan jemarinya ke dalam mulut, dan darisana, keluar berhelai-helai rambut hitam panjang.
Nur dan yang lainya terperangah manakala Widya menarik sulur rambut itu dengan tanganya, tidak ada yang bisa berkomentar,

lalu, Widya memeriksa isi teko, disana, semua orang melihat, didalamnya, ada segumpal rambut hitam panjang didalamnya.

insiden itu membuat Widya memuntahkan isi perutnya, di tengah ketegangan itu, Anton tiba-tiba berucap “Wid, awakmu di incer ya, nek jare mbahku, lek onok rambut gak koro metu, iku nek gak di santet yo di incer demit”
(Wid, ada yang ngincar kamu ya, kalau kata kakekku, bila tiba- keluar rambut entah darimana, biasanya kalau tidak di santet ya di incar setan)

ucapan Anton, membuat suasana semakin tidak kondusif, ditengah kepanikan itu, tiba-tiba Nur, teringat dengan sosok penari yg ia lihat

“Wid, opo penari iku jek ngetutno awakmu, soale ket wingi, aku gorong ndelok nang mburimu maneh” (Wid, apa penari itu masih mengikuti kamu, soalnya dari kemarin, aku belum melihatnya lagi) ucapan spontan Nur, membuat semua orang mengerutkan dahi, sehingga Nur akhirnya diam.
setelah kejadian itu, Nur merasa bersalah, sehingga ia mencoba menjauhi Widya, disini, tanpa sengaja, Nur mencuri dengar suara seseorang yang tengah berteriak satu sama lain

Nur terdiam untuk mendengarkan

rupanya, suara itu berasal dari Ayu dan Bima,

untk apa mereka berkelahi

ada satu kalimat yang paling di ingat oleh Nur, adalah, kalimat ketika Bima mengatakan.

“nang ndi Kawaturih sing tak kek’no awakmu, aku kan ngongkon awakmu ngekekno nang Widya seh!!! kok arek’e gorong nerimo iku!!”

“dimana mahkota putih yang aku serahkan sama kamu-

aku kan sudah nyuruh kamu memberikanya kepada Widya!! kok dia belum nerima benda itu!!”

Nur tidak memahami maksud mahkota putih itu, namun, Nur mengerti, ada sesuatu, diantara mereka.

semenjak kejadian itu. Nur merasa, firasatnya semakin buruk, di mulai dengan suara berbisik dari warga.

banyak warga yang mengeluhkan bahwa proker Ayu dan Bima adalah proker yang paling banyak di tentang, namun Nur belum paham alasan kenapa di tentang.

sampai Anton memberitahu.

“Bima, kancamu kui, kate gawe rumah bibit, nang nduwor Tapak tilas, yo jelas di tentang, wong enggon iku keramat” (temanmu si Bima, dia mau buat rumah bibit, di jalan tapak tilas, tentu saja banyak yang gak terima, itu tempat di keramatkan)

Nur masih belum mengerti maksud Anton.

“tapak tilas, nggon opo iku, kok sampe di larang, kan bagus proker’e gawe kemajuan desa iki” (Tapak tilas itu tempat apa, kok sampai di larang, kan bagus proker mereka untuk kemajuan desa ini) ucap Nur,

“yo aku gak eroh, wong, di larang kok” (ya aku mana tau, pokoknya di larang)

“nang ndi seh, nggon iku, kok aku gak eroh, awakmu isok ngeterno aku gak?” (dimana sih tempatnya, kok aku gak tau, kamu bisa antarkan aku kesana) ucap Nur penasaran

“Lha matamu, gendeng’a wong pak Prabu ae mewanti ojok sampe melbu kunu, iku ngunu langsung alas”

(lha, matamu, gila aja, pak Prabu sendiri melarang masuk kesana, itu tempat langsung ke hutan belantara)

namun, Nur masih penasaran, sehingga ia tetap bersikeras mau kesana, jadi ia bertanya pada Anton meski dengan mengatakan bahwa ia bertanya untuk menghindari tempat itu.

Anton, setuju. ia memberitahu ancer (letak) tempat itu berada, yang ternyata adalah lereng bukit dengan satu jalan setapak ke atas, di sampingnya, memang adalah perkebunan ubi tempat Bima dan Ayu melaksakan proker, namun, sore itu, 2 anak itu tidak ada disana. entah kemana.
setelah selesai memberitahu, Anton mengajak Nur pergi darisana, namun, Nur mengatakan, sore ini ada janji temu dengan pak Prabu, jadi jalan mereka akan berpisah disini. meski awalnya Anton curiga, namun akhirnya ia percaya dan pergi.

setelah Anton pergi, Nur menatap tempat itu

ia menatap lama, gapura kecil, sama seperti yang lain, ada sesajen disana, tidak hanya itu, gapura itu di ikat dengan kain merah dan hitam, yang menandakan bahwa tempat itu sangat di larang, namun, insting rasa penasaranya sudah tidak tertahankan lagi, seperti memanggil.
jalanya menanjak dengan sulur akar dan pohon besar disana-sini, butuh perjuangan untuk naik, namun anehnya, jalan setapak ini seperti sengaja di buat untuk satu orang, sehingga jalurnya mudah untuk di telusuri, menyerupai lorong panjang dengan pemandangan alam terbuka.
Nur menyusuri tempat itu, langit sudah berwarna orange, menandakan hanya tinggal beberapa jam lagi, petang akan datang.

meski tidak tahu apa yang Nur lakukan disini, namun perasaanya seolah terus menerus mendesaknya untuk melihat ujung jalan setapak ini, kemana ia membawanya.

angin berhembus kencang, dan tiap hembusanya, membawa Nur semakin jauh masuk ke dalam, ia tidak akan bisa keluar dari jalan setapak karena rimbunya semak belukar dengan duri tajam yang bisa menyayat kulit dan kakinya.

namun, ia semakin curiga, semakin masuk, sesuatu ada disana

tetapi, ia harus kecewa, ketika di ujung jalan, bukan jalan lain yang ia lihat, namun, semak belukar dengan pohon besar menghadang Nur, di bawahnya di tumbuhi tanaman beluntas yang rimbun, jalan ini, tidak dapat di lewati lagi.

lalu, kenapa tempat ini seolah di keramatkan.

apa yang membuat tempat ini begitu keramat bila hanya sebuah jalan satu arah seperti ini.

langit sudah mulai petang, Nur bersiap akan kembali, tetapi, langkahnya terhenti saat ia merasa ada hembusan angin dari semak beluntas di depanya, ia pun, menyisir semak itu, sampai..

Nur melihat sebuah undakan batu yang di susun miring, ia tidak tahu, rupanya ia berdiri di tepi lereng bukit, meski awalnya ragu, Nur akhirnya melangkah turun, menjajak kaki dari batu ke batu sembari berpegang kuat pada sulur akar di lereng, ia sampai di bawah dengan selamat
seperti dugaanya, ada tempat tak terjamah di desa ini, manakala Nur melihat dengan jelas, sanggar atau bangunan yang lebih terlihat seperti balai sebuah desa, namun, kenapa tempat ini tidak terawat.

Nur berkali-kali melihat langit, hari semakin gelap, namun, ia justru mendekat

layaknya sebuah tanah lapang dengan bangunan atap yang bergaya balai desa khas atap jawa, Nur mengamati tempat itu setengah begidik.

selain kotor dan tak terurus, tidak ada apapun disini, kecuali, sisi ujung dengan banyak gamelan tua tak tersentuh sama sekali.

butuh waktu lama untuk Nur mengamati tempat ini sampai ia mengambil kesimpulan, tempat ini sengaja di tinggalkan begitu saja, kenapa?

ia menyentuh alat musik kendang, mengusapnya, dan semakin yakin, tempat ini sudah sangat lama di tinggalkan.

setiap Nur menyentuh alat-alat itu, ia merasa seseorang seperti memainkanya, ada sentuhan kidung di telinganya. Nur sendirian, namun, ia merasa, ia berdiri di tengah keramaian.

kegelapan, sudah menyelimuti tempat itu, langit sudah membiru, namun. Nur merasa tugasnya belum selsai

sampai, Nur tersentak oleh sebuah suara Familiar yang memanggil namanya,

ketika Nur berbalik menatap sesiapa yang baru saja memanggilnya, Nur mematung melihat Ayu, berdiri dengan muka tercengang, dari belakang, muncul Bima, tidak kalah tercengang

suasana menjadi sangat canggung

“yu, Bim? kok nang kene?” (yu, bim, kok kalian ada disini?)

Ayu dan Bima hanya mematung, tidak menjawab pertanyaan Nur sama sekali, hal itu, membuat Nur mendekati mereka, melewatinya dan kemudian ia melihat ada sebuah gubuk di belakang bangunan ini.

Nur berbalik, ia kecewa

“Bim, abah karo umi nek eroh kelakukanmu yo opo yo, sebagai konco, aku gak nyongko loh Bim” (Bim, Abah sama Umi kalau tahu perbuatanmu gimana ya, sebagai temamu lama, aku tidak menyangka hal ini sama sekali)

Bima hanya diam, Ayu, apalagi.

“Nur, tolong” ucap Ayu, menyentuh lengan Nur,

“aku gak ngomong mbek koen yu, aku ngomong karo Bima” (aku gak bicara sama kamu yu, aku mau bicara sama Bima)

tatapan Nur membuat Ayu beringsut mundur, Bima masih diam, sebelum Nur akhirnya menggampar tepat di pipinya Bima.

“wes ping piro?” (sudah berapa kali?) tanya Nur.

“pindo’ne” (kedua kalinya)

Nur tidak tahu harus berucap apa, “sek ta lah, opo sing jare Anton nek krungu suara cah wadon gok kamarmu iku koen ambek Ayu!!” (tunggu, ini artinya, apa yang dikatakan Anton soal dia dengar suara-

-perempuan di kamarmu itu kamu sama ayu!!)

namun, Bima menatap wajah Nur dengan kaget, tidak hanya itu, Ayu juga terperangah tidak percaya, kemudian menatap Bima dengan sengit, seakan Nur salah bicara.

“maksude Nur?” (maksudnya Nur?!) tanya Ayu kaget.

“Bim, ojok ngomong awakmu!!” (Bim jangan bilang kamu!!)

“wes wes, ayo mbalik, engkok tak ceritakno kabeh, tulung, ojok ngomong sopo sopo dilek yo Nur” (sudah, ayo kembali dulu, nanti tak ceritakan semua, tolong jangan ngomong ke siapa2 dulu, ya Nur)

Nur, Ayu dan Bima pergi.

wajah Bima tegang, seakan-ia di kejar sesuatu, hingga akhirnya ia keluar dari tempat itu, langit sudah gelap gulita, dan Nur, merasa ada yang mengikuti mereka semua.
setelah sampai di rumah, Nur meminta Bima dan Ayu berkumpul di belakang rumah, sementara Anton menyesap rokok di teras, sedangkan Wahyu dan Widya, belum juga pulang, mereka tidak tahu masalah ini, karena Nur merasa hal ini memang tidak seharusnya di ketahui semua orang.
“sak iki ceritakno kok iso’ne kanca KKN dewe loh di garap ngene” (sekarang ceritakan, saya mau dengar, kok bisa ya, teman KKN di hajar seperti ini) kata Nur, Ayu masih diam, ia memikirkan ucapan Nur yang tadi, Bima mulai berbicara.
“khilaf aku Nur” kata Bima, seakan apa yang di ucapkan dari mulutnya terdengar sepele,

“gak isok nek ngunu, bakal tak gawe rame masalah iki ambek keluargamu, lanang iku kudu wani tanggung jawab ambek perbuatane” (tidak bisa seperti itu, akan ku buat ramai nanti sama keluargamu-

laki-laki harus berani bertanggung jawab atas perbuatanya)

Ayu yang sedari tadi diam, kemudian bicara. “Nur, tolong, ojok di gawe rame disek, yo opo engkok reaksine warga, pak prabu, utowo arek2” (Nur, tolong, jangan di buat ramai dulu, gimana coba reaksi semua orang) ucap Ayu

“aku bakal tanggung jawab Nur, muleh tekan kene, Ayu bakal tak rabi Nur” (aku akan tanggung jawab, Ayu akan saya nikahi habis pulang darisini)

“goblok ya wong loro iki, dipikir masalah iki mek masalah mu tok tah, gak mikir aku, gak mikir Widya, gak mikir liane, gak mikir-

-jeneng kampusmu, gak mikir keluargamu, gak mikir agamamu, nek ngomong mu mek ngunu, penak yo, kari rabi tok, gak iling opo iku karma yo”

(goblok ya kalian, di kira ini masalah sepele, gak mikir aku, gak mikir Widya, gak mikir yang lain, gak mikir nama kampusmu, gak mikir-

keluargamu, kalau memang cuma masalah pernikahan ya enak ya, tapi kalian lupa dengan yang namanya karma tabur tuai)

Ayu yang mendengar itu perlahan sesenggukan, Nur tahu, ia menangis, namun Bima, ia seperti menyembunyikan sesuatu. ada yang belum ia jelaskan sama sekali.

Anton tiba-tiba muncul sembari mengatakan, “cah loro iku wes teko, mboh tekan ndi, mosok moleh sampe bengi ngene” (itu loh, dua temanmu sudah datang, entah darimana, masa pulang sampai larut begini)

“Widya karo wahyu ton?” (Widya sama wahyu ya ton)

Anton mengangguk. “iyo”

Nur melihat Widya, wajahnya tampak letih, sperti barusaja mengalami kejadian tidak mengenakan, semua orang sudah menunggu kedatangan dua anak ini, yg berjanji akan membelikan keperluan titipan mereka, namun, dari belakang, Wahyu tampak sangat bersemangat seakan ia membawa sesuatu
entah karena suasana hati semua orang buruk di ruangan itu, Bima mencoba mencairkan suasana, “loh, kok kaku ngene seh” (kok jadi canggung gini sih) Bima mendekati Widya,

“awakmu pasti pegel kan,” “istirahat sek Wid” (kamu pasti kecapekan kan, yao istirahat dulu Wid) kata Bima.

namun, Nur dan ayu, memandang sengit perlakuan Bima, sehingga Widya merasa ada yang salah dengan mereka semua.
namun, Wahyu yang sedari tadi menggendong isi tasnya, langsung mengambil alih perhatian mereka, dengan nafas menggebu-nggebu, ia bercerita pengalamanya yang baru saja di tolong warga desa tetangga karena motornya mogok, namun, anehnya, semua orang memandang Wahyu dengan sinis
Bima yang pertama menanggapi ucapan Wahyu.

“Deso tetangga opo? gak onok maneh deso nang kene?” (desa tetangga apa, gak ada lagi desa disini) kata Bima mengingatkan.

“halah, ngapusi, eroh teko ndi awakmu?!” (halah, bohong kamu, tahu darimana?) sanggah Wahyu saat itu.

“aku wes sering nang kota, mbantu warga deso dodolan hasil alam, dadi gor titik aku paham wilayah iki” (aku sudah sering ke kota, bantu warga jual bahan alam disini, jadi ya tau sedikitnya daerah ini)

“ngapusi koen halah tot” (bohong kamu dasar, sial)

Nur yang sedari tadi mendengar, membantu Bima, “bener mas wahyu, gak onok deso maneh nang kene,” (bener mas Wahyu, gak ada lagi desa disini.)

alih-alih setelah mendengar itu, Wahyu semakin tidak terima,ia kemudian memanggil Widya, “Wid duduhno opo sing di kek’i-

-ambek warga sing nang tasmu” (Wid tunjukan oleh-oleh yang di kasih tadi sama warga di dalam tasmu)

dengan enggan Widya membuka isi tasnya, Wahyu yang sudah tidak sabar segera merebutnya, meraihnya dengan tanganya, namun, ekspresinya berubah manakala ia mengeluarkan barang itu.

Widya yang melihat benda itu sama kagetnya dengan wahyu, namun Nur yang melihatnya tampak bingung, pun dengan semua orang saat itu, benda seperti apa yang di bungkus dengan pelepah daun pisang seperti itu.

Nur sempat melihat Wahyu dan Widya bertukar pandang, ia tahu ada yg salah

saat Wahyu membukanya, kaget, yang ada di dalamnya rupanya adalah kepala monyet terpenggal dengan darah yang masih segar.

seketika, reaksi semua orang membalikkan wajahnya, termasuk Nur yang segera mengambil kain untuk menutupinya, baunya amis dan membuat seisi ruangan mual

Wahyu tampak shock, Widya apalagi, Ayu segera membopongnya masuk ke dalam kamar, sementara Bima dan Anton, segera membereskan semua itu.

Wahyu, ia muntah sejadi-jadinya, semalaman, semua orang termenung dengan berbagai kejadian ganjil, termasuk Nur, dimana Widya mencuri pandang

Malam setelah Widya dan Ayu melepas penat, Nur terbangun, ia tiba-tiba teringat dengan ucapan Bima dan Ayu yang tanpa sengaja ia curi dengar.

dengan cekatan dan mengambil resiko, Nur mengambil isi tas Ayu, membawanya menuju ke pawon (dapur) sendirian. ia merasa, benda itu disana

Nur membongkar semua benda-benda itu, namun, tidak ada yang aneh, toh dia sudah mengeluarkan isi tasnya, sebelum, Nur sadar, masih ada resleting tas yang belum ia buka, tepat ketika Nur membukanya, ia bisa mencium aroma wewangian di dalamnya.

sebuah selendang hijau milik penari

tiba-tiba, tangan Nur seperti gemetar hebat, nafasnya menjadi sangat berat, tempat ia berada seakan-akan menjadi sangat dingin

dan, tabuhan kendang di ikuti alunan gamelan berkumandang, Nur tahu, si penari ada disini,

apa yang Ayu sebenarnya lakukan

apa yang Bima sembunyikan?

tepat saat itu juga, Nur melihat dengan mata kepala sendiri, Widya melangkah masuk ke pawon (dapur) matanya tajam menatap Nur, kaget setengah mati, Nur bertanya pada Widya.

“nyapo Wid awakmu nang kene?” (ngapain kamu wid, ada disini?)

namun Widya hanya berujar “ojok di terusno”

(jangan diteruskan)

Widya duduk di depan Nur, cara Widya berbicara sangat berbeda, mulai dari suara sampai logat cara menyampaikan pesanya, itu khas jawa sekali yang sampai Nur tidak begitu mengerti. yang Nur tangkap hanya kalimat “salah” “nyawa” “tumbal” itu pun tidak jelas

selain itu, setiap dia melihat Nur, ia seperti memberikan ekspresi sungkan, sepeti anak muda yang memberi hormat kepada orang tua.

kalimat terakhir yang Widya ucapkan sebelum kembali ke kamarnya adalah, “kamu bisa pulang dengan selamat, saya yang jamin” tapi dengan logat jawa

Nur membereskan semuanya saat itu juga, ia mengembalikan tas Ayu pada tempatnya, sempat ia melihat Widya yang tengah tidur, ia mengurungkan niat untuk membangunkanya, esok, ia harus bertemu dengan Bima, Nur yang paling sadar, tempat ini sudah menolak mereka semua.
sejak insiden itu, Ayu menghindari Nur, terlebih Bima apalagi, meski begitu, tidak ada yang nampak bahwa mereka sedang memiliki urusan, Widya wahyu dan Anton pun, di buat tidak sadar, bahwa ada permasalah internal pada kelompok KKN mereka. Nur, bingung, tidak ada yang bisa-
untuk di ajak berbagi, kecuali. mbah Buyut, namun, ia tidak tahu dimana beliau tinggal, pun Nur sudah mencoba mengelilingi desa, tak di temui sosok lelaki tua itu, sehingga akhirnya, Nur berinisiatif menyelesaikan ini sendiri, ia menemui Bima, sore itu, mengajaknya ke tepi sungai
“ceritakno sing gak isok mok ceritakne nang ngarep’e Ayu” (ceritakan yang gak bisa kamu ceritakan didepan Ayu)

Bima tampak menimbang apakah dia harus bicara atau tidak sampai akhirnya ia menyerah dan mengatakanya.

“aku khilaf Nur” kata Bima,

“cah iki, pancet ae” (benar2 ya)

“gak, gak iku. aku pancen khilaf wes ngunu ambek ayu, tapi aku luweh khilaf, wes nyobak-nyobak melet Widya” (bukan, bukan itu, aku memang khilaf sudah melakukan itu sama Ayu, tapi aku lebih khilaf sudah mencoba membuat Widya suka sama aku)

“maksude?” tanya Nur penasaran.

“nang nggon sing mok parani, iku onok sing jogo, arek wedok ayu, jeneng’e dawuh” (di tempat yang kamu datangi ada penjaganya, seorang perempuan cantik, namanya dawuh)

“jin” tanya Ayu,

“gak. menungso” (tidak. manusia)

“mosok onok, iku ngunu jin,” (mana ada, itu jin)

terjadi perdebadan sengit antara Nur dengan Bima, dengan bersikeras Bima mengatakan yang ia temui seorang perempuan warga desa ini. namun, Nur membantah, tidak ada yang tinggal disana, lagipula tempat itu di larang sejak awal. namun, Bima terus menolak sampai tanpa sengaja,
-menampar Nur, hingga terseok di tepi sungai, Nur pun menghujani Bima dengan batu, seakan-akan kepala Bima sudah tidak beres, sampai akhirnya Bima mengatakan, “arek iku, wes ngekek’i aku, Kawaturih kanggo Widya, jarene iku jimat ben aku ambek arek’e di persatuno”
(perempuan itu, sudah memberiku semacam mahkota putih yang ada di lenganya, yang katanya, itu bisa membuat Widya selalu nempel sama aku)

Nur yang mendengar itu, semakin tersulut, “goblok yo koen, gorong 4 tahun, wes rusak utekmu, syirik koen Bim”

(bodoh ternyata kamu ya, belum 4 tahun sudah rusak isi kepalamu, yang kamu lakukan itu menyekutukan Bim)
“nang ndi barang iku sak iki?” (dimana sekarang barang itu?) tanya Nur,

“di gowo Ayu, nek jarene, wes ilang” (dibawa oleh Ayu, katanya, sudah hilang)

“aku gak ngurus Bim, balekno barang gak bener iku, awakmu gak paham ambek kelakuanmu, iku ngunu isok gowo balak”

(aku tidak perduli, gimana caranya, kembalikan barang itu, kamu gak mengerti, perbuatanmu, bisa mendatangkan malapetaka)

Nur pergi, sekarang, ia tahu harus kemana, menemui Ayu.

Nur barusaja bertemu dengan Ayu setelah keluar dari rumah pak Prabu, Nur tidak mengerti apa yang barusaja dia lakukan.

“lapo koen?” (ngapain kamu)

Ayu mencoba menahan malu, setiap kali melihat Nur, mata Ayu seperti meratap atas apa yang sudah ia perbuat, dan itu fatal.

“gak popo Nur, tak cepetno, ben proker’e arek -arek cepet mari, mari iku ayo balik, pokok’e fokus KKN kabeh yo” (gak papa Nur, aku percepat urusanya, biar anak-anak semuanya bisa fokus garap proker mereka, kita juga harus kembali, intinya fokus dulu sama KKN ya)
“aku pengen ngomong yu, soal” (aku mau ngomong yu, soal) kata Nur yang terhenti melihat Anton mendekat, nafasnya terengah-engah, “Nur, warga sing mbantu, kerasukan kabeh, rusak proker kene iki” (Nur, warga yang bantu proker kita kerasukan, rusak semua proker kita)
Ayu, Nur dan Anton pergi ke lokasi, waktu itu ramai, dan ketika Nur tiba, seorang pria yang di pegangi oleh warga, tampak melotot melihat Nur, ia menunjuk Nur seakan biang masalah di desa ini, ia menyentak dengan suara berat. “Tamu di ajeni tambah ngelamak koen, mrene koen”
(Tamu sudah dihormati tambah seenaknya, kesini kamu kesini!!)

Nur kaget, ia di lindungi warga lain, tidak hanya pria itu, ada satu lagi, yang juga di tahan, sayangnya, pria yang satu lagi, melotot pada pria pertama, seakan ia marah pada warga desa itu. “aku wes janji-

jogo cah iki, awakmu ra oleh gawe perkara ambek arek iki” (saya sudah berjanji sama seseorang untuk jaga anak ini, kamu tidak boleh membuat masalah sama dia)

warga yang resah akhirnya membawa Nur ke rumah mereka, berikut Ayu dan Anton, di ikuti yang lain, kecuali, Widya.

saat Wahyu di konfirmasi, dimana Widya, Wahyu mengatakan Widya sama warga lain melanjutkan prokernya, tidak ada yang tahu mereka ada di salah satu rumah warga,

namun, ketika langit mulai petang, Nur hilang dari kamarnya, warga yang tahu, panik. terakhir kali, Nur pingsan.

Nur terbangun dalam keadaan menggunakan mukenah sholat dan ada Widya di sampingnya, namun, wajah Widya tampak tegang, Widya tidak bisa menyembunyikan bahwa ia baru saja mengalami kejadian janggal.

“ket kapan isok ndelok Nur?” (sejak kapan kamu bisa lihat begituan?)

Nur yang mendengar itu kaget, sejak kapan Widya tahu dan bertanya soal itu. mereka terjebak dalam suasana canggung. Nur jadi berpikir, bahwa kunci semuanya, mungkin ada pada Widya,

sejak awal, Widya juga yang paling aneh di tempat ini.

“aku gak isok ngomong Wid, penjelasane ruwet, tapi, aku wes keroso ngene iki ket mondok,” kata Nur, “Ghaib iku nyata Wid”

(aku gak bisa jelaskan secara spesifik, tapi, aku sudah merasa begini sejak mondok, yang jelas, ghaib itu nyata Wid)

“awakmu onok sing jogo ya?” (kamu ada yang jaga ya?) tanya Widya, yang membuat Nur semakin kaget, bingung harus menjelaskanya, ia harus mengingat bahwa sebelum keluar dari pesantren, banyak temanya yang bilang, setiap malam, Nur terbangun dan melafaldzkan doa yang bahkan-
sangat susah di hafal oleh santri pondok saat itu.

teman-temanya sampai memanggil guru mereka, agar Nur di ruqiah, namun, guru Nur menolak, beralasan bahwa, selama tidak menganggu keimanan Nur, di biarkan saja, daripada menjadi boomerang untuk Nur, bahkan,

guru Nur sudah berulang kali menjelaskan bahwa, ia harus tetap mengimankan kepercayaanya, tidak perlu memperdulikan jin model apa yang mengikutinya selama ini.

si guru memanggil jin itu dengan nama “Mbah dok” karena berwujud wanita tua.

tanpa Nur sadari, itu adalah kali pertama ia bisa bicara lagi sama Widya setelah lama, ia seolah saling menjauhi satu sama lain, Nur menceritakan semuanya, pengalaman di pondok hingga ia keluar darisana, kecuali, insiden ganjil di tempat ini, Nur masih menyimpanya sendiri.
karena Nur percaya, Widya punya apa yang ia cari selama ini, meski itu hanya asumsi, namun, ia yakin, Widya memilikinya.

hingga, kesempatan itu muncul, Nur, melihat kamar, tanpa ada satu orangpun, Ayu dan Widya mengerjakan proker mereka, Nur membuka almari, mengeluarkan-

isi tas Widya.

ia membongkar semuanya, mencari hingga ke celah terkecil di tas yang Widya bawa, semua persedian yang ia bawa tak luput dari pencarianya, sampai, Nur akhirnya menemukanya.

sebuah logam melingkar, dengan bentuk ukiran dari kemuning, bentuknya indah layaknya-

sebuah perhiasan, tidak hanya itu, di tengahnya, ada batu mulia berwarna hijau, dengan wajah bingung, Nur bergumam sendiran “Kawaturih” itu, bagaimana bisa ada pada Widya.
melihat itu, Nur sudah hilang kesabaran, ia membongkar isi tas Ayu, mengambil selendang hijaunya, 2 benda itu, Nur simpan pada sebuah kotak kayu yang ia temukan di pawon (dapur) tempat biasa untuk menyimpan bumbu masakan, tidak hanya itu, Nur menutupinya dengan kain putih, yang-
di dalamnya, ada kitab agamanya. Nur menyembunyikan tepat di bawah meja kamar, tertutup taplak meja. lalu, Nur pergi mencari Ayu,

setelah menemukan Ayu di tempat proker, Nur menarik Ayu, membawanya menjauh sebelum menampar wajahnya sampai Ayu, tidak bisa bicara apa-apa.

“gak waras koen yo, barang ngunu mok deleh nang tas’e Widya!! cah edan, kate makakno Widya koen yo, gak cukup ambek masalahmu opo!!” (gak waras kamu ya, barang seperti itu, sengaja di tarus di tas Widya!! orang gila, mau kamu umpankan Widya ya, apa gak cukup sama masalahmu!!)
“jelasno kok isok-isokne awakmu tego, yo opo penjelasanmu isok nduwe barang-barang gak bener iku?!” (jelaskan kok bisa kamu tega ya, gimana penjelasanmu kok bisa punya barang seperti itu)

“barang opo to Nur?!” (barang apa sih Nur?) tanya ayu.

“selendang hijau iku”

Ayu yang mendengar itu tampak kaget.

“kok isok awakmu eroh Nur, awakmu kelewatan mbongkar barang pribadine wong liya yo” (kok bisa kamu tahu, kamu itu kelewatan kok bisa bongkar barang milik orang lain)

“sak iki, melu aku nang pak Prabu, ayok” (sekarang, ikut aku ke pak Prabu)

Nur menarik Ayu, menyeretnya kuat-kuat, namun Ayu menolak sebelum ia mengatakanya.

“aku di kongkon ndeleh iku, gawe gantine selendang iku” “selendang sing nggarai Bima gelem mbek aku”
(aku disuruh naruh benda itu, sebagai pengganti selendang itu, selendang yang bikin Bima mau)

“sopo sing ngekek’i iku?” (siapa yang ngasih itu?) tanya Nur, namun Ayu menolak mengatakanya.

“sopo kok!!” (siapa kok!!)

Ayu tetap menolak, bahkan sampai Nur mengatakan apa perempuan yang juga Bima temui yang menyuruhnya, ekspresi Ayu tampak kaget mendengarnya,

Ayu mengatakan bahwa ia tidak tahu menahu siapa perempuan itu, dan siapa yang memberinya juga tidak ada hubunganya sama perempuan itu, bahkan sekalipun, Ayu tidak pernah bertemu perempuan yang di katakan Bima sangat cantik itu

Nur menyerah, namun firasat buruknya, semakin terasa

(ada hal ganjil disini, yang Nur sadari di kemudian hari, orang atau makhluk yang memberi Nur selendang ini, siapa?

sampai akhir cerita ini belum dipecahkan, bahkan dari saat gw bicara sama mbak Nur, beliau hanya berasumsi, namun tidak berani mengatakan)

puncaknya, adalah setelah malam panjang itu. disini, petaka yang paling di takutkan oleh Nur, terjawab.
Nur terbangun ketika subuh, ia tersentak saat mendengar Widya menangis, tangisanya sangat keras sampai Nur terkesiap lalu terbangun dari tidurnya

saat ia melihat, apa yang membuatnya terbangun, Nur melihat Ayu, dengan mata terbuka, ia mengangah, seperti mau mengatakan sesuatu

belum berhenti sampai disana, Nur tidak menemukan Widya di tempatnya, hal itu, membuat Nur menjerit sehingga Wahyu dan Anton merangsek masuk dengan wajah khawatir.

“onok opo Nur? (ada apa Nur?)

“Widya ilang mas” (Widya hilang mas)

Wahyu dan Anton terhenyak sesaat, sebelum-

“Bima yo gak onok nang kamar loh”(Bima juga gak ada di dalam kamar) kata Anton buru-buru,

sontak, semua mata memandang Ayu, Wahyu terhentak bingung.

“Ayu kenek opo Nur” (Ayu kenapa Nur)

“celukno pak Prabu!!” (panggilkan pak Prabu)

Anton yang mendengarnya langsung pergi.

“yu, tangi yu!!” (yu ayok bangun yu) namun, Ayu masih sama, ia hanya melihat langit-langit, Nur manah mulutnya agar tertutup, namun, ia terus mengangah, Wahyu yang melihat tidak bisa berbuat apa-apa

“Cok onok opo seh iki” (asem, ada apa sih ini)

“celokno warga ojok ndelok tok!”

Wahyu pun ikut pergi, Nur terus menahan mulut Ayu. sampai Pak prabu datang bersama Anton dan melihatnya.

“kok isok koyok ngene to nduk” (kok bisa sampai begini sih nak)

Pak prabu, pergi ke pawon, ia kembali membawa teko air, Nur menahan isi kepala Ayu, dan meminumkanya.

tiba-tiba, ayu menutup mulutnya, namun, ia masih belum bereaksi, tidak beberapa lama, warga sudah berdatangan bersama Wahyu, saat itu, rumah itu di penuhi warga, tanpa banyak bicara, pak Prabu menyuruh beberapa orang untuk memanggil mbah Buyut.

dan warga itu pun pergi.

Nur menjelaskan kronologi kejadian itu, namun, ia meminta pak Prabu tidak menceritakan semua ini kepada warga, Anton dan Wahyu yang mendengarnya seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Asu, kok isok loh” (anj*ng! kok bisa bisanya) Wahyu tampak merah padam mendengarnya.

pak Prabu pun mengumpulkan warga, meminta mereka semua pergi menyisir setiap penjuru Desa, ia beralaskan, bahwa Bima dan Widya hilang kemarin malam, dan saat ini belum kembali.

meski warga awalnya bingung, bagaimana bisa, namun mereka semua langsung bergerak, termasuk Wahyu

Anton pun begitu, ia ikut menyisir ke hilir sampai hulu sungai, sebisa mungkin dengan beberapa warga yang membawa parang dan berbagai barang yang tidak pernah ia pahami.

Nur terus menangis, melihat kondisi Ayu, membuat ia tidak bisa menahan kesedihan yang sudah memenuhi hatinya

pak Prabu meminta penjelasan lebih detail, setelah itu, Nur menunjukkan barang yang seharusnya ia berikan kepada pak Prabu saat mendapatkanya.

tepat ketika membuka kotak itu, pak Prabu yang melihatnya, kaget bukan main, sampai ia tiba-tiba berteriak marah “OLEH TEKAN NDI IKI?!”

(DAPAT DARIMANA KAMU BENDA INI!!)

Nur yang kaget, kemudian menjelaskan sisa ceritanya, disana, pak Prabu terlihat frustasi, ia kemudian mengatakan kepada Nur, “nek kancamu gak ketemu, ikhlasno, ben aku sing ngadepi masalah iki” (bila sampai temanmu, tidak ditemukan, ikhlaskan-

biar aku yang menghadapi sisanya)

Nur pun bertanya, benda apa itu sebenarnya, namun pak Prabu tidak bicara, ia harus menunggu datangnya mbah Buyut yang akan menceritakan semuanya.

berjam-jam sudah di lewati namun belum ada kabar satupun dari warga yang kembali, sampai terdengar suara motor mendekat, manakala Nur dan pak Prabu berdiri untuk melihat sesiapa yang datang,

mbah Buyut mendetak dengan tergopoh-gopoh, seakan mencari sesuatu,

mbah Buyut mengambil kawaturih, kemudian bertanya siapa yang punya, Nur mendekat, menjelaskan semuanya, ekspresi tenang mbah Buyut, tidak terlihat sama sekali.

kemudian ia menatap Ayu, helaan nafas berat mbah Buyut keluarkan, kemudian ia, meminta Prabu membuatkan kopi hitam

mbah Buyut duduk sembari berpikir, banyak pertanyaan yang ia ajukan mulai, sejak kapan ada benda seperti ini disini, lalu bagaimana bisa selendang itu di miliki Ayu,
Nur menceritakan semuanya,

saat menyesap kopi itu, mbah Buyut berujar “kancamu, keblubuk angkarah”

(temanmu terjebak dalam pusaran)

“trus, yok nopo mbah?” (lalu bagaimana mbah)

“siji kancamu wes ketemu, tapi sukmane gorong, tenang sek, yo” (satu temanmu sudah ketemu lagi, tapi rohnya belum, sabar ya)

tidak beberapa lama, kerumunan warga mendekat, Wahyu masuk wajahnya pucat

seorang warga membopong seseorang.

ketika Nur melihatnya, ia tidak bisa menghentikan jeritanya, manakala melihat Bima kejang-kejang layaknya seorang yang terkena epilepsi.

Wahyu, segera memeluknya, menutupi Nur agar tidak melihat Bima yang menjadi seperti itu.

Mbah buyut kemudian mengatakan, bahwa bila sukma dua orang ini sedang terjebak, namun, ada satu orang yang bukan hanya sukmanya yang hilang atau di sesatkan, melainkan raganya juga ikut disesatkan, ia adalah Widya, orang yang paling di inginkan oleh, Badarawuhi namun, ia meleset
Mbah buyut menunjukkan kawaturih, yang harusnya memiliki pasangan, benda ini di letakkan di lengan seorang penari, sebagai susuk, entah ada kejadian apa, Badarawuhi menginginkan benda ini ada pada Widya, namun, Nur yang menemukanya, kemudian mengambilnya, membuat benda ini-
kehilangan pemilik, yang maka artinya, Nur yang memiliki, tapi, Nur di lindungi, itulah alasan kenapa Nur selalu merasakan bahwa badanya terasa berat di jam-jam tertentu, mbah Dok yang melindungi Nur sudah berkelahi hampir dengan setengah penghuni hutan ini.
setelah itu, pak Prabu meminta agar Ayu dan Bima di tutup oleh kain selendang, di ikat dengan tali kain kafan, membiarkanya seolah-olah mereka sudah tidak bernyawa.

mbah Buyut, pergi ke kamar, ia akan mencari Widya, menjelma sebagai Anjing hitam dengan ilmu kebatinanya

pak Prabu menceritakan bahwa memang ada rahasia yang tidak ia katakan dan alasan kenapa ia menolak keras di adakan kegiatan ini sejak awal.

tepat di samping lereng, ada tapak tilas, tempat penduduk desa ini mengadakan pertunjukkan tari, bukan untuk manusia namun untuk jin hutan

ia mengatakan, dulu, setiap di adakan tarian itu, untuk menghindari balak (bencana) bagi desa ini, seriring berjalanya waktu, rupanya, mereka yang menari untuk desa ini, akan di tumbalkan, masalahnya, setiap penari haruslah dari perempuan muda yang masih perawan.
“tapi Ayu pak” kata Nur membantah.

“itu masalahnya” kata pak Prabu, “asumsi saya, Ayu sejak awal hanya sebagai perantara, ke Widya lewat Bima, namun, Ayu tidak memenuhi tugasnya, akibatnya, Ayu di buatkan jalan pintas, ia di beri selendang hijau itu. tau darimana selendang itu?”

selendang para penari.

pak Prabu kemudian duduk, matanya merah padam, “seharusnya saya menolak habis-habisan bila bukan karena dia adik teman saya” “selendang itu, adalah selendang yang keramat, tidak ada lelaki yang bisa menolak selendang itu saat di pakai oleh perempuan”

“nak Ayu tidak salah, nak Bima pun begitu, saya yang salah, seharusnya saya tolak kalian semua, toh anak-anak kami pun tidak ada yang tinggal disini, tempat ini, bukan untuk anak setengah matang seperti kalian”

mendengar itu, membuat Nur tidak kuasa melihat Ayu,

hari semakin petang, ketika Matahari sudah benar-benar tenggelam, terdengar orang berteriak heboh, ia meneriakkan bila Widya sudah ketemu, pun saat itu juga, Mbah Buyut keluar, wajahnya tampak kecewa, sepertinya ia tidak bisa membawa Ayu dan Bima pulang, lebih tepatnya belum
momen ketika melihat Widya, membuat Nur tidak bisa bicara apa-apa, ia berjalan dengan gaguk, seperti barusaja menghadapi peristiwa yang sangat berat, bahkan, Widya berjalan dengan mata yang kosong, ia melihat Ayu terus menerus, mencoba memahami situasi.
“Wid, tekan ndi awakmu” (Wid darimana kamu?) tanya Nur,

“onok opo iki Nur” (ada apa ini Nur) kata Widya, matanya sembab melihat Ayu dan Bima terbujur,

Nur tidak sanggup menceritakanya, Wahyu kemudian berdiri mengatakan semuanya, Widya menjerit sejadi-jadinya, semua diam.

selang beberapa saat, mbah Buyut keluar, ia memanggil Widya, menyuruhnya untuk masuk, dan entah apa yang mereka bicarakan.

Nur masih mencoba membangunkan Ayu, meski hal itu, mustahil bisa dilakukan.

ketika melihat mbah Buyut keluar, Nur, Wahyu, dan Anton yang baru tiba, ikut masuk ke dapur, ia hanya melihat Widya murung, seperti memikirkan sesuatu.

Wahyu yang sedari tadi sudah menahan diri, mengatakan bahwa Bima dan ayu sudah kelewatan sehingga mereka juga kena getahnya.

Malam itu juga, pak Prabu mengumpulkan semua anak yang tersisa, ia mengatakan, sudah menghubungi pihak kampus, pun dengan kakak Ayu, yang sedang dalam perjalanan kesini. esok, mungkin mereka tiba.

mbah Buyut, menjaga rumah ini, konon, semua lelembut sudah mengepung rumah ini.

pagi itu, Nur menemui pak Prabu meminta seharusnya ia menahan diri sebelum informan ini keluar, karena sebelumnya, mbah Buyut mengatakan bisa mengembalikan Ayu dan Bima, hanya tinggal menunggu waktu. namun ucapan pak Prabu membuat Nur tidak berkutik.
“nek pancen isok, yo gak bakal akeh sing wes dadi korban, awakmu eroh patek ireng iku opo, nyoh kui korban sak durunge, nang ndi sak iki, wes gak onok” (kalau memang bisa, ya gak mungkin ada korban, kamu tahu, kenapa ada nisan dengan kain hitam, itu korban sebelum kejadian ini)
“gak nutup kemungkinan kancamu isok mbalik, tapi kemungkinane cilik, gak usah berharap, mbah Buyut asline wes mblenger, kudu urusan ambek bangsa iku” (gak menutup kemungkinan memang temanmu bisa kembali, tapi, kemungkinanya kecil, mbah Buyut sudah bosan, berurusan dengan mereka”
siang hari, rombongan orang dari kampuspun dengan beberapa wali datang, bahkan suara membentak dari mas Ilham bisa terdengar dari luar, ada tawar menawar dimana mbah Buyut menjanjikan agar Ayu dan Bima tetap disini, namun pihak keluarga menolak sampai mengancam, ini akan tersebar
akhir dari perjalanan KKN mereka selesai disini, bukan hanya pak Prabu yang terseret, pihak kampus efeknya lebih besar lagi, sampai harus menjanjikan bahwa masih ada jalan lain mengembalikan mereka.

KKN mereka, resmi di coret, tak ada hasil apapun selama pra kerja mereka.

Widya, butuh waktu lama untuk pulih setidaknya itu yang Nur dengar, sementara Nur menjelaskan kronologi kejadian pada Abah dan Umi, orang tua Bima, yang tidak henti-hentinya, mengadakan doa bersama di rumahnya, pukulan keras setiap Nur melihat air mata umi menetes.
ada kejadian menarik, dimana Nur di ceritakan oleh Umi, semalam sebelum Bima akhirnya meninggal, ia mengetuk pintu kamar, disana ia meminta maaf sama Abah dan Umi, kemudian pamit kembali ke kamar, sembari mengatakan ular-ular, dan di akhiri dengan hembusan nafas terakhirnya
namun, Nur juga diberitahu Abah, bahwa, apa yg di katakan Umi tempo hari tidak usah di pikirkan, karena Umi menceritakan tentang mimpinya, anaknya Bima masih kejang-kejang dan memang meninggal pada malam kejadian , semua itu mimpi Umi, mungkin itu cara Bima pamit dan memberitahu
masih mau lanjut apa besok saja, sekarang yang mbak Nur saksikan saat mendampingi Ayu, ia di ajak ke Ng**i yang katanya bisa menyembuhkan beliau.

sedikit panjang dan gw jadikan 1 thread saja. gimana?

Maksudnya gw sambung sama thread ini. Biar gak usah nyari thread lagi ya. Gw mau kelarin malam ini semuanya.
Mas Ilham menghubungi Nur, beliau meminta tolong agar Nur bersedia mendampngi Ayu selama proses penyembuhan, dimana dokter sudah angkat tangan dan mendiagnosa Ayu, lumpuh total yang tidak di ketahui penyebabnya. ia di beritahu oleh temanya, bahwa Nur adalah orang yang tahu semua
malam itu, Ayu di bawa ke kabupaten Ng**i, di perjalanan, Nur selalu melihat Ayu, matanya di tutup paksa dengan kain, melihatnya kadang membuat Nur merasa Ayu sadar ada dia di sampingnya.

namun tetap saja nihil, sampailah mereka di rumah orang yang menawarkan bantuan itu

sesampai disana, Ayu di tidurkan di atas pelepah daun pisang. yang kemudian, di masukkan dalam sebuah keranda, Nur yang melihat itu, mengatakan pada mas Ilham bahwa itu perbuatan tidak benar, namun, mas Ilham menolak. mengatakan mungkin masih bisa, mas Ilham sangat frustasi.
butuh waktu lama, sampai orang yang membantu tiba tiba, bangun dan mengatakan ia tidak sanggup.

Ayu, tidak dapat di selamatkan, kecuali, di bawa keluar dari pulau jawa. namun, hal itu, juga mustahil dilakukan.

“ayu gorong wayahe mati, dadi, keadaane yo bakal koyok ngene sampe wayahe mati” (ayu belum seharusnya meninggal, jadi dia akan terjebak seperti ini sampai waktunya tiba)

“di bawa saja ke pulau K********N, saya ada saudara disana” kata mas Ilham waktu itu.

“masalahe-

arek iki gak oleh cidek segoro, nek cedek segoro, isok di matekno” (masalahnya, anak ini di larang mendekati laut/samudera, bila tetap nekat dia mati)

“kan isok numpak pesawat” (kan bisa naik pesawat) kata mas Ilham,

“isok pesawat gak liwat segoro?” (memang bisa pesawat-

nya gak usah melewati laut)

setelah darisana itu, Ayu akhirnya di pulangkan, ia ada di rumah itu kurang lebih 3 bulan, sampai akhirnya menghembuskan nafas terakhir juga, setelah orang tua Ayu mengatakan sudah ikhlas, termasuk mas Ilham.

keikhlasan orang tua Ayu termasuk mencabut gugatan terhadap pihak kampus, dan juga sudah tidak mau menyalahkan siapapun, Ayu di kebumikan di makam keluarga, sembari di doakan, di situ, ibunya mengaku, sering melihat Ayu meneteskan air mata, dan inilah akhir cerita mbak Nur.
jadi gw bakal tutup Thread ini dengan pesan mbak Nur dan alasanya kenapa ia mau bercerita.

sejak awal, mbak Nur tidak begitu tertarik dengan unsur seram dalam ceritanya, ia ingin menyampaikan pesan yang terkandung di dalamnya, agar siapapun kita, tetap menjaga tata krama

ini bukan tentang, hal yang sepele, siapapun kamu, dimanapun kamu berada, sekali lagi, jaga sikap dan prilaku karena sesungguhnya sebagai tamu, selayaknya tetap bersiteguh pada warisan pendahulu kita yang mengutamakan sopan santun terhadap tuan rumah.
Iklan

Penyebab Spider-Man Tidak Lagi Muncul di MCU – Sony Vs Disney

spiderman.jpg

Sony menyatakan kekecewaan nya  karena tak bisa bekerja sama lagi dengan Disney dalam memproduksi film-film Spider-Man di masa depan.

Pernyataan ini dikeluarkan menyusul kegagalan perundingan antara Sony dan Disney dalam produksi film Spider-Man berikutnya. Kegagalan ini memicu perpisahan antara keduanya.

Menurut Deadline yang pertama kali memberitakan hal tersebut, Disney meminta agar film Spider-Man di masa depan dibiayai 50:50 oleh kedua studio. Namun permintaan tersebut ditolak oleh Sony. Sony justru memberikan tawaran untuk menjaga kesepakatan saat ini, di mana Marvel menerima di kisaran 5 persen dari first dollar gross (persentase pendapatan kotor box office di hari pertama rilis flim). Disney pun menolak penawaran tersebut. Dalam kerja sama saat ini, Marvel adalah pihak yang mengelola seluruh merchandising di Spider-Man.

Seperti yang kita ketahui sebelumnya bahwa , Pada tanggal 31 Agustus 2009, Walt Disney Company mengumumkan kesepakatan untuk mengakuisisi Marvel Entertainment seharga $4,24 miliar, dengan pemegang saham Marvel menerima $30 dan sekitar 0,745 saham Disney untuk setiap saham Marvel yang mereka miliki.

Sebelumnya Sony – pemilik hak atas Spider-Man – bekerjasama dengan studio Marvel – yang dimiliki Disney – untuk memasukkan Spider-Man dalam Semesta Sinematik Marvel ( Marvel Cinematic Universe atau MCU). Untuk mensinkronkan ke dalam jejeran MCU , tokoh Spiderman untuk pertama kali akhirnya muncul di  film Captain America: Civil War (2016).

Ini yang membuat kita kemudian bisa melihat karakter Spider-Man menjadi bagian dari seri The Avengers , termasuk judul yang paling sukses, The Avengers: End Game .

Sony menyatakan pihaknya berharap persoalan ini “bisa berubah di masa depan”.

Dalam rangkaian cuitan, Sony menyatakan terima kasih kepada Presiden Marvel Studio, Kevin Feige atas “bantuan dan petunjuk” dalam memproduksi film-film Spider-Man.

twitter sony

Feige memainkan peran sangat besar dalam kesuksesan dua film terakhir Spider-Man – yang dibintangi oleh aktor Inggris Tom Holland – termasuk ketika menggabungkan karakter ini ke dalam The Avengers dan Marvel Cinematic Universe secara keseluruhan.

Film Spider-Man terakhir, Spider-Man: Far From Home juga diproduksi oleh Feige dan merupakan film produksi Sony Pictures yang paling sukses dalam meraih penjualan tiket.

Spider-Man aslinya adalah karakter komik yang diterbitkan oleh penerbit Marvel. Tahun 1999 , Sony membeli hak untuk mengadaptasi karakter ini ke dalam bentuk film.

Sejak saat itu, Sony telah membuat lima film yang menampilkan karakter Spider-Man, yap, film spiderman yang pertama kita tahu sebelum masuk ke MCU. Tiga film diperankan oleh Tobey Maguire (Spiderman 1-3 )  dan dua lagi diperankan oleh Andrew Garfield. (The Amazing Spiderman 1-2 )

Pada tahun 2015 Sony menandatangani kesepakatan dengan Disney, serta anak perusahaannya Marvel Studios, untuk memasukkan karakter Spider-Man, dan tentu saja Peter Parker, sebagai bagian dari MCU.

Laman artikel hiburan, Deadline, melaporkan bahwa selama beberapa bulan terakhir Disney dan Sony “tidak dapat” mencapai kesepakatan baru terkait pendanaan film-film Spiderman di masa mendatang.

Kabar ini diperkuat oleh pengumuman Marvel dalam perhelatan Comic Con bulan lalu bahwa film-film dan beragam pertunjukannya tidak lagi menampilkan Spiderman.

Kesepakatan ini bermakna: Disney akan turut memproduksi dan berbagi keuntungan dari film-film yang menampilkan Spider-Man.

Kesepakatan inilah yang berakhir. Menurut Variety , media spesialis industri film, Disney meminta bagian produksinya ditingkatkan lagi menjadi 50:50, dan Sony menolak usulan itu.

Sebelum kesepakatan ini batal, Spider-Man telah muncul di lima film Marvel Cinematic Universe:

  • Captain America: Civil War (2016)
  • Spider-Man: Homecoming (2017)
  • Avengers: Infinity War (2018)
  • Avengers: Endgame (2019)
  • Spider-Man: Far From Home (2019)

Dengan batalnya kesepakatan ini, maka kemunculan Spider-Man sebagai bagian dari MCU akan jadi pertanyaan besar, jika tidak bisa dibilang tak akan ada lagi.

Posisi Tom Holland sebagai bagian dari The Avengers juga berakhir.

Mengomentari hal ini, aktor Jeremy Renner, yang bermain sebagai karakter Hawkeye, memasang status di Instagram, meminta Spider-Man kembali ke Marvel.

 

Dalam perhelatan Comic-Con bulan lalu di San Diego, California, Marvel mengumumkan proyek film mereka tanpa menyebut-nyebut Spider-Man . So Sad 😦

sumber :

https://www.bbc.com/indonesia/amp/majalah-49416682

Cara Menyikapi Haters Versi Pandji Pragiwaksono

Penyebab Sebenarnya Polusi Jakarta yang Buruk

Udara Jakarta

Ibu kota memang menyediakan banyak lapangan kerja, tapi kondisinya tidak cukup baik  baik bagi warganya.

Berdasarkan hasil pemantauan Air Quality Indeks (AQI) atau Indeks Kualitas Udara Global Airvisual, Kota Jakarta menempati peringkat pertama pemilik udara terburuk sedunia dalam beberapa hari belakangan ini. Hasil pemantauan, kualitas udara di Jakarta dinyatakan paling tidak sehat.

Kota metropolitan ini masuk di posisi 22 kota paling berpolusi (udara) di dunia. Pada Sabtu (3/8/2019) AQI Jakarta mencapai angka 152 dengan konsentrasi polusi PM2.5 sebesar 57.5 µg/m³; dua kali lipat lebih tinggi dari batas udara bersih versi Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Trus apa sih yang menjadi penyebab buruknya polusi di Jakarta?

MUSIM KEMARAU.

Pelaksana Harian (Plh) Deputi ‎Deputi Bidang Klimatologi BMKG – Nasrullah menjelaskan dugaan sementara penyebab buruknya udara di Jakarta dalam beberapa hari belakangan ini. Salah satu penyebabnya, adalah musim kemarau yang berkepanjangan.

“Pada musim kemarau, kualitas udara memang dapat memburuk karena ketiadaan hujan dapat mengurangi pengendapan (pencucian polutan di udara oleh proses rain washing)‎,” kata Nasrullah dalam keterangan resminya kepada Okezone, Selasa (30/7/2019). Menurut Nasrullah, ‎bulan Juni hingga September merupakan waktu-waktu dimana konsentrasi partikulat polutan lebih tinggi dibandingkan bulan bulan lainnya. Terlebih, pada bulan tersebut, Jakarta masih belum diguyur hujan yang menyebabkan udara yang stagnan. “Pada musim kemarau, terutama pada hari-hari sudah lama tidak terjadi hujan, udara yang stagnan, cuaca cerah, adanya lapisan inversi suhu, atau kecepatan angin yang rendah memungkinkan polusi udara tetap mengapung di udara suatu wilayah dan mengakibatkan peningkatan konsentrasi polutan yang tinggi,” paparnya.

 

JUMLAH VOLUME KENDARAAN TINGGI.

Menurut Ketua Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia, Agus Dwi Susanto mengungkapkan bahwa polusi udara terjadi akibat jumlah kendaraan bermotor di perkotaan yang sangat tinggi. Tingginya jumlah kendaraan bermotor di perkotaan menyebabkan masyarakatnya memiliki konsekuensi terpapar polutan berbahaya, dari gas emisi kendaraan maupun partikal debu di jalan,” tutur Agus dalam diskusi bersama NexcareTM di Jakarta, Senin (5/8/2019). Polusi udara dapat diklasifikasikan menjadi dua yakni di dalam ruangan dan luar ruangan. Dalam kasus indeks udara buruk di Jakarta, pemicunya utamanya adalah polusi udara yang terjadi di luar ruangan, seperti dari asap kendaraan dan sebagainya.

“Sumber terbesar polusi udara 80 persen sumber polusi udara luar ruangan, kendaraan bermotor. Kemudian nomer dua akibat industri, yang ketiga domestik produk misalnya, masyarakat membuang sampah,” jelasnya. Tingginya gas emisi kendaraan bermotor menjadi sumber polusi utama di Jakarta. Banyaknya jumlah kendaraan di Ibu Kota menyebabkan kualitas udara menjadi buruk. Hal tersebut tentunya berdampak bagi kesehatan masyarakat. Pada jam-jam sibuk di pagi hari nilai konsentrasi partikel PM10 tinggi lantaran beban transportasi. Sementara konsentrasi partikel PM2.5 akan menurun jelang tengah hari.

 

SOLUSI?

PERBANYAK RUANG HIJAU.

BMKG juga menyarankan agar  pemerintah memperbanyak ruang hijau untuk menyerap polutan. Serta, mengatur rekayasa lalu lintas agar tidak terjadi kepadatan kendaraan di jam-jam tertentu. Sebab, BMKG melihat kualitas udara terburuk di Jakarta terjadi pada pagi hari atau ketika banyak orang berpergian untuk bekerja.

“Masyarakat juga dapat mendukung langkah-langkah tersebut dengan semakin meningkatkan kesadaran lingkungan yang dibuktikan dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, mengutamakan kendaraan umum, gemar melakukan penghijauan lingkungan dengan konsep urban farming,” ucapnya

PERLUASAN GANJIL-GENAP.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memberlakukan perluasan ganjil genap (gage) sebagai tindak lanjut Intruksi Gubernur Nomor 66 Tahun 2019 tentang Pengendalian Kualitas Udara. Total saat ini ada 25 ruas jalan yang diberlakukan kebijakan ini. Kebijakan ini kemudian mendapat respons beragam dari warga ibu kota.

Seperti Adi Wildansyah, 32, mengatakan setuju dengan gage diperluas. Dengan demikian bisa mendorong masyarakat beralih ke transportasi umum. Sehingga kemacetan bisa dikurangi. “Saya dukung. Biar orang-orang pindah ke transportasi umum. Tapi transportasi umumnya dikasih insentif lah, kayak MRT dimurahin,” ujar Adi di Semanggi, Jakarta Selatan, Kamis (8/8).

Kebijakan ini juga dinilai Adi bisa mengurangi polusi udara yang sudah cukup parah mendera kota Jakarta. Tapi, menurut dia perluasan gage harus diimbangi dengan pelayanan transportasi umum yang memadai serta ramah terhadap isi dompet warga. “Justru bagus. Polusi udara kan katanya Jakarta tertinggi di dunia. Jadi bagus (kalau gage diperluas),” tambahnya.

 

 

sumber:

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190716120956-199-412502/3-faktor-penyebab-turunnya-kualitas-udara-jakarta

https://tirto.id/ragam-polusi-air-langka-alasan-untuk-hengkang-dari-jakarta-efR5

https://www.liputan6.com/health/read/4030320/penyebab-utama-polusi-udara-di-perkotaan

Cara Foto Terbaik di Instagram Agar Viral

IG

 

Ide-ide ini pun bakal murah dan tak butuh banyak biaya untuk mewujudkannya. Modalnya pun hanya gagasan cemerlang yang bisa Anda kembangkan terus-menerus. Berikut cara mengambil foto agar hasilnya bisa dapat banyak like/koment bahkan bisa viral di instagram! Silakan simak di video berikut ini :

 

 

Gugatan Prabowo Ditolak! Ini Hal Menarik Selama Sidang MK

Banyak dinamika yang terjadi dalam persidangan MK Hasil Sengketa Pilpres 2019 ,Tak hanya soal ketegangan atau adu pertanyaan-argumentasi di ruang sidang, tapi juga ada momen menarik dan lucu sehingga menjadi viral.

Hasil gambar untuk sidang mk

Berikut ini sejumlah hal menarik yang terjadi pada sidang pendahuluan sengketa pilpres 2019 :

 

1. Saksi sebut hakim MK dengan baginda

Hairul Anas S, saksi dari tim paslon Prabowo Subianto-Sandiaga menyebut hakim MK dengan sebutan “baginda”, arti kata ‘baginda‘ itu sendiri di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah  gelar atau sebutan raja (artinya yang berbahagia dan mulia). Keponakan mantan Ketua MK Mahfud MD itu, beberapa kali kepleset lidah dalam persidangan yang berlangsung Kamis (20/6/2019) dini hari. Sadar salah ucapannya salah, Hairul Anasmeralatnya. “Maaf baginda, eh maksudnya yang mulia,” kata Anas.

Kebiasaan Anas itu membuat Hakim Konstitusi I Dewa Gede Palguna menjadi sungkan dan mengingatkan Anas tak lagi menyebut hakim dengan istilah baginda. “Jangan baginda lah, nanti saya dikira raja lagi,” kata Palguna sambil tertawa.

 

2. Sikap Majelis Hakim

Saat membuka persidangan, Ketua Mahkamah Konstitusi Anwar Usman menyampaikan dengan tegas bahwa sembilan hakim konstitusi tidak pernah takut dan tunduk kepada siapa pun. MK tidak dapat diintervensi oleh siapa pun. “Seperti yang pernah kami sampaikan bahwa kami tidak tunduk pada siapa pun dan tidak takut pada siapa pun,” ujar Anwar. Menurut Anwar, MK merupakan lembaga independen yang terpisah dari tiga lembaga kekuasaan lain, seperti Presiden, DPR, dan Mahkamah Agung. Anwar meyakinkan bahwa dalam memutus perkara hasil pemilihan umum, MK akan bersikap independen dan memutus sesuai konstitusi. Pakar hukum tata negara Bayu Dwi Anggono mengatakan pernyataan itu seolah ditujukan kepada tim hukum 02. Sebab, tim hukum 02 pada awal pendaftaran sempat meminta MK bisa menempatkan diri agar tidak jadi bagian dari rezim korup. “Pernyataan kuasa hukum 02 bahwa MK bagian rezim tertentu itu dijawab tuntas, cash, oleh majelis hakim,” ujar Bayu. Apalagi di media sosial sudah mulai muncul tuduhan untuk para hakim MK. Bayu mengaku pernah melihat unggahan di medsos berupa foto Ketua MK sedang bersalaman dengan Presiden Jokowi saat disumpah. Kemudian, muncul anggapan bahwa MK tunduk kepada pemerintah. “Ini yang dijawab hakim bahwa MK adalah kekuasaan yang mandiri dan tidak tunduk pada siapa pun,” kata Bayu.

 

3. Fokus pada kecurangan TSM (Terstruktur, Sistematis , Masif)

Hal menarik lain adalah isi petitum dari permohonan gugatan tim hukum 02 salah satunya adalah meminta MK menetapkan Prabowo-Sandiaga sebagai pemenang pilpres. Kemudian, menetapkan bahwa hasil suara yang sah adalah versi pemohon, yaitu 52 persen untuk Prabowo-Sandi dan 48 persen untuk Jokowi-Ma’ruf. Namun, pada dua jam pertama, tim hukum 02 justru fokus membacakan tuduhan soal kecurangan pemilu yang terstruktur, sistematis, dan masif.  Hal ini dianggap tidak wajar oleh pakar hukum tata negara Bayu Dwi Anggono. Menurut dia, seharusnya konstruksi permohonan dimulai dari penjelasan soal kesalahan penghitungan yang dilakukan termohon terlebih dahulu. “Harusnya itu yang diulang panjang lebar. Tetapi saya amati ternyata hampir dua jam pertama bukan malah bicara bagaimana kesalahan hitung terjadi dan kenapa yang benar itu penghitungan pemohon. Tapi malah kenapa MK itu berwenang mengurus kecurangan pemilu,” ujar Bayu. Sementara itu, argumen mengenai kesalahan hitung oleh KPU hanya dijelaskan selama 30 menit.

 

4. Ghost voter jadi Ghost Rider

Kejadian kepleset lidah rupanya dialami satu di antara kuasa hukum paslon 01, Taufik Basari. Saat itu, Taufik Basari tengah menambahkan keterangan yang sebelumnya disampaikan Yusril Ihza Mahendra. Di tengah-tengah pernyataannya, Taufik yang seharusnya menyebut kata ghost voter atau pemilih siluman, justru mengatakan ghost rider.

“Dan tadi sudah disampaikan oleh Prof Yusril bahwa Saudara juga sudah mengoreksi soal istilah ‘ghost rider’ yang belum tentu memakai, menggunakan, suaranya, tapi Saudara kurang…” kata Taufik. Sadar ada yang keliru dengan ucapannya plus diingatkan oleh rekan sesama pengacara lain, Taufik meralat ucapannya. “Eh sorry, ghost voter,” katanya sembari terkekeh.

 

5. Saksi minta izin buang air kecil

Masih dari persidangan yang menghadirkan saksi dari tim 02, adalah Idham Amiruddin yang menjadi sumber peristiwa mengocok perut, Rabu (19/6/2019).Bahkan karena ulahnya, hakim MK sempat terpingkal hingga sidang diskors sementara selama lima menit.

Bermula saat Idham yang memberikan keterangan dan menyebut adanya rekasaya data kependudukan dalam daftar pemilih tetap (DPT) yang dipakai dalam Pemilu 2019. Saat dimintai keterangan oleh hakim Saldi Isra atas pertanyaan dari KPU, Idham Amiruddin hanya menunduk sambil memejamkan mata. “Pak Idham bisa lihat saya ya?” panggil Saldi Isra. Sambil meringis, Idham Amiruddin meminta izin kepada Saldi Isra untuk buang air kecil.

“Yang mulia saya minta maaf, saya mau buang air kecil,” celetuk Idham Amiruddin.

Saldi Isra sontak terpingkal dan hakim MK lainnya, Arief Hidayat meminta petugas keamanan untuk mendampingi Idham Amiruddin ke toilet.

 

6. Hakim MK Ancam Usir Keluar Bambang Widjojanto dari Ruang Sidang

Hakim Mahkamah Konstitusi Arief Hidayat mengancam akan mengusir Ketua tim kuasa hukum Prabowo-Sandi, Bambang Widjojanto, dari ruang sidang karena memotong jawaban dari saksi saat diberi pertanyaan oleh hakim.

Awalnya Arief Hidayat menanyakan kepada saksi kedua yang dihadirkan pemohon, Idham, tentang kesaksian yang akan diberikan serta keberadaan saksi terkait kesaksiannya, Rabu (19/6/2019).

Selanjutnya Idham yang merupakan seorang konsultan menjawab berada di kampung, tetapi akan memberikan kesaksian tentang daftar pemilih tetap (DPT) tingkat nasional yang didapatnya dari DPP Partai Gerindra.

“Kalau anda dari kampung mestinya yang anda ketahui kan situasi di kampung itu, bukan nasional kan,” tutur Arief Hidayat.

Bambang Widjojanto memotong dengan mengatakan saat seseorang berada di kampung tetap dapat mengakses informasi dari mana saja.

“Mohon maaf, saya di kampung, tetapi saya bisa mengakses dunia melalui kampung, Pak. Bapak sudah men-judgement seolah-olah orang kampung tidak tahu apa-apa, juga tidak benar,” kata Bambang.

Saat hakim hendak menjawab, Bambang terus memotong dan meminta hakim untuk mendengarkan kesaksian terlebih dahulu sehingga hakim menegur Bambang agar diam dan membiarkan hakim berdialog dengan saksi.

“Begini Pak Bambang, saya kira sudah cukup, saya akan dialog dengan dia. Saya mohon juga Pak Bambang diam, kalau tidak setop Pak Bambang saya suruh keluar,” kata Arief Hidayat.

Bambang Widjojanto kemudian menyebut akan menolak apabila hakim melakukan tekanan, khususnya kepada saksi yang dihadirkan. Hakim selanjutnya menegur kembali Bambang untuk diam agar dialog dengan saksi dapat diteruskan.

 

 

Begini Cara Agar Instagram Verified (Centang Biru)

Hasil gambar untuk instagram verified badge

Pernah enggak sih kalian bertanya2  gimana sih akun instagram bisa centang biru? apakah harus akun yang memiliki follower banyak dan mesti jadi selebgram/publik figur dulu?

Jawabanya, ga dong! Kamu mungkin bisa kayak mereka juga walau ga harus jadi selebgram atau publik figur dulu.  Lalu apa sih fungsi akun Instagram yang memiliki lencana seperti itu di sebelahnya? Lencana ini tidak hanya berfungsi agar Instagram kita kelihatan keren serta diakui oleh instagramer lain, tapi dengan lencana ini, kita bisa tahu akun mana yang asli dan mana yang palsu sehingga teman-teman kita tidak akan tertipu.

Persyaratan Mendaftar untuk Lencana Verifikasi

Dilansir dari situs resmi Instagram, ada beberapa persyaratan yang harus kamu penuhi agar mendapatkan lencana verifikasi.

Persyaratan inilah yang akan menjadi bahan pertimbangan Instagram dalam memberikan lencana verifikasi. Setidaknya ada empat persyaratan yang diminta oleh Instagram:

  1. Autentik: Akun yang kamu daftarkan harus benar-benar mewakili orang, bisnis, ataupun entitas lainnya yang benar-benar nyata.

  2. Unik: Akun yang kamu daftarkan harus mewakili orang atau bisnis secara unik. Apa artinya? Hanya akan ada satu akun untuk tiap orang atau bisnis yang bisa diverifikasi. Tapi ada pengecualian geng untuk bahasa tertentu.

  3. Lengkap: Akun yang kamu daftarkan harus memiliki bio, foto profil, foto profil, dan setidaknya satu postingan. Selain itu, akun kamu harus publik dan tidak boleh privat.

  4. Mudah diingat: Yang jelas, akunmu harus mudah diingat dan banyak dicari oleh orang lain. Pihak Instagram akan melakukan peninjauan akun yang ditampilkan di berbagai sumber berita.

Cara Mendapatkan Lencana Verifikasi

Jika kamu sudah tahu persyaratan apa saja yang dibutuhkan, saatnya masuk ke langkah-langkah mengajukan permohonan untuk mendapatkan lencana verifikasi.

  1. Masuk ke profil akun yang ingin diverifikasi.

  1. Tekan ikon garis tiga yang terletak di pojok kanan atas, pilih Pengaturan.8e7ec77f-55a1-41cb-a187-03c24b37acda

  1. Pilih menu Akun.

WhatsApp Image 2019-06-23 at 22.08.25
  1. Pilih menu Minta Verifikasi.c045062f-ae1a-47a0-ba41-26746414bb1d

  1. Kamu akan diminta oleh pihak Instagram untuk mengisi beberapa data seperti nama dan foto kartu identitas (KTP, SIM, paspor) sebagai bukti bahwa kamu benar-benar pemilik akun tersebut.

7edb8e32-212b-4ed8-adbb-96f0f98c46ae

 

Yang Terjadi Setelah Mendapatkan Lencana Verifikasi

Instagram akan meninjau permintaan verifikasi untuk mengonfirmasikan keaslian, kelengkapan, dan kelayakan setiap akun.

Setelah Instagram melakukan peninjauan terhadap akunmu, kamu akan mendapatkan pemberitahuan beberapa hari kemudian.

Apabila pengajuanmu ditolak, artinya ada persyaratan yang tidak terpenuhi. Kamu bisa mengajukan ulang setelah 30 hari kemudian.

Seandainya berhasil, kamu perlu ingat bahwa Instagram berhak untuk mencabut lencana verifikasi apabila kamu melakukan salah satu dari ketiga hal di bawah ini:

  • Mengiklankan, mentransfer, atau menjual lencana verifikasi.

  • Menggunakan bagian foto profil, bio, atau nama untuk mempromosikan layanan lain.

  • Mencoba menverifikasi akun melalui pihak ketiga.

Selamat mencoba!

Keuntungan Sistem Zonasi Sekolah

Kebijakan sistem zonasi pada proses penerimaan peserta didik baru ( PPDB) yang baru saja disosialisasikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan masih menuai polemik bagi pihak.

 

Halangan untuk masuk ke sekolah favorit?

Kebijakan zonasi penerimaan murid SMA ini bagus. Menghapus kartel dan oligarki sekolah favorit. Studi2 saintifik menunjukkan sekolah favorit itu ilusi. Sekolah yang mendapat label favorit karena muridnya semua sudah pintar. Bukan karena sekolahnya bagus. Kepalsuan tahunan yg layak dihancurkan.

Di setiap kota, biasanya selalu ada SMA Favorit, biasanya SMA 1, 3 atau 5 tergantung takdirnya. Konon kabarnya sekolah favorit itu lebih “unggul kualitasnya”. Apakah memang kualitas guru dan proses belajarnya mereka emang lbh unggul? Belum tentu.

Sekolah bagus itu yang bisa ubah murid dg nilai awal 5 jadi 9. Kalau sejak awal murid2nya sudah punya nilai 9 lalu lulus dg nilai 9, apa bagusnya? Sekolah SMA favorit itu benar2 mitos dan dagelan yg dipelihara bertahun2. Zonasi lenyapkan ilusi tersebut

Sekolah itu jadi favorit bukan krn kualitasnya lebih bagus TAPI krn tiap tahun selalu dapat murid2 yg dari sononya sdh pintar. Jd sekolah itu jd “unggulan” bukan krn mutu guru dan proses belajarnya yg bagus. Namun krn selalu dapat bibit unggul sejak awal..

Sistem zonasi akan melenyapkan monopoli bibit unggul yg bertahun2 lama dinikmati sekolah favorit. Zonasi akan menciptakan “distribusi kecerdasan” secara lebih merata. Ini penting! sebab kompetisi antar SMA akan menjadi lebih fair dan seimbang. Tidak akan timpang seperti selama ini.

Saat bibit unggul bisa disebar secara merata, maka harapannnya kualitas SMA jg bisa lebih merata. Tidak lagi timpang. Kompetisi antar SMA akan lebih fair, berlangsung dengan lebih seru dan ini pasti akan berdampak positif bagi keseluruhan players dalam sebuah sistem.

Kenapa sistem ini belum efektif? Pemberlakuan kebijakan sistem zonasi berdasarkan zona area tempat tinggal dipercaya belum disertai oleh kesiapan sumberdaya sekolah di daerah pinggiran! nah sehingga malah menuai pro dan kontra masyarakat.

Sebenarnya kebijakan sistem zonasi ini bukan merupakan hal baru diterapkan sistem pendidikan di negara lain. Sistem penerimaan siswa baru berdasarkan zona tempat tinggal sudah dilaksanakan beberapa negara lain seperti Inggris, Amerika, Australia, Finlandia, Kanada, Jepang, dan negara-negara maju lainnya.

Gambar terkait

Pemerataan kualitas

Sistem zonasi ini bertujuan memberikan pemerataan pendidikan kepada seluruh masyarakat hingga di remote area. Selain itu, sistem ini memberikan kemudahan bagi pihak sekolah untuk memastikan bahwa seluruh anak usia sekolah di area tersebut terdaftar di sekolah. Serupa dengan tujuan sistem zonasi di negara luar, sejatinya sistem zonasi pada PPDB bertujuan untuk melakukan pemerataan kualitas sumberdaya manusia di berbagai area di Indonesia. Kebijakan ini membuka kesempatan yang luas bagi tercapainya keadilan sosial bagi rakyat Indonesia. Sistem zonasi ini bertujuan untuk mempersiapkan seluruh generasi bangsa Indonesia untuk mengenyam pendidikan yang layak demi adanya perubahan positif bagi bangsa ini dalam jangka panjang. Selain itu melalui kebijakan zonasi pemerintah berharap prangtua dan peserta didik dapat memperoleh manfaat secara finansial dan kualitas akademik.

Manfaat bagi orangtua

Hasil penelitian terhadap kebijakan zonasi sekolah di Inggris (2014) menunjukkan bahwa pemberlakuan kebijakan bersekolah di area tempat tinggal juga dapat meningkatkan kualitas akademik peserta didik. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya intensitas gangguan dari lingkungan luar yang dapat memberikan dampak negatif pada performa akademik siswa. Penerapan sistem pendidikan berdasarkan zonasi juga dipercaya dapat menyediakan ruang pengawasan lebih baik bagi para orang tua terhadap anaknya. Orang tua dapat dengan mudah memberikan pengawasan pasca kegiatan belajar mengajar di sekolah selesai. Sehingga harapannya, dengan adanya pengawasan yang komprehensif dari guru di sekolah dan orang tua di rumah, berbagai kasus kekerasan terhadap anak, kenakalan remaja, narkoba, pergaulan bebas, pornografi, hingga doktrinasi radikalisme yang terjadi akibat peralihan waktu pengawasan oleh sekolah ke keluarga yang terkadang tidak sinkron dapat diminimalisasi.